sumber foto: Jeruji Production

Sahron Nissam Bin Saleh tak menyangka pelayarannya ke Jakarta berujung bui seumur hidup. Kapal yang dinahkodainya disusupi barang haram milik bandar narkoba asal Malaysia. Ia pun ikut terseret kasus ini sampai harus mendekam di penjara untuk masa hukuman seumur hidup. 

Menurut pengakuannya, ia tak tahu menahu soal penyelundupan sabu sebanyak 37 kilogram itu. Pengakuan ini diperkuat oleh kesaksian ABK dan otak dibalik penyelundupan tersebuti. 

Namun proses hukum bukan jalan yang singkat. Ia melakukan segala cara untuk menjaga semangatnya mendapatkan keadilan. Berikut perbincangan antara Kapten Sahron dengan kuasa hukum dari Lokataru, Guntoro. 

  • Apa yang Anda harapkan dari proses upaya hukum?

    Karena saya yakin saya tidak mengetahui dan saya yakin saya tidak bersalah, saat ditangkap pun saya tidak ada perasaan apa-apa. Saya tidak merasa takut atau ingin kabur. Karena saya yakin pihak pengadilan Indonesia hadir untuk membantu saya.

    Jadi ketika saksi-saksi saya ini, ABK saya, saksi penumpang saya, menyatakan saya memang tidak tahu apa-apa soal rencana penyelundupan narkoba ini, di situ saya yakin bahwa pengadilan di sini akan melepaskan tuntutan saya. Tapi, akhirnya saya pasrah juga saat mengetahui dihukum 20 tahun dan jadi seumur hidup. Meskipun memang ada kesempatan untuk kasasi, banding, dan PK, saya hanya ada harapan sedikit saja. Sebab, saya tidak punya dana yang besar untuk itu.

  • Bisa Anda ceritakan kembali perjalanan Anda ke Jakarta? 

    Jadi, seorang teman saya satu dermaga bernama Armansyah ini minta tolong ke saya karena kapal boat-nya rusak. Ia pun menanyakan apakah dirinya boleh me-rental boat milik majikan saya untuk mengantarkan seorang anak datuk liburan ke Pulau Seribu. Kabar ini pun saya sampaikan ke majikan saya. Setelah perundingan harga mereka akhirnya deal. Akan tetapi, setelahnya belum jelas apakah pelayaran tersebut jadi dilakukan atau tidak. Sampai akhirnya seminggu sebelum keberangkatan Armansyah menyatakan pelayaran jadi dilaksanakan.

    Kurun waktu seminggu ini menyebabkan saya jadi keteteran untuk merencanakan pelayaran ini. Saya harus siapkan mulai dari chart, perkiraan angin, perkiraan cuaca, healthy book, clearance, hingga persiapan mesin. Tapi, saya lakukan itu semua sudah sesuai dengan prosedur. Tidak ada yang terlewati.

  • Apakah Bapak pernah curiga terhadap gerak-gerik Armansyah dan kawan-kawannya ini?

    Saya tidak pernah tahu ataupun menyangka bahwa Armansyah ini akan menyelundupkan narkotika ke Indonesia. Saya bahkan baru tahu kalau ternyata sehari sebelum pelayaran di mulai, mereka mengadakan pertemuan di Johor untuk membagikan tugas dalam operasi penyelundupan mereka.

    Saya juga baru tahu kemudian dari rekaman CCTV Imigrasi Johor bahwa mereka menyelundupkan narkoba ke kapal itu ketika saya berada di kantor imigrasi. Tempat ia simpan barang itu pun tidak mungkin saya cek. Sebab, di dalam tidak ada barang elektronik dan hanya berisikan rantai jangkar.

    Jadi, mereka itu sudah merancang untuk menutupi perkara ini dari saya. Sebab itu dia memerlukan ABK dia (Armansyah) sendiri. Jadi ABK saya kalau barang-barang ataupun boat. Saya bukan tidak tanggung jawab sepenuhnya, tapi kan ABK ini harus bantu saya dan ada hal yang lebih penting untuk saya perhatikan. Entah itu engine saya, minyak saya, air saya, boat saya, jadi keadaan sekeliling itu ABK yang harus bantu saya. 

    Saya akui itu kelalaian saya karena terlalu mempercayai kepada ABK saya ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Sebab, kalau saya tak percaya dia (ABK) susah juga saya. Seperti saya sendiri yang bawa kapal ini.

  • Apakah Anda pernah bertemu dengan tamu yang diantar ke Jakarta ini sebelumnya? 

