Istri Benni Eduward mendapat ancaman selama proses hukum kasus ITE yang menjerat suaminya dan ketika berada di penjara pun Benni harus setor duit agar tak mengalami kekerasan. Seluruh peristiwa di sepanjang proses hukum dan saat pemidanaan pun membuat mereka kapok menyampaikan pendapat. 

Keluarga Benni Eduward mengalami trauma atas proses hukum kasus UU ITE yang menjerat youtuber asal Medan itu. Benni Eduward youtuber asal Medan terjerat UU ITE karena kritik pungli (pungutan liar) polisi. Walaupun Benni bebas pada 14 April 2021 perjalanan mereka ketika proses hukum berjalan hingga pemidanaan terasa sangat berat. 

Setelah delapan bulan mendekam di bui dan melalui perjuangan berliku, pada 14 April 2021 Benni bertemu kembali dengan istri dan putranya. Kejadian ini tentu meninggalkan kenangan tak terlupakan bagi mereka.

“Saya ingat betul tanggal 18 Agustus 2020 suami saya ditangkap dan awalnya dia kena pasal pencemaran nama baik, pembuat keonaran dan UU ITE. Saya kaget dan ketakutan,” ungkap Fitra Aria, istri Benni Eduward dalam youtube pribadi milik pendiri kantor hukum & HAM Lokataru, Haris Azhar. 

Tujuh hari sebelum diciduk polisi, Benni dan rekannya Joniar, mengunggah video investigasi atas sejumlah mobil milik aparat yang terparkir di kantor Samsat Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Utara. 

Seorang polisi melaporkan tindakan yang dilakukan oleh Benni dan Joniar. Keduanya pun ditangkap dan video yang mereka unggah menjadi barang bukti atas tuduhan pencemaran nama baik. 

Padahal video yang mereka unggah memiliki bukti. Situs daring e-samsat milik Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumut menunjukkan mobil-mobil tersebut telah lalai membayarkan pajak.

“Video itu yang jadi masalah dan saat ini sudah hilang dari akun youtube-nya. Yang lebih aneh Bang, setelah suami saya ditangkap, website e-samsat ga bisa lagi buat diakses,” tambah Fitra. 

Benni dan Joniar ditangkap karena dianggap menyebarkan berita bohong dan telah melanggar Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Setelah penangkapan itu, Fitra pun menceritakan betapa sulit dirinya juga pengacaranya, Joniar Muncha, untuk bertemu dengan suaminya yang saat ini berusia 39 tahun. Ia pun bercerita kerap mendapat ancaman dan bagaimana suaminya diperlakukan kasar di dalam bui.

“Hampir setiap malam suami saya menelepon dan meminta untuk mengirim sejumlah uang supaya dia di sana tidak mengalami tindak kekerasan. Sampai Bang Benni keluar, total kami harus mengirim uang bisa lebih dari 10 juta.” 

Kabar Benni ini menyebar dan menjadi perhatian publik. Beberapa diantara mereka membantu. Salah satunya akun dengan nama Palembang Live membuat petisi pembebasan Benni dan mulai muncul tagar #bebaskanbennieduward. Hingga saat ini petisi tersebut telah ditandatangani oleh 32.000 orang 

Benni yang sebelumnya memang telah aktif menjadi aktivis anti pungli dan sering mengunggah video ke dalam kanal youtube-nya memang telah bebas, tetapi kasus ini membuatnya kehilangan pekerjaannya sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan minuman kemasan. 

Founder Lokataru, Haris Azhar, menyebutkan kasus Benni dan Joniar ini tidak berbanding lurus dengan niat pemerintah untuk membenahi substansi dari Undang-undang tersebut. Menurut dia UU ITE merupakan pembungkaman kritik. 

“Jadi hal yang lucu saat pejabat tinggi bahas UU ITE, tapi rakyat diinjak-injak atas nama penegakan hukum. Padahal banyak rakyat seperti bang Benni yang tengah membantu mengungkap siapa pejabat negara yang tidak benar.” tutupnya.