Radang kulit di wajah Stella Monica akibat perawatan kecantikan justru dibalas ancaman pidana. UU ITE masih menjadi momok bagi masyarakat. 

Nasib Stella ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ia mengalami peradangan di wajahnya usai mendapat perawatan di klinik kecantikan L’VIORS Surabaya. Namun keluhannya justru berbalas ancaman pidana UU ITE.

Cerita ini bermula ketika ia menuliskan keluhan kepada dokter yang merawatnya. Percakapan itu ia unggah ke media sosial secara terbatas menggunakan fitur close friend di Instagram Story. 

Postingan tersebut pun mendapat tanggapan koleganya. Mereka pernah mengalami hal yang sama di klinik yang sama. Namun mereka heran dengan peradangan dan keputusan Stella untuk menghentikan perawatan. 

“Dia (Stella) tidak menyebutkan nama klinik, yang justru menyebutkan nama klinik itu temannya dia. Tapi, dengan bukti tangkap layar percakapan itu dia dilaporkan,“ ucap salah satu tim pendamping hukum Stella dari Paguyuban Korban UU ITE (PAKU ITE), Anindya Shabrina.

PAKU ITE terdiri dari LBH Surabaya, SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network), LBH FSP KEP KSPI Gresik, LBH Buruh dan Rakyat Jawa Timur juga mengajak organisasi sipil, kolektif/komunitas, akademisi, dan individu untuk terlibat dalam KOMPAK (Koalisi Masyarakat Pembela Konsumen) advokasi nasional untuk kasus Stella.

Saling balas di media sosial ini berbuah surat somasi oleh pengacara klinik L’VIORS Surabaya. Mereka menuding Stella melakukan pencemaran nama baik dan menuntut permintaan maaf di media massa (koran) minimal setengah halaman untuk tiga kali penerbitan berbeda hari.

Stella dan keluarga telah mengupayakan agar permasalahan ini dapat diselesaikan melalui jalan damai tetapi pihak L’VIORS menolak. 

Pada tanggal 7 Oktober 2020, tiga orang anggota kepolisian dari tim Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim mendatangi rumah Stella dan membawa surat yang menyatakan bahwa status Stella sudah menjadi tersangka atas dasar pasal 27 ayat 3 jo. Pasal 45 ayat 3 UU ITE. Stella terancam hukuman maksimal adalah penjara 4 tahun dan denda Rp 750 juta.

Stella Monica memulai sidang dakwaan pertamanya pada Rabu lalu (14/4) terkait tuduhan kasus pencemaran nama baik akibat unggahannya di media sosial tentang kondisi kulitnya usai melakukan perawatan di klinik L’VIORS Surabaya.

Menurut Anindya Shabrina, kasus ini berjalan janggal. Stella seharusnya dilindungi sebagai konsumen yang mengutarakan pendapatnya atas pelayanan yang ia alami.

“Sebenarnya kita ini punya undang-undang yang melindungi konsumen, yakni undang-undang No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Bahwa, konsumen sadar akan hak-haknya dan itu dilindungi dalam undang-undang,” ucapnya.

Seharusnya, kata dia, pemberlakuan UU ITE untuk Stella aneh. Apalagi Stella tidak melakukan review, dia hanya mengunggah tangkapan layar chat dengan dokternya. Dia tidak menulis di kolom komentar klinik, dia bahkan tidak menyebutkan nama klinik, tapi dia tetap dilaporkan

Langkah penegak hukum membawa kasus ini ke persidangan pun justru tak masuk akal. Mereka main asal tangkap dan membuat masyarakat resah dengan metode penegakan hukum semacam ini. 

“Ada juga youtuber yang pernah diancam oleh perusahaan makeup tapi sepertinya tidak sampai jalur hukum. Cuma ya itu tadi, UU ITE memberikan ruang karena sangat karet penafsirannya bagi orang-orang yang gampang sekali baper untuk lapor,” terangnya.