“Pejabat Bebas Ngomong, Warga Cuma Gambar Kok Ditangkap?”

-Haris Azhar

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-76 ini tak cukup dirayakan dengan  formalitas tahunan upacara dan lomba-lomba. Warga perlu menguji, apakah kemerdekaan benar-benar dirasakan.

Catatan buramnya kebebasan berpendapat membayangi perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-76. Sebut saja penyelidikan polisi atas mural ‘404: Not Found’ dengan muka Presiden Joko Widodo di Tangerang beberapa waktu lalu. Lalu ada juga pembuat mural ‘Tuhan Aku Lapar’ yang didatangi polisi, walau diberi beras tapi kehadiran polisi dirasa mencekam oleh si pembuat mural.

Selain itu ada banyak mural yang dihapus paksa karena menyuarakan protes di daerah. Direktur Lokataru, Haris Azhar, menganggap perilaku aparat negara semacam ini membuat perayaan kemerdekaan hanya pemanis mulut, nyatanya negara berlaku represif kepada warganya. 

Jangan-jangan kemerdekaan hanya punya penguasa. Buktinya pejabat ngomong bebas. Tapi warga kalau gambar dia pasti ditangkap,” kata Haris dalam NgeHAMtam bertajuk “Buat Apa Bangsa Merdeka, Kalau Rakyat Tidak Merdeka?” edisi 17 Agustus 2021.

Belum lagi kasus lain seperti Papua, pemerintah mencoba meredam kelompok kemerdekaan di wilayah tersebut. Namun, upaya yang dilakukan kerap kali menggunakan pendekatan kekerasan yang membuat warga sama sekali tak empati dan mengancam hak akan rasa amannya terancam.

Kita minta orang Papua tidak boleh merdeka, tapi dalam kesatupaduan kita sebagai Indonesia, orang Papua enggak dikasih hak, orangnya dipukul, tapi sumber daya alamnya dikeruk, yang menikmati hanya kelompok elit, baik kelompok elit di Papua, maupun elit yang ada di Jakarta,” kata Haris.

Oleh karena itu, ia mempertanyakan siapa sesungguhnya yang memiliki kemerdekaan tersebut.

Pasalnya menurut Haris, konstitusi Indonesia sebetulnya membawa semangat hak asasi manusia. Dan pemerintah selaku penyelenggara negara wajib menjalankan berbagai hak-hak warganya.

Haris pun mengimbau peringatan kemerdekaan Indonesia harus diisi dengan upaya menguji, bahwa benar negara sudah mengupayakan hak-hak warganya.

Buat apa bangsa merdeka kalau rakyatnya, hak-haknya tidak terpenuhi?” tutupnya.