Danau Yonelo. Sumber Foto : halmaherapost.com

Aktivitas dua perusahaan tambang di Danau Yonelo membuat air menjadi keruh. Warga pun kesulitan mencari kerang yang menjadi sumber pendapatan mereka.

Perempuan Desa Sagea, Weda Utara, Halmahera Tengah, belakangan mengeluh karena kerap pulang dengan tangan kosong setelah pulang dari Danau Yonelo. Kerang yang biasa mudah didapat di pinggiran danau itu kini nyaris tak ada lagi. Kerang itu pergi seiring dengan kian keruhnya air danau karena aktivitas dua tambang Nikel, yakni PT Zhong Hai Rare Metal Mining dan PT First Pacific Mining Indonesia. 

Keluhan perempuan Desa Sagea itu sampai ke telinga akademisi Muhammadiyah Muhammadiyah Maluku Utara, Masri Anwar. Padahal kerang merupakan kekayaan danau yang selama ini menjadi sumber pendapatan mereka. Selain menjadikan konsumsi pribadi,  para perempuan di Desa Sagea biasanya membuat abon dari kerang yang diambil dari danau dan kemudian dijual. 

Namun, keadaan tersebut kini berubah.  “Perusahaan itu hadir dan dia (danau) keruh, maka ibu-ibu itu sudah sulit untuk mencari kerang,” kata pria berusia 37 tahun tersebut kepada Hakasasi.id

Danau Yonelo atau Telaga Legaye Lol danau berukuran panjang 2,5 kilometer dan lebar 2,4 kilometer ini merupakan danau air payau yang dikelilingi bukit dan hutan. Sementara pohon bakau tumbuh menghiasi sisi-sisi danau. Dulu sebelum kedatangan dua perusahaan airnya jernih. 

“Airnya tidak pernah keruh walaupun itu (turun) hujan,” ucap dia. 

Perusahaan yang dimaksud Masri adalah perusahaan eksplorasi nikel yang beroperasi di dekat Danau Yonelo. Riset mini Sitna Hajar Baay bersama Lokataru Foundation menjelaskan PT. Zhong Hai mengantongi dua izin pertambangan berstatus operasi produksi, dengan cakupan wilayah seluas 688 hektar dan 118 hektare, yang beroperasi hingga 2029. Sedangkan PT. First Pacific Mining Indonesia mengantongi izin dengan cakupan wilayah seluas 2.080 hektar dengan masa operasi hingga 2023.

Dua perusahaan ini lah yang diduga kuat menjadi penyebab keruhnya air Danau Yonelo. Pasalnya, dua perusahaan tersebut diketahui tak memiliki sediment pond atau kolam yang digunakan untuk mengendapkan bahan-bahan dari air buangan tambang.

Pada 2014 silam, warga termasuk Masri memprotes keberadaan perusahaan. Gara-gara protes itu operasi di perusahaan sempat berhenti meski hanya beberapa hari. Meski begitu, perusahaan tetap beroperasi kembali.

Sementara itu, hingga kini warga belum pernah melihat dokumen Analisis Masalah dan Dampak Lingkungan (AMDAL) kedua perusahaan tersebut.

Masri menyayangkan sikap abai perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan, padahal banyak warga yang menggantungkan hidup dari danau tersebut. Selain mencari kerang, warga juga biasanya mengambil ikan bandeng yang memang menjadi primadona desa. “Misalkan sedang musim ombak besar di lautan, maka danau itu menjadi satu alternatif,” kata Masri.

Sementara itu, di sekitar danau, warga biasa bercocok tanam, seperti menanam cengkeh, pala, kelapa, tomat, atau juga cabai. Juga cempedak yang dianggap sebagai tanaman komunal yang boleh diambil semua orang di desa, terutama di waktu panen. Sementara itu, warga juga biasa mencari kayu di hutan bakau yang terdapat di danau.

Tak hanya sebagai tempat menyambung hidup, di salah satu titik Danau Yonelo terdapat tempat yang dikeramatkan warga. Situs tersebut merupakan makam salah satu keturunan Sultan Jailolo. Menurut Masri warga masih melakukan ritual di tempat tersebut.

Danau tersebut begitu penting bagi warga. Oleh karena itu, warga berharap operasi perusahaan bisa berhenti dan mulai bersikap transparan soal dampak lingkungan akibat aktivitas tambang, supaya warga bisa kembali menyambung kehidupan dari danau tersebut.

Danau telaga itu semacam menjadi ketergantungan kehidupan masyarakat di situ,” kata Masri.