    Tak pernah. Pertama kali bertemu ya saat berlayar ini. Dengan cara pakaian, dengan attitude, dengan gaya dia itu iya seperti anak datuk. Dia pun dijaga oleh bodyguard, dia ada driver sendiri yang mengantar dia. Saya yang tidak pernah bertemu dengan dia ini pun jadi percaya. Diperkuat lagi pada keterangan Arman yang mengatakan bahwa anak datuk ini adalah customer yang selalu dia bawa. Tak nampak ada yang mencurigakan.

    Saya pertama kali curiga kepada Arman dan antek-anteknya ketika ABK dan bodyguard anak datuk ini gagal dalam mengikuti arahan saya. Saya ingin cepat sampai ke Indonesia, sementara mereka ingin sampai di Indonesia saat lepas sunset. Dengan alasan ingin melihat sunset. Padahal, saat saya lihat juga tidak ada apa-apa yang indah. Padahal, saya ini nahkoda yang bertanggung jawab atas kapal ini. Seharusnya mereka yang mengikut arahan saya.

    Meski begitu, saya tetap buat kapal itu sampai jam 09:00 WIB.

  • Lalu bagaimana saat Bapak sampai di Jakarta?

    Jadi sudah sampai di Marina, saya telepon Pak Putu (petugas pelabuhan) untuk memasuki Dermaga Marina, tempat sandar. Setelah itu Pak Putu beritahu saya di mana saya masuk. Di Marina kami lalu disambut oleh dia punya penjaga dermaga, disambut tali segala rupa. Disambut.

    Saya kemudian arahkan ke ABK saya itu jangan ada yang keluar dari kapal. Sebelum, pihak bea cukai datang cek boat, clearance sudah siap, paspor sudah diperiksa baru boleh keluar. Itu memang prosedurnya seperti itu.

    Saya ini kemudian menunggu di depan kantor Marina, menunggu pak Putu, yang lain ini semua di boat. Saat saya sedang menunggu ini tiba-tiba polisi datang dan menanyakan saya “dari Indonesia?” Lalu ditangkap saya tanpa sebab. Lalu, dia bawa saya ke kapal, ternyata mereka membawa barang-barang terlarang.

  • Apakah sebelumnya disediakan bantuan hukum di Indonesia?

    Saya menggunakan pengacara pribadi yang dikenalkan oleh teman dari istri saya. Saya juga membiayai pembelaan perkara saya dengan menggunakan uang pribadi. Saya gunakan tabungan saya, bahkan istri saya juga ikut membayar dengan gajinya. Namun, apa dikata, uang kami tidak cukup untuk membayar pengacara untuk membela saya secara maksimal.

    Sehingga saya sekarang di sini berserah. Saya tak mampu untuk apa-apa. Jika istri saya bergadai sekalipun untuk cari uang, tapi tetap saya ditahan. Itu justru akan menyusahkan anak-anak saya. Jadi saya putuskan biarlah dia di sana bekerja untuk memenuhi keperluan anak saya.

  • Istri Bapak memang bekerja sebagai apa?

    Ia bekerja di pabrik, kalau tak salah di pabrik alat elektronik di Johor.

  • Pihak kedutaan sendiri apa pernah membantu bapak?

    Belum. Kalau saya tak silap, hampir tiga bulan, ada pihak kedutaan datang tapi waktu itu yang datang dari atase polisi yaitu Cik Tuan Roslan. Kalau sekarang kan sudah ganti jadi Cik Zakaria.

  • Bagaimana Bapak saat ini menghabisi hari-hari di penjara?

    Kalau harian saya di sini itu salat itu tetap, malam saya bulutangkis dengan Dhanu, dengan teman-teman yang tadi itu lah. Itu activity saya, Mushola, kamar, dan bulutangkis. Itu saja. Selama bulan puasa ini ada activity selama satu hari ngaji satu juz, untuk anak-anak satu Cipinang ini, jadi ikut musholla masing-masing. Walaupun saya bukan penceramah, tapi saya ikut. Di situ saya boleh lihat keadaan di sini itu berbeda-beda dan macam-macam orang saya jumpa itu keadaannya berbeda-beda dan perjalanan hidup orangnya berbeda.

    Di sini saya beruntung bisa ditemukan dengan orang-orang yang baik seperti Pak Dhanu  dan kawan-kawan. Jadi, orang-orang yang saya ketemu ini bukan orang-orang yang ingin menjatuhkan saya. Semua ingin saya bangkit, bangun. Saya yakin saya di sini Allah ta’ala itu maha kuasa.