Sahron Nisram Bin Saleh, kapten kapal asal Malaysia yang terjerat dalam dugaan kriminalisasi penyelundupan narkoba, ingin bertemu dengan anaknya. Anak itu lahir tepat saat ia ditangkap polisi di Pelabuhan Marina Jakarta pada 4 Juni 2019 lalu.

Keinginan bertemu anaknya ini diungkap ketika ia bertemu dengan pengacaranya dari Kantor Hukum dan HAM Lokataru yakni Guntoro. Ia mengaku menyesal selama ini kurang meluangkan waktu bagi keluarganya. Apesnya saat ditangkap oleh polisi di Jakarta, istrinya tengah menjalani persalinan. 

“Jika saya dibebaskan,  Saya akan lebih menghargai keluarga saya. Sebab selama ini, selama saya bekerja sebagai nahkoda ini, keluarga ini saya selalu jadikan nomor dua, bukan yang nomor satu,” ungkapnya.

Sahron sendiri dijatuhi hukuman seumur hidup sejak tanggal 12 Maret 2020 saat mengantarkan kliennya yang ternyata membawa narkoba jenis sabu sebanyak 37 kilogram. Meski demikian, Sahron tidak pernah mengetahui sedikitpun tentang rencana penyelundupan ini.

Kantor Hukum dan HAM Lokataru tengah melakukan upaya Peninjauan Kembali (PK) atas perkara yang menimpa Sahron ini. Mereka curiga ada upaya kriminalisasi atas kasus ini. Keterangan di pengadilan  tidak ada satu saksi pun yang bersaksi bahwa Sahron ikut dalam perencanaan. 

Kasus ini melibatkan bandar narkoba asal Malaysia Arman Syah. Otoritas Malaysia sendiri telah menangkap Arman Syah. 

“Saya sendiri tidak pernah dekat dengan Arman. tidak tahu pekerjaan selain jadi kapten dan memang tak pernah menanyakan. Sebab saya kalau di sana itu (dermaga), saya hanya menghabiskan waktu kerja saya untuk kerja saja. Saya tak akan masuk sampai tahu secara personal,” ucap Sahron.

Kasus ini juga melibatkan seorang anak buah kapal, Rahizam. Sahron mengenalnya dengan baik dan merekomendasikan ABK tersebut untuk bekerja kepada pemilik kapal lain. Rahizam juga merupakan antek-antek dari Arman Syah untuk menyelundupkan Sabu ke Indonesia.

Kini Sahron masih berharap upaya hukumnya berhasil. Ia mengatasi kerinduannya dengan bermain bulu tangkis.