Sumber foto : bbc.com

Gelombang pengungsian meningkat dan warga rentan mengalami kekerasan.

Gelombang pengungsi akibat operasi penumpasan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) mulai meresahkan aktivis HAM Papua. Mereka menganggap penambahan pasukan ke Papua terus menerus justru menunjukkan pemerintah tidak mendekatkan pendekatan hukum tetapi militer.

Aktivis HAM Papua, Yones Douw, menyatakan kondisi di Papua saat ini lebih mirip dengan operasi militer daripada tindakan hukum untuk menumpas KKB. Jumlah pasukan kian meningkat di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua. 

Akibatnya sejak akhir April lalu banyak warga yang tinggal di daerah operasi penumpasan KKB terpaksa mengungsi.

“Kalau tidak berani (menetap) mereka mengungsi ke kota ke Timika dan Nabire,” kata aktivis yang berdomisili di Kabupaten Nabire tersebut kepada Hakasasi.id, Selasa (18/5).

Aktivis yang malang melintang dalam penanganan isu kekerasan di Papua itu mengatakan  langkah pemerintah menurunkan aparat ke Papua terlalu berlebihan. “Di Papua itu bukan operasi penegakan hukum tapi operasi militer,” kata dia.

Ia menjelaskan salah satu dampak operasi militer yang terjadi di wilayah itu adalah rusaknya Gereja Kingmi di Kampung Kabuki, Distrik Mayuberi. Informasi yang diperolehnya menyebutkan gereja tersebut rusak terkena tembakan dari helikopter aparat saat menyerang KKB. Tak ada laporan korban jiwa terkait penyerangan itu.

Sebelumnya Suara Papua juga sempat memberitakan kematian tiga perempuan di Ilaga  Utara bertepatan dengan momen penembakan yang merusak gereja tersebut. Namun Gereja Kingmi membantah informasi itu.

Hingga kini keadaan di Kabupaten Puncak masih memanas akibat pengerahan pasukan dalam rangka penumpasan KKB. TNI AD sendiri mengerahkan 400 personel yang disebut ‘pasukan setan’ untuk operasi tersebut.

Sebelumnya pemerintah juga sempat menetapkan status teroris kepada KKB. Hal ini terjadi hanya beberapa waktu setelah kelompok tersebut menembak mati Kepala BIN Daerah Papua Mayjen (Anumerta) TNI I Gusti Putu Danny Nugraha Karya di Kabupaten Puncak, April lalu.