Danau Yonelo. Sumber Foto : halmaherapost.com

Telaga Yonelo di Halmahera Tengah, Maluku Utara, seharusnya berwarna bening dengan pepohonan rindang di sekelilingnya. Namun operasi dua perusahaan tambang nikel membuatnya keruh dan pepohonan di salah satu bukit dibabat. 

Dulu dasar telaga dengan ukuran panjang 2,5 km dan lebar 2,4 km ini bisa dilihat dari permukaan. Penduduk perkampungan Sagea, Kecamatan Weda, pun biasa mencari ikan bandeng di telaga berair payau itu. Mereka juga menggantung kebutuhan hidup dengan mencari hasil hutan di sekitar danau.

Namun operasi dua perusahaan tambang kini mengancam telagaini, yakni PT Zhong Hai Rare Metal Mining dan PT. First Pasific Mining Indonesia. Mereka membabat hutan di bukit sekitar danau. Selain itu pemuatan bijih nikel di Sungai Yonelo diduga kuat membuat air yang menghubungkan telaga dengan pesisir menjadi keruh. 

Data Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat PT. Zhong Hai mengantongi dua izin pertambangan berstatus operasi produksi, dengan cakupan wilayah seluas 688 hektar dan 118 hektare, yang beroperasi hingga 2029. Sedangkan PT. FPM mengantongi izin dengan cakupan wilayah seluas 2.080 hektar dengan masa operasi hingga 2023.

Penelitian Sitna Hajar dan Lokataru Foundation menuliskan jarak perusahaan tambang dengan danau terlalu dekat, sekitar 100-200 meter dan aktivitas mereka dimulai tanpa sosialisasi Amdal kepada masyarakat. Alhasil masyarakat pun terganggu dengan aktivitas pertambangan ini.

Kerusakan bukan hanya di danau tetapi juga pesisir pantai. Kedua lokasi ini menjadi keruh karena perusahaan tidak memiliki sediment pond. Aktivitas mencari ikan warga pun turut terganggu. Mereka biasa memanfaatkan danau untuk mencari bahan makanan ketika musim selatan, ombak tinggi. Mereka mencari kerang, ikan, dan kepiting di danau itu. 

Pada 2014 aktivitas tambang itu mendapat penolakan dari masyarakat namun upaya yang dilakukan pemerintah daerah juga tak membuahkan hasil untuk menyetop eksplorasi. Kini aktivitas tambang terus berjalan dengan jejak kerusakan yang ada, hutan yang gundul dan air danau yang keruh. 

Tak hanya itu, ekosistem pun turut terancam. Pepohonan yang tumbuh lebat di kaki bukit Legaye Lol ini menyimpan banyak satwa burung yang dilindungi, di antaranya Paruh Bengkok, Kapasan Halmahera (Lala Geaurea), Kacamata Halmahera (Zosterop Satriceps).

Kemudian Cekakak Biru – Putih (Todir Hampusdiops), Gagak Halmahera (Corvusvalidus), Rangkong atau burung taon-taon, Bidadari Halmahera serta beragam jenis burung endemik lainnya.

Menurut keterangan warga, mereka pun tidak bisa melakukan melakukan aktivitas di sekitar danau tersebut. Danau itu sudah dibeli oleh kedua perusahaan.

Masyarakat berharap pemerintah harus hadir untuk menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi di masyarakat, jangan melindungi korporasi perusahan saja.