Dokumentasi Pribadi Alfred W. Djami (relawan Desa Railor)

Korban badai Siklon Seroja harus cari akal mengelola bantuan. Distribusi bantuan yang tidak merata membuat mereka harus mengelola sumberdaya yang tersedia.

Rumah, ladang, dan irigasi warga Desa Railor di Kabupaten Malaka, NTT, masih mengalami kerusakan pasca badai Siklon Seroja menerjang kawasan NTT. Distribusi bantuan kemanusiaan masih seret di desa itu. Warga pun harus mencari akal dengan mengelola sumber daya dan bantuan ala kadarnya.

Pemuda relawan Desa Railor Tahak, Alfred W. Djami, mengungkap sejak 10 April lalu warga desa pulang ke kampung namuan kondisi desa masih porak poranda. Air bersih susah didapat dan lumpur ada dimana-mana.

Mereka pun kesulitan memasak dan mencuci pakaian dan mulai kehabisan pakaian bersih. Persediaan makanan pun terus berkurang dan daerah pekarangan desa mulai tercium bau tak sedap yang berasal dari bangkai sapi. 

Alfred dan 18 temannya berinisiatif untuk membangun posko bantuan mandiri. Mereka melakukan pendataan dengan bantuan 6 kepala dusun, yakni Debunaruk, Nuau, Tuiknor, Tualaran, Tasi’ulun, Dusun Tasibalu) juga organisasi desa untuk membangkitkan masyarakat dari keterpurukan yang dihadapi. 

“Awalnya data penduduk yang kami punya masih umum, lalu kami minta bantuan ke posyandu dan kepala dusun setelahnya kami sinkronkan hingga siap untuk membuat pos logistik bantuan. Kami memprioritaskan keluarga dan individu yang rentan penyakit seperti janda, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui,” ujar dia ketika ditelepon hakasaasi.id pada Senin (19/4). 

Inisiatif ini sendiri dilakukan karena mulai muncul banyak keluhan yang berasal dari warga, terutama lansia dan anak-anak. Keluhan umum yang paling sering muncul adalah gatal-gatal, batuk pilek dan mual-mual. 

Beberapa perempuan yang tengah mengalami masa menstruasi, mengandung, dan menyusui juga mengeluhkan ketiadaan fasilitas dan perlengkapan kebutuhan kesehatan mereka. 

Mereka, kata Alfred, berkonsultasi terkait gangguan alat reproduksi. Ia khawatir dengan keadaan para perempuan yang tengah hamil dan menyusui. “Karena tak banyak pilihan makanan mereka harus mengkonsumsi mie instan yang kurang untuk memenuhi gizi” ucapnya.

Posko bantuan mandiri ini mulai melakukan upaya mendapatkan air bersih dengan menyedot sumur. Mereka mendapat bantuan satu unit pompa air. 

“Tapi, untuk kembali normal, butuh waktu yang ga sebentar. Harus berkali-kali. Karena air di daerah kami bukan cuma air bawah tanah tapi dari resapan dan air payau.” ungkap Alfred

Warga pun juga bertahan dengan mengelola bahan-bahan pokok yang tersedia di dalam posko. Beberapa bantuan berupa susu, sandang dan kebutuhan khusus lainnya kian menipis. Bantuan sosial di posko utama harus dibagikan untuk 256 KK dengan jumlah 1.138 jiwa (Perempuan: 554, Laki-laki: 584).