Relawan perpustakaan jalanan melakukan talk therapy untuk para pelajar dan anak-anak. Langkah ini ampuh membantu mereka menghadapi trauma bencana.

Oktavianus Klau Lekik, atau kerap dipanggil Okto, tidak menyangka aktivitasnya melalui perpustakaan jalanan (OKL Street Library) dapat membantu penyintas Siklon Seroja menghadapi trauma bencana. Awalnya ia mendirikan perpustakaan jalanan ini seorang diri. Lalu, 20 relawan lain ikut bergabung dan mereka pun melakukan edukasi positif mengandalkan kemampuan berbicara, berempati, dan literasi. 

Aktivitas ini membuat pelajar dan anak-anak yang didampinginya merasa mendapat penguatan psikologi dan kemampuan sosial.

“Kami setiap hari bekerjasama dengan teman-teman relawan di posko mandiri Desa Railor dan bergantian membuat kegiatan-kegiatan sederhana. Awalnya, masih banyak yang takut dan dilarang untuk ikut kegiatan, tetapi sekarang ada 79 orang yang aktif mengikuti kegiatan psikososial” tambah dia.

Menurutnya kegiatan ini membantu memperbaiki situasi dan kondisi mental masyarakat Desa. Bahkan efeknya dapat mencakup jangka waktu yang panjang dan memberikan dampak positif. 

Pekerjaannya tak mudah, ia harus berkreasi agar proses kegiatan menyenangkan dan menarik minat pelajar dan anak-anak desa. Kegiatan ini pun lantas menjadi sarana trauma healing yang dapat membantu anak-anak dan pelajar desa untuk bisa kembali cerita. 

“OKL tidak hanya berfokus dalam membaca dan menulis. Fasilitator kami mengajari bahasa Inggris, diskusi, public speaking, kelas tari bidu, dan proyek sosial seperti daur ulang limbah. Tapi banjir sudah merusak alat daur ulang kami. Saat ini, kami berfokus pada kelas psikososial” ungkap Okto saat dihubungi oleh tim Hakasasi.id

Trauma bencana masih membayangi masyarakat Desa Railor hingga saat ini. Meskipun sebagian besar fisik warga terlihat baik-baik saja, tetapi ingatan akan luapan air dan efek dari bencana dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). 

Gejala-gejala yang menunjukan bahwa seseorang mengalami PTSD adalah: 1) Timbul pemikiran dan perasaan negatif, 2) Ingatan akan kejadian bencana atau traumatis, 3) Kecenderungan untuk mengelak, dan 4) Terjadi perubahan perilaku dan emosi. 

Okto sendiri mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki tingkat literasi Desa Railor, NTT. Ia menghabiskan waktu membuat konsep pendidikan yang mudah diakses dan meningkatkan kualitas pelajar di Desa. 

Kegelisahannya berawal dari penelitiannya terhadap literasi Indonesia yang ternyata berada pada peringkat 60 dari 61 negara (Most Littered Nation in the World, Central Connecticut State University tahun 2016). Pada tahun 2012, UNESCO mengatakan bahwa, minat baca masyarakat Indonesia hanya 1:1000 orang (termasuk kategori rendah)

Mengutip Kemendikbud, Okto setuju atas data menyebutkan bahwa pelajar di Indonesia Timur mengalami kesenjangan pendidikan dan tingkat literasi rendah yang disebabkan karena kurangnya akses yang mampu membantu masyarakat untuk berkembang dalam jangka waktu panjang.