Sumber foto : thejakartapost.com

Sebagai orang yang tumbuh dan besar di Kemanggisan, Jakarta Barat, saya tahu betul berapa jarak antara Giant Ekspres di Pusat Perbelanjaan Plaza Slipi Jaya dengan Pasar Slipi. Jarak keduanya tak lebih dari 200 meter dan dipisahkan sebuah flyover. Dua tempat ini harus saya lewati ketika hendak menuju Tanah Abang, Monas, ataupun lokasi lain di sekitar Jakarta Pusat. 

Sudah bertahun-tahun keduanya jadi tujuan warga Slipi dan sekitar untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Pasar Slipi, walau sudah dimodernisasi berkali-kali, dikenal sebagai pasar becek. Pasar ini mulai ramai usai subuh,  emak-emak, abang-abang, sampai mbak-mbak membanjiri pasar ini untuk belanja kebutuhan sehari-hari atau keperluan dagangan. 

Sedangkan di seberang, Giant Ekspres memulai kegiatannya sesuai jam kerja kantoran dan menunjukkan kedigdayaan konsumen pada akhir dan awal bulan, usai pekerja gajian. Supermarket modern ini menunjukkan betapa balutan modernitas menjanjikan kebersihan, kenyamanan, kesan higienis, hingga kepastian harga dan diskon dapat menunjang kebutuhan sehari-hari. 

Tumbangnya Supermarket Giant bisa jadi merupakan bukti kedigdayaan pasar tradisional di tengah pandemi Covid-19. Ukurannya bukan soal sejak kapan supermarket itu mengalami krisis tetapi seberapa dekat jarak gerainya dengan pasar tradisional.

Namun pandemi mengubah keadaan pada awal 2021 lalu, Giant Ekspres Plaza Slipi Jaya mengumumkan rencana penutupan, dan memutuskan mengobral dagangannya.  Sementara, aktivitas berjualan di Pasar Slipi yang notabene pasar tradisional tetap berjalan menyuplai kebutuhan sehari-hari warga sampai sekarang.

Penutupan ini terjadi hanya beberapa bulan sebelum  PT. Hero Supermarket TBK sebagai induk bisnis Giant Supermarket mengumumkan rencana penutupan total merk retail asal  Malaysia tersebut pada pertengahan 2021.

Tumbangnya Giant memang sempat bikin heboh lantaran memperpanjang daftar bisnis retail yang terjerembab gara-gara pandemi.  Sebelum pandemi saja, Giant Ekspress Mampang Prapatan di Jakarta Selatan, malah sudah tumbang lebih dahulu sementara kegiatan perdagangan 100 meter di seberangnya, yakni Pasar Mampang hingga kini masih terus bergerak.

Kisah penutupan Giant ini  menambah daftar panjang bisnis retail yang luluh lantak diterpa pandemi. Usaha retail bisnis babak belur, kontras dengan pasar tradisional  yang masih bergeliat di masa sulit ini.

Melihat situasi ini, muncul pertanyaan apa iya pasar tradisional lebih digdaya dari supermarket? 

Perusahaan asal Malaysia ini didirikan oleh Keluarga Teng di Kuala Lumpur pada 1994. Tapi Giant sendiri sudah menjadi raksasa swalayan di Indonesia pada 2002 dan menjadi bagian dari Hero Group. 

Di belahan lain ia berada di naungan Dairy Farm International Holdings, perusahaan ritel Hong Kong. Perusahaan ini bagian dari kelompok perusahaan grosir makanan dan produk-produk kebersihan pribadi di wilayah Pasifik dan di China, Jardine Matheson Group. 

Jejaring Usaha Jardine Matheson Holdings (JMH)

Kabar kemapanan Giant runtuh ketika 2018 lalu ia mulai menutup 16 gerai supermarket dan mem-PHK 532 karyawan sepanjang tahun itu. Ia tidak bertahan dalam persaingan dengan supermarket lain, sebut saja Trans Mart, Lotte Grosir, Superindo, Hero, dan lain-lain. Belum lagi minimarket yang berdiri di tengah pemukiman seperti Alfamart, Indomart, hingga 212 Mart. 

Tapi  robohnya sang raksasa tak melulu soal persaingan. Secara bisnis, Giant memiliki operasi yang sama mapannya dengan supermarket lain, mereka berdiri gagah di pusat pemukiman, bahkan menantang pasar tradisional dengan berdiri terpaut beberapa meter saja.

