Perusahaan Vinci Construction, investor pembangunan sirkuit Mandalika punya jejak hitam pelanggaran HAM. Catatan ini tercecer di beberapa negara. 

Isu pelanggaran HAM dalam penggarapan proyek Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) Mandalika mengemuka pasca pelapor khusus PBB menemukan indikasi pelanggaran HAM. Pelapor Khusus PBB itu pun menegur beberapa perusahaan yang terlibat penggarapan KEK Mandalika, salah satunya Vinci Construction Grand Projets (VCGP), sebuah perusahaan asal Perancis.

VCGP merupakan investor pembangunan distrik olahraga dan hiburan yang salah satunya berbentuk street circuit dan fasilitas penunjang lainnya. Street circuit inilah yang digadang-gadang menjadi lintasan lomba MotoGP dan SuperBike 2021 di Mandalika. 

Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) selaku perusahaan pelat merah yang mengurus KEK Mandalika menjelaskan VCGP menggelontorkan investasi sebesar USD 1 miliar selama 15 tahun.

VCGP sendiri merupakan anak perusahaan VINCI Construction, yang merupakan perusahaan konsesi dan konstruksi yang berkedudukan di pinggiran kota Paris.  Menurut situs Corporate Watch, perusahaan ini memiliki lebih dari seribu anak perusahaan yang beroperasi di sejumlah negara. Laporan lembaga akuntan publik Deloitte 2019 menyebutkan Vinci Construction merupakan perusahaan konstruksi dengan pendapatan terbesar ke-5 di dunia. 

Namun, perjalanan perusahaan ini tak pernah luput dari keterlibatannya dalam proyek-proyek yang ternoda isu pelanggaran HAM di beberapa negara, berikut beberapa diantaranya::

Qatar

Sumber Foto : www.asso-sherpa.org

Pada 2014, organisasi pemantau HAM yang berkedudukan di Perancis, Sherpa, menemukan kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada para pekerja konstruksi venue Piala Dunia Qatar 2022 yang dibangun anak perusahaan Vinci Construction di Qatar yakni Qatar Diar Vinci Construction. 

Dalam laporan berjudul “Fifa World Cup 2022: modern slavery in Qatar’, Sherpa menemukan isu ketidak laikan kerja seperti jam kerja yang panjang mencapai 66 jam seminggu. Selain itu ditemukan juga buruknya akomodasi seperti sempitnya kamar yang membuat mereka harus berjejal untuk beristirahat.

Sherpa juga menemukan sejumlah isu seperti minimnya sistem keamanan yang membuat pekerja rentan mengalami kecelakaan saat bekerja dan sistem pendukung dalam menghadapi cuaca Qatar. Dua isu ini yang disinyalir menjadi penyebab tingginya jumlah pekerja meninggal dunia. 

Para pekerja juga diancam penyitaan paspor atau pemecatan bila mereka melakukan protes terkait keadaan kerja. 

Pada 2018, Sherpa menemukan permasalahan lain yakni isu kelayakan upah bagi para buruh migran yang bekerja untuk venue Piala Dunia tersebut.

Rusia

Sumber foto : vinci-concessions.com

Vinci Construction juga terlibat dalam proyek kontroversial di Rusia yang dinilai melanggar transparansi keuangan dan berpotensi merusak lingkungan. 

Lembaga Bankwatch Network mencatat keterlibatan Vinci Construction dalam proyek ini melalui perusahaan LLC Severo-Zapadnaya. Perusahaan ini memenangkan salah satu seksi jalan tol yang menyambungkan kota Moskow dan St. Petersburg pada 2008. Vinci Construction kala itu merupakan pemegang 50 persen saham perusahaan tersebut. 

Indikasi pelanggaran transparansi keuangan dalam proyek itu terkuak ketika nilai proyek yang diajukan LLC Severo-Zapadnaya justru yang paling mahal di antara peserta tender, yakni mencapai 60 miliar rubel. Faktanya pembangunan proyek tersebut, tak dibiayai melalui investasi, melainkan menggunakan pajak warga termasuk dana pensiun. 

Proyek itu juga diprotes karena dinilai bakal merusak Hutan Khimki yang terletak di sekitar Moskow. 

Pemerintah Rusia menghentikan pembangunan proyek tersebut pada 2010 setelah warga dan aktivis melancarkan protes.

Inggris

Vinci Construction diketahui terlibat dalam skandal perburuhan yang terjadi di Inggris. Skandal ini adalah pengumpulan data pribadi milik buruh konstruksi  secara diam-diam.  Data tersebut meliputi nama, alamat, nomor asuransi, pemberitaan media, hingga penilaian para manajer terhadap para buruh. 

Keterlibatan Vinci Construction dilakukan melalui perusahaan konstruksi miliknya Norwest Holst Group. Perusahaan ini tergabung dalam asosiasi perusahaan konstruksi bernama Consulting Association yang beranggotakan 40 perusahaan konstruksi di Inggris Raya. Asosiasi inilah yang melakukan pengumpulan data secara diam-diam itu. 

Data ini kemudian dibagikan kepada para perusahaan anggota asosiasi sebagai filter perekrutan kerja. Consulting Association menghimpun dan memberikan informasi pribadi miliki pekerja untuk mencegah sosok-sosok pekerja yang tak diinginkan, seperti aktivis buruh untuk bekerja di perusahaan mereka.

Vinci serta perusahaan lain yang terlibat dalam asosiasi itu diminta meminta maaf dan membayar kompensasi kepada pekerja yang terdampak praktik mereka.

Here

Perancis

Vinci Construction turut terlibat dalam proyek kontroversial di negaranya sendiri, yakni penggusuran kamp sekitar 10 ribu pengungsi di Calais pada 2016 lalu. Menurut Corporate Watch, penggusuran ini dilakukan oleh anak perusahaan Vinci Construction, yakni Sogea Nord Hydraulique atas arahan pemerintah Perancis.

Selain itu, mereka juga sempat digadang-gadang terlibat dalam perencanaan pembangunan bandara di wilayah pertanian di Nantes. 

Namun, warga dan aktivis menolak perencanaan pembangunan bandara itu. Akibat protes dari warga, pembangunan bandara batal dilaksanakan.