Akun Twitter jurnalis Papua Victor Mambor hilang beberapa jam setelah mengunggah video penginjakan kepala warga di Merauke oleh anggota TNI Angkatan Udara. Hilangnya akun ini diduga dilakukan pihak tertentu yang tidak senang dengan unggahan tersebut.

Direktur Lokataru, Haris Azhar, menduga penguasa tak suka dengan video yang diposting oleh Victor. Video ini menambah daftar aksi kesewenangan dan rasisme aparat terhadap orang Papua, bahkan kejadian ini terjadi di Papua. Mereka khawatir pemerintah kian tak populer karena isu rasisme menjadi sorotan dunia. 

“Karena peristiwa injak kepala itu jelas membuat penguasa tidak populer,” kata Direktur Lokataru Haris Azhar.

Menurut dia penghilangan akun tersebut bukan hal yang bisa dilakukan awam kecuali melibatkan  pihak tertentu yang memiliki akses terhadap instrumen tertentu. Jadi, kata dia, ini jelas bahwa sarana-sarana sektor teknologi informasi itu digunakan oleh kelompok-kelompok orang yang berkuasa untuk memelihara popularitasnya.

Victor sendiri mengunggah video itu pada Selasa 27 Juli malam memang sempat viral. Unggahan  tersebut berupa video berdurasi 1 menit 20 detik  yang menayangkan dua orang berseragam TNI AU sedang mengamankan seorang warga tuna rungu. Kejadian ini disebutkan terjadi di Jalan Raya Mandala, Merauke, Provinsi Papua, Senin (26/7).

Belakangan diketahui bahwa dua anggota TNI AU tersebut berinisial Serda Dimas Harjanto dan Prada Vian Febrianto. Mereka berdua pun ditahan di Lanud Johanes Dimara Merauke. Sementara nama korban kekerasan disebut adalah seorang tuna rungu bernama Steven Yadohamang.

Video tersebut membangkitkan amarah netizen yang melihat kesewenang-wenangan aparat terhadap warga tersebut. Pihak Mabes TNI AU sendiri tengah memproses dua anggotanya yang melakukan tindakan itu. 

Masalah ini bukan saja menambah angka sikap buruk, represif, hingga dugaan tindakan rasisme. Hilangnya akun Victor menunjukkan sikap pemerintah yang menutup-nutupi keadaan.

Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Juniarto, menyebutkan melalui akun twitternya, bukan hanya akun Victor yang lenyap. Posting di Facebook juga hilang.

“Kalau serentak postingan/akun “hilang” begini, apa ini bukti penerapan PM 5/2020 (Peraturan Menkominfo No. 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat-red)?” tanya Damar di akun twitternya.

Hingga kini akun Twitter Victor belum kembali normal, seluruh postingan akunnya lenyap. Jurnalis Papua ini tak hanya mengalami represi di dunia digital kali ini saja. Pada 2019 lalu, Victor juga mengalami doxing di media sosial. Ia dianggap memiliki keterkaitan dengan Organisasi Papua Merdeka.

Sementara pada April 2021 lalu, Victor juga mengalami intimidasi berupa perusakan mobil oleh orang tak dikenal.