Janji pembangunan selalu saja manis, sebut saja membuka lapangan pekerjaan, memajukan daerah, memajukan ekonomi dan teknologi, serta lainnya. Janji itu pula yang diucap ketika tangan Budiman Sudjatmiko menyapu lahan seluas 888 hektar di Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat. 

Lahan itu kelak akan disulapnya menjadi bangunan dan segala fasilitas untuk mendukung perusahaan digital dari seantero dunia. Semua fasilitas itu dibangun dengan dana Rp 18 triliun dari duit swasta, tak perlu duit negara. 

Sukabumi, kata dia, akan menjadi kantor perusahaan pengembang teknologi berbasis nano, kecerdasan buatan, kuantum, biologi, penyimpanan energi, dan lainnya. Produk mereka akan melalui berbagai infrastruktur penghubung seperti akses Tol Bocimi (seksi II Cibadak), Pelabuhan Laut Pengumpan Regional atau PLPR wisata dan perdagangan Palabuhanratu, Bandara Sukabumi-Cikembar yang akan dibangun, dan double track kereta api Sukabumi. 

Konsepnya sederhana berbagai bangunan untuk fasilitas perkantoran, riset, bahkan tenaga listrik mandiri akan di bangun di lahan milik Bintang Raya Lestari. Lahan seluas 888 ha terkesan terbengkalai karena penggarapan untuk ekowisata yang lesu karena ketiadaan akses. PT Amarta Karya dan Kiniku Bintang Raya KSO akan menyulap untuk penyediaan fasilitas. industri digital. 

Kelak bangunan itu akan disewa berbagai industri digital sekelas Google, Apple, Whatsapp, atau apapun. Sederhananya, lembah silikon itu akan ramai disewa dan menjadi tempat beraktivitas 

Sudah beberapa kali janji pengembangan industri digital ini diumbar. Sebut saja Teknopolis di Bandung, Bekraf Creative District (BCD), Apple Developer Academy berada di kawasan BSD Tangerang Selatan, dua kawasan industri di Piyungan DIY, Papuan Youth Creative Hub di Jayapura, dan Ekosistem Digital Terintegrasi di KEK Singhasari Malang. 

Namun tak satupun janji yang terlanjur diumbar itu menghasilkan pusat industri digital. Peluang gagal pun menganga lebar. 

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil misalnya pernah mengumbar hal yang sama enam tahun silam ketika masih duduk sebagai Walikota Bandung. Ia menyebutkan mencium potensi ekonomi di bidang teknologi ketika kota yang dipimpinnya menggadang pembangunan Bandung Teknopolis di Gedebage. 

Komplek yang akan dibangun di atas lahan seluas 800 ha itu akan menjadi rumah bagi perusahaan macam Google, Facebook, dan lain sebagainya. Sudah ada beberapa perusahaan yang siap menempati lembah silikon ala Bandung ini. Namun ditunggu bertahun-tahun rencana pembangunan itu akhirnya menguap begitu saja. 

Kang Emil pun menitip pesan ketika Budiman mengumbar Silicon Valley Sukabumi, jangan sampai umbar janji itu hanya gimmick. Ia mengingatkan setidaknya ada tiga faktor pendukung utama ketika ingin meniru kawasan Silicon Valley di Santa Clara Valley yang berada di bagian selatan Bay Area, San Fransisco. Ketiganya adalah periset, industri pendukung inovasi, dan institusi finansial. 

Pendapat Emil bukanlah cibiran, ia pernah gagal dengan sesumbar yang sama sekaligus ia kini duduk sebagai Gubernur Jawa Barat yang juga membawahi Sukabumi. Kasihan warga sekitar jika mimpi itu hanya pepesan kosong. 

Mungkin solusi sederhana lebih bermanfaat bagi penduduk sekitar. Angka melek internet di kota itu masih sangat rendah. Data Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Sukabumi saja mencatat baru 3 persen dari 18 ribu UMKM di kota itu yang melek internet, yakni 405 UMKM. 

Tak perlu muluk-muluk menghadirkan industri digital kelas dunia untuk menciptakan keterbukaan teknologi. Cukup berikan akses internet gratis bagi penduduk. Atau paling tidak jika ingin memanfaatkan lahan buka saja warung internet gratis terbesar di nusantara.