Tak ada pesta kebaya sebagai perayaan Hari Kartini di Desa Railor Tahak, NTT pada Rabu lalu (21/4). Tetapi laku perempuan penyintas badai Siklon Seroja di desa itu menunjukkan semangat Kartini.

Hari-hari Maria Julitha Abuk (Bete) dan Novinsia Constantina Bria (Nova) tak pernah jauh dari tumpukan logistik di Posko Mandiri Desa Railor Tahak. Tangan mereka cekatan memilah barang sesuai kebutuhan. Seluruh warga desa menggantungkan kebutuhan hidupnya tumpukan itu. Keduanya beserta 4 orang teman perempuan lainnya sama-sama bertanggung jawab di divisi logistik dan distribusi. 

Nova (berdiri dengan kaos biru) tengah membantu mengkategorikan bantuan yang datang

Tugas keduanya mungkin sepele, namun asupan gizi warga bergantung pada tangan mereka. Bete dan Nova harus mencari akal di tengah logistik yang kian menyusut dengan kebutuhan gizi warga.

“Kami sebagai relawan juga mulai menghentikan distribusi mie instan kepada masyarakat, mie kan kurang bergizi dan sekarang banyak yang sudah mengeluh sakit perut,” ucap Bete, Ketua Divisi Logistik Posko Mandiri, ketika ditelepon Hakasasi.id pada Rabu (21/4).

Selain perkara gizi, kebutuhan rutin terkait kesehatan pun juga menjadi tanggung jawab mereka. Mereka memberikan bantuan berdasarkan data-data yang diperoleh dari semua organisasi di Desa (mulai dari kantor Desa sampai Posyandu). Warga yang rentan akan penyakit, seperti anak-anak, lansia, disabilitas dan perempuan hamil juga menyusui, harus diprioritaskan.

Terlebih untuk hal-hal yang kurang diperhatikan seperti pembalut, susu, masker dan alat kesehatan lainnya,” imbuhnya. 

Bete (kiri) tengah memberikan bantuan kepada warga penyandang disabilitas di Desa

(mie instan sebagai lauk sehari-hari, dokumen pribadi Alfred W. Djami)

Kesibukan mereka tak berhenti di soal logistik saja. Mereka juga ikut pendampingan untuk menanggulangi dampak psikologis. Trauma bencana masih membayangi warga, keduanya pun bekerjasama dengan komunitas untuk membuat acara supaya rasa takut pelan-pelan hilang. 

“Tiap hujan semua panik, ada rasa trauma. Makannya, kami bekerjasama dengan komunitas untuk membuat acara supaya semua bisa pelan-pelan lupa rasa takut yang ada. Bahkan saya dan teman-teman pun sejujurnya masih ketakutan jika mengingat kejadian itu,” aku Nova.

(kondisi sumur yang belum mengeluarkan air bersih, foto oleh Alfred W. Djami)

(kondisi sumur yang belum mengeluarkan air bersih, foto oleh Alfred W. Djami)

Bete sendiri punya orang tua di desa yang harus turut diurusnya. Mamanya terkena stroke, menu makannya harus dijaga supaya sakit itu tak kambuh. Namun sejauh ini ia bisa menjaganya bebarengan dengan warga lain.

“Biasanya kalau pagi, saya mengurus Mama dan Bapak di rumah dulu, setelahnya langsung ke posko dan membantu untuk mendistribusikan bantuan kepada masyarakat desa sampai malam. Dalam posko ini ada 6 remaja perempuan dan 24 remaja laki-laki,” ungkap Bete. 

Sedangkan Nova juga harus meluangkan waktu untuk belajar. Remaja berusia 19 tahun yang tengah menjalani pendidikan di UNIKA Kupang ini menghabiskan waktunya di posko bantuan mandiri sambil terus mengikuti kelas daring dengan sinyal seadanya. 

Kondisi Desa Railor yang terdiri dari 6 Dusun dengan jumlah penduduk 1.138 jiwa masih belum pulih. Lumpur masih belum juga mengering, menyumbat ladang, sawah bahkan sumur-sumur di tiap rumah penduduk.

Desa penghasil pertanian itu seharusnya melakukan panen raya pada bulan ini. Tetapi badai menyapu semua lahan pertanian dan membuat irigasi mampet.

Warga yang mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak, harus menyambung hidup dengan bantuan sosial yang ada.