Sumber foto : tempo.co

Hunian sementara bagi Warga Kampung Bayam, Pademangan, Jakarta Utara, jauh dari kata layak. Nasib mereka terkatung di bekas pabrik seluas 4 hektar.  Proyek Jakarta International Stadium (JIS) pun menggilas kampung pertanian di utara Jakarta.

Hunian sementara (Huntara) ini berdiri di sebidang tanah bekas pabrik dengan luas 4 hektar. Di sana berdiri 50 rumah setengah jadi yang bahan-bahannya berasal dari sisa-sisa rumah lama mereka di Kampung Bayam Lama. Atap-atap rumah biasanya dilapisi oleh genting atau asbes dan pilar-pilarnya berasal dari sokongan bambu. 

Sebanyak 50 KK hidup berdampingan di ujung Jalan Tongkol, Pademangan, Jakarta Utara. Tempat hidup sementara itu terletak di ‘kaki’ proyek stadion di tanah milik Pemprov DKI Jakarta, Jakarta International Stadium (JIS). Para warga menyebutnya Kampung Bayam Sementara.

JIS sendiri digadang-gadang menjadi stadion bertaraf internasional dengan biaya ditafsir mencapai 5 triliun, mega stadion itu nantinya akan menampung 82.000 penonton. 

Sejak PT. JakPro mengumumkan megaproyek ini ini pada April 2019, Kampung Bayam lama menjadi porak poranda dan dari 600 KK terdampak, sebagian besar meminta ganti rugi dan menyisakan sebagian lainnya yang masih menanti titik terang janji hunian permanen.

Sisanya adalah 50 KK yang menanti pemberian ganti rugi dan tempat tinggal tetap yang dijanjikan pemerintah yang belum kunjung diberikan. CNN Indonesia menuliskan santunan yang diberikan kepada kepala keluarga pemilik bangunan di Kampung Bayam berkisar Rp 28-40 juta dan bagi masyarakat yang mengontrak, dan dibayarkan Rp 4-6 juta secara bertahap.

Mayoritas warga Kampung Bayam yang memilih tinggal, adalah mereka yang tadinya bekerja sebagai petani dan kini harus kehilangan pekerjaan. 

Namun bertahan bukan soal mudah. Air bersih lenyap dari kampung mereka karena sudah terkontaminasi limbah buangan proyek, sehingga air berbau dan keruh. Soal sanitasi pun sangat buruk.

Semenjak pembangunan Stadion, anak-anak dengan rentang usia PAUD dan TK kehilangan sarana pendidikan dan tempat bermain. Terdapat 44 anak di kampung itu, lima diantaranya masih berusia di bawah 4 tahun. 

Meskipun warga Kampung Bayam telah mendapatkan lokasi baru untuk tinggal, mereka masih menanti pemenuhan janji hunian permanen yang masih dalam perencanaan dari Pemprov dan PT. JakPro.

Dalam penelusuran yang dilakukan, Nada Salsabila, peneliti dari Lokataru Foundation, memaparkan bahwa Kampung Bayam sebelumnya adalah bentuk pertanian tengah kota.

“Dulu semua bekerja dan mengandalkan pertanian, sekarang semenjak ada proyek banyak yang beralih profesi sebagai pekerja serabutan. Keadaannya semakin parah semenjak pandemi di Indonesia,” tulisnya dalam penelitian bersama Lokataru Foundation.