Mereka tumbuh seiring dengan berdirinya wilayah hunian berbentuk kompleks perumahan.

Supermarket-supermarket tersebut bahkan bisa lebih digdaya karena kemampuan mereka menggunakan strategi diskon. Sementara itu mereka juga memiliki segenap kekuatan untuk memasarkan produk di luar toko fisik mereka, yakni melalui e-commerce, seperti Transmart yang menjajakan produknya di platform layanan belanja Happy Fresh

Pasar-pasar tradisional yang disebut di atas mungkin saja rentan kalah saing dengan supermarket-supermarket tersebut. Supermarket memang sejak lama dinilai berpotensi memangsa pasar konsumen pasar tradisional. Diskon harga produk dan keunggulan fasilitas adalah anggapan umum yang membuat supermarket lebih memikat dibanding pasar tradisional.

Hal yang sebenarnya sudah diwanti-wanti pemerintah daerah, misalnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Peraturan Daerah DKI  Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Perpasaran Swasta. Beleid ini secara rinci mengatur keberadaan supermarket, agar tidak menyedot pembeli yang berujung mematikan pasar tradisional.

Contoh perlindungan terlampir dalam salah satu poin beleid yang mengatur bahwa supermarket yang luas lantainya 100 meter persegi sampai dengan 200 meter persegi harus berjarak radius 0,5 kilometer dari pasar lingkungan (melihat dua contoh kasus di atas, beleid ini sebenarnya kerap diabaikan para pebisnis retail di ibukota).

Tapi kenyataannya, pasar tradisional nggak begitu saja mati kutu, meski supermarket berdiri tak jauh dari mereka.

Hal ini dikuatkan temuan riset lembaga SMERU di wilayah perkotaan di sekitar Jakarta dan Jawa Barat di tahun 2007 menunjukkan bahwa keberadaan supermarket umumnya tak menunjukkan pasar-pasar tradisional di sekitarnya kalah bersaing.

Lebih jauh analisa kualitatif lembaga itu menunjukkan umumnya tantangan yang dihadapi para pedagang tersebut justru berasal dari internal pasar sendiri seperti rusaknya  fasilitas atau keberadaan PKL, bukan semata karena keberadaan supermarket-supermarket di sekitarnya.

Riset tersebut juga menemukan bahwa para pedagang di pasar tradisional yang menjual barang dagangannya terutama kepada pelanggan non rumah tangga, seperti toko-toko kecil, dan memiliki hubungan erat dengan pelanggannya memiliki kemungkinan besar untuk tetap bertahan.

Pasar tradisional memang tak imun terhadap pandemi yang menggerogoti perekonomian. Kementerian Perdagangan pada Juli 2020 mengemukakan pandemi turut memukul para pedagang pasar tradisional dan mengakibatkan kemerosotan omzet pedagang pasar tradisional merosot hingga 40 persen. 

Pandemi pun memaksa para pedagang ikut berinovasi dalam memasarkan barang dagangan mereka. Para pedagang mengerahkan sejumlah upaya termasuk berjualan secara online dilakukan agar mereka tetap bertahan.

Seperti Sonia seorang pedagang kain di Klungkung, Bali. Berjualan secara daring memang tak langsung mendongkrak pemasukannya. Tapi pelan-pelan ia melihat  berjualan online bisa jadi salah satu sarana pemasaran.

“Misal kalau target pembeli anak muda, marketplace Facebook kurang efektif. Tapi efektif pakai Instagram, dan kalau mau coba juga promonya pakai TikTok. Hasilnya belum seberapa, tapi lumayan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Sekarang sedang berproses, semoga saja dari online juga lancar,” kata Sonia kepada IDN Times.

Di samping itu, pedagang sejumlah di daerah juga turut terbantu dengan keberadaan marketplace lokal yang memang menjajakan produk pedagang pasar-pasar tradisional, seperti situs pandasari.id yang memasarkan produk dagangan pedagang pasar tradisional Pandansari, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Meski ikut digebuk pandemi, perlahan-lahan pasar tradisional mencoba bergeliat agar tak ikut tumbang seperti supermarket. 

Ketahanan mereka ini pun tampaknya teruji krisis. “Pasar dan pedagang pasar yang jumlahnya belasan juta orang sampai dengan saat ini sudah membuktikan keberadaannya baik dari sisi ekonomi dan sosial ya di tengah rakyat Indonesia. Oleh karena itu jelas bahwa pasar adalah simbol ekonomi rakyat,” kata Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ferry Juliantono.