Para aktivis yang tergabung dalam Aktivis Pro Demokrasi memberikan dukungan kepada Jumhur Hidayat. Mereka menganggap proses hukum terhadap Jumhur dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) merupakan ancaman terhadap demokrasi.

Dukungan ini disampaikan dalam konferensi pers yang bertajuk “Demokrasi Harus Diselamatkan” di 29 Eatery, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (26/4). Beberapa akademisi dan aktivis demokrasi seperti Rocky Gerung, Refly Harun, Adhie Massardi, Fahri Hamzah, dan aktivis pro demokrasi lainnya menyampaikan dukungan kepada Jumhur Hidayat, Anton Permana dan Syahganda Nainggolan.

Mereka membacakan petisi dan dilanjutkan dengan diskusi. Petisi tersebut menyebutkan kemunduran demokrasi terjadi pada pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kemunduran ini terlihat dalam kasus yang menyeret Jumhur, Anton, dan Syahganda.

Ketiga orang ini menyuarakan kritik atas pengesahan Omnibus Law yang dianggap kontroversial. Namun bukannya didengar mereka malah ditangkap. Pengesahan Omnibus Law maupun kriminalisasi aktivis merupakan satu rangkaian pembungkaman demokrasi.

“Terkait hal ini, maka kami yang berkumpul dan bertanda tangan di bawah ini, menyatakan keprihatinan, kecemasan dan kekhawatiran terhadap masa depan demokrasi di Indonesia. Kepedulian kami ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang selama ini telah kami perjuangkan, yakni mendobrak sistem otoritarian Orde Baru dan kemudian melakukan gerakan Reformasi Politik 1998,” ucap Haris Rusly Moti, Aktivis Pro Demokrasi ketika membacakan petisi.

Dalam konferensi pers, Aktivis Pro Demokrasi menyampaikan tiga tuntutan, diantara lain: Pertama,menuntut hakim memutus bebas Jumhur, Anton, dan Syahganda. Kedua meminta hakim dan lembaga peradilan menjaga independensi dari tekanan eksekutif. Dan ketiga meminta pemerintah segera kembali menjalankan demokrasi yang sesungguhnya.

Hingga kini, Jumhur, Anton Permana dan Syahganda harus menjalani sidang akibat dituding menyebarkan berita bohong dan menimbulkan kebencian SARA. Syahganda Nainggolan sendiri sudah dituntut enam tahun penjara.