Sumber foto : tribunnews.com

(Aris Santoso, pengamat militer)

Prabowo ibarat “wonder boy” dalam politik Indonesia. Mungkin sudah takdirnya, selalu ada privilege baginya dan sejumlah kemudahan lainnya. Sejak masih aktif di militer dulu, hingga  kini setelah menjadi politisi cum pengusaha, sebagian besar impiannya selalu tercapai, kecuali cita-cita sebagai presiden, yang masih tertunda-tunda terus.

Baru-baru ini Prabowo kembali membuat berita besar, sehubungan  rencananya membentuk Denwalsus (Detasemen Kawal Khusus), satuan organik di bawah Kementerian Pertahanan. Secara formal Denwalsus dimaksudkan untuk mendukung kebutuhan protokoler di Kemenhan, termasuk memberi pengawalan pada Prabowo (selaku Menhan).

Argumentasi bisa dibuat berlembar-lembar, sebagaimana penjelasan dari pihak Kemenhan dan Istana, publik sudah paham elite negeri ini paling jago membuat alasan, meskipun acapkali tidak masuk akal. Rakyat dianggap bodoh dan penurut, sehingga kehendak elite politik harus dijalankan, keberatan rakyat cukup ditampung saja.

Tongkat komando Idjon Djanbi

Salah satu perilaku Prabowo  yang menonjol adalah, dia selalu ingin agar pasukan atau lembaga yang dia pimpin, bisa tampil beda. Begitulah paralelisme yang terjadi pada Prabowo, sejak masih menjadi komandan pasukan, hingga “Komandan” di Kemenhan sekarang. Salah satu yang paling unik adalah, saat menjadi Danjen Kopassus (1995-1998), Prabowo memberi sentuhan “baru” pada tongkat komando para komandan satuan, termasuk bagi dirinya selaku Danjen Kopassus.

Tongkat komando bagi komandan satuan, khususnya di matra darat, bentuknya mungkin sudah biasa kita, yakni tongkat kerucut yang runcing di ujungnya, dan  biasanya diberi logam warka keemasan sebagai penutupnya. Artinya dari dulu bentuknya ya begitu-begitu saja. Tongkat komandan satuan di jajaran Kopassus, dirancang beda oleh Prabowo.

Tongkat Panglima TNI Dibuat di Blora. Sumber foto: radarkudus.com

Ternyata dibuat lebih sederhana, hanya kayu biasa seperti tabung atau pipa kabel listrik, benar-benar sederhana untuk ukuran satuan selegendaris seperti Kopassus. Entah bila Prabowo bermaksud pencitraan, untuk memberi kesan Kopassus sebagai korps yang rendah hati. Tentu ada konsep atau rujukan pada disain tongkat komando yang dibuat sederhana itu.

Haji Mochammad Idjon Djanbi/Rokus Bernardus Visser

Ternyata Prabowo terinspirasi oleh tongkat komando yang biasa dipegang Mayor Idjon Djanbi, komandan pertama Kopassus (1952-1956). Dari penelusuran dokumen foto lama Idjon Djanbi, tongkat komando “sederhana” seperti itulah yang biasa dipegang Djanbi.

Pada tahun 1950-an itu, sepertinya belum ada standar dalam pemakaian tongkat komando di TNI AD, jadi ada kesempatan bagi Idjon Djanbi untuk berkreasi bagi tongkat komandonya. Dan Idjon Djanbi memilih model tongkat komando yang biasa digunakan komandan satuan di tentara Inggris, negara tempat Djanbi memperoleh pendidikan komando.

Kita bisa paham, Prabowo dan anggota Korps Baret Merah umumnya, sangat hormat pada Idjon Djanbi, figur pendiri Kopassus, meski secara fisik mungkin tidak pernah berjumpa. Dan bentuk penghormatan Prabowo pada Idjon Djanbi, adalah dengan cara memakai  tongkat komando yang biasa dipegang Djanbi.

