Seluruh pertanyaan yang saya terima tidak ada hubungannya dengan Wawasan Kebangsaan. Paling saya ingat adalah pertanyaan, mau terima nggak donor darah dari non muslim’— Lili (nggak pakai Pintauli Siregar)

Lili dan Ghufron, bukan nama sebenarnya dan bukan nama pimpinan KPK (Lili Pintauli Siregar dan Nurul Ghufron), bercerita mengenai Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Keduanya merasa pertanyaan dalam tes ini tak ada kaitannya dengan kebangsaan, bahkan cenderung sekedar tes suka-suka.

“Yang paling saya ingat adalah pertanyaan, mau terima nggak donor darah dari non muslim. Saya tanya balik sama pewawancaranya, nggak tahu deh. Kalau menurut bapak boleh nggak?” tutur Lili saat menjawab wawancara bersama Haris Azhar dalam segmen Knalpot: Wawancara Kebangsaan Pegawai KPK yang diunggah melalui youtube pada Senin lalu (10/5).

Pertanyaan macam ini, kata dia, mendominasi sepanjang TWK digelar. Malah beberapa pertanyaan justru menggiring pada kepatuhan mereka pada pimpinan, bukan terkait kontribusi pegawai KPK dalam kebangsaan. 

“Selama 45 menit terakhir, saya ditanya lagi, apakah saya mau berbohong demi pimpinan dan kepentingan mereka? Saat itu saya langsung jawab engga karena saya ga mau melakukan hal yang ga sesuai dengan integritas saya,” ungkap Lily 

Rekan Lili, Ghufron misalnya mengaku ditanya soal keterlibatannya dalam penolak terhadap Firli Bahuri ketika seleksi pimpinan KPK 2019 silam. Ia tidak melihat kaitan antara aksi penolakan yang dilakukan beberapa pegawai KPK itu dengan soal kebangsaan

Sumber Foto : idntimes.com

“Nggak tahu (apa hubungannya dengan kebangsaan). Mungkin Pak Firli melambangkan diri bangsa dan negara,” ucap dia.

“Dia berusaha mirip sama ‘burung garuda’ mungkin,” timpal Haris. 

Founder Lokataru, Haris Azhar, beranggapan TWK sekedar akal-akalan untuk melakukan pembersihan KPK dari pegawai yang loyal pada pemberantasan korupsi tapi tak mau menurut pada pimpinan KPK. Ia menyebutkan tes ini bakal dikenakan pada pegawai lain kelak.

Tak hanya Haris, berbagai tokoh masyarakat sipil beranggapan sama bahwa tes ini hanya akal-akalan saja. Beberapa soal tidak dapat dipertanggungjawabkan hingga kini. 

“Bisa jadi ini nanti di KPK itu kalau tidak nurut sama si pimpinan atau tidak nurut sama Firli Bahuri, TWK ini akan kena lagi ke mereka”, ucap Haris. 

Lebih parahnya jika TWK ini diakui pemerintah untuk mempertahankan pegawai KPK maka masa depan KPK dalam pemberantasan korupsi bakal kian gelap.