Pada akhirnya usia pemakaian tongkat komando model Idjon Djanbi tersebut,  hanya sesaat,  sebatas pada periode Prabowo dan Muchdi Pr (Akmil 1970, Danjen Kopassus Maret – Mei 1998). Setelah keduanya lengser, yang bersamaan waktunya dengan datangnya era reformasi, model tongkat komando Danjen Kopassus, beserta komandan di bawahnya, kembali pada model sebelumnya,  yang biasa dipakai komandan satuan TNI pada umumnya.

Saat masih aktif di militer dulu, Prabowo seolah memiliki (meminjam istilah ilmu sosial) “otonomi relatif”, sebuah privilege yang tidak semua perwira  memilikinya,  termasuk perwira yang dari segi pangkat dan jabatan lebih tinggi dari Prabowo . Dan dalam kasus model tongkat komando yang dibuat berbeda, sejatinya Prabowo memiliki referensi, hanya mungkin tidak disosialisakan publik. Ini menunjukkan karakter Prabowo yang lain, yakni agar segala gagasannya cepat terwujud, seolah  tidak ada waktu untuk mengkomunikasikannya ke publik.    

Merujuk Kolonel  Honasan

Gregorio ‘Gringo’ Honasan Sumber Foto : bongmendoza.wordpress.com

Dari narasi di atas, bisa diambil kesimpulan sementara, sejatinya selalu ada rujukan atau role model  dalam setiap gagasan Prabowo, termasuk soal Denwalsus ini. Saya sendiri menduga, salah satu rujukan, atau setidaknya inspirasi, adalah satuan sejenis di Filipina, di masa Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile, pada pertengahan dekade 1980-an. Saat itu Enrile memiliki pasukan pengawal (khusus) dipimpin perwira yang sangat karismatik, yaitu Kolonel Gregorio “Gringo” Honasan. Sekadar informasi tambahan, Gregorio Honasan kini tercatat sebagai salah satu menteri pada kabinet Presiden Duterte.

Enrile menjadi Menhan pada saat transisi rezim di Filipina, dari Marcos ke Cory Aquino, kira-kira situasinya mirip Jakarta pada Mei 1998, hari-hari berlalu dengan mencekam. Dalam suasana chaos seperti itulah,  setiap jengkal langkah  Enrile selalu dikawal oleh Honasan, khususnya bila berkegiatan di luar ruang. Foto Honasan saat mengawal Enrile, dengan  menyandang senapan serbu M-60, menjadi gambar yang sangat  ikonik pada dekade 1980-an.

Sekecil apapun, transisi rezim di Filipina turut memberi inspirasi bagi gerakan demokrasi di Tanah Air. Sementara Prabowo lebih terinspirasi pada sosok Honasan, mengingat dari segi waktu, kemunculan Honasan di publik dan media, bersamaan waktunya saat Prabowo menjadi Komandan Bataliyon 328 Kostrad (1986-1988), satuan yang sangat legendaris sejak didirikan, yang bermarkas di Cilodong (Kabupaten Bogor).

Sebagai perwira yang berwawasan luas, tentu gejolak yang terjadi di Filipina  saat itu, masuk dalam “radar” Prabowo. Termasuk detail-detail lain, seperti model pengawalan terhadap Enrile. Mungkin pada saat menjadi Danyon 328, Prabowo tidak menyangka bahwa kelak dia akan menjadi Menhan (seperti Enrile). Dan setelah kini menjadi Menhan, kenangan terhadap Enrile dan Honasan, hadir kembali di benaknya.

Bila Prabowo sudah memiliki kehendak, tak seorang pun bisa menahannya, bahkan oleh presiden sekalipun, itu sudah terjadi sejak lama. Salah satunya karena sumber daya kesejahteraan Prabowo. Beliau memiliki dana pribadi nyaris tak terbatas,  sekadar mewujudkan ambisinya terhadap satuan atau organisasi yang sedang dia pimpin. Faktor kesejahteraan ini pula yang menjadikan figur Prabowo bak mercusuar,  dia memiliki dana pribadi, yang dari segi kuantitas  belum bisa dikejar perwira  atau pejabat publik lainnya.