Sumber Foto : akurat.co

Aktivitas pertanian di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur masih lumpuh karena akses terhambat endapan lumpur. Irigasi pertanian pun mampet karena beberapa bendungan utama hancur. 

Mandeknya aktivitas pertanian ini juga diakibatkan karena warga masih mengungsi karena bantuan belum mencapai tempat tinggalnya. Saat ini, kondisi belum kondusif karena adanya endapan lumpur yang menghentikan pekerjaan para petani. 

Delpedro Rimansyah, tim riset dari Lokataru Foundation, yang datang sebagai bagian relawan menyebutkan sebagian besar warga masih sibuk bergotong royong untuk membersihkan pekarangan rumah dan daerah sekitar tempat tinggal. 

Meski badai Siklon Seroja telah berlalu namun dampak kerusakan masih belum seluruhnya dapat ditangani. Selain korban jiwa, kerusakan tempat tinggal, sekolah, tempat ibadah, tiang patah, pohon tumbang, dan tegangan listrik yang terputus merupakan sebagian dari kerugian yang dirasakan oleh warga Flores. 

“Karena pembagian belum merata, jarak antar wilayah lumayan jauh. Jadi bantuan belum mencakup wilayah yang jauh. Jalan untuk transportasi ke sana pun masih belum diakses…” ungkap Pedro

Dikutip dari taklale.com, beberapa daerah seperti Busalangga, Nggelak, Batutua, Oebou dan Nemberala masih mengalami pemadaman listrik akibat jaringan listrik yang rusak berat. Keterbatasan alat transportasi pun membuat beberapa daerah belum bisa terjangkau oleh tim penyelamat. 

Beberapa daerah sekitar radius bendungan yang ikut terdampak pemadaman listrik adalah Kelurahan Prailiu, Lambanapu, Mau Hau, Mauliru, Kambaniru, Maulumbi, dan Desa Kiri Tana

Saat ini, warga harus mengandalkan bantuan dari donasi yang datang. Penanganan bencana Kota Kupang masih berupaya untuk memberikan distribusi yang merata untuk beberapa daerah.

Warga Kabupaten Flores, Nusa Tenggara Timur berusaha bangkit dan fokus pada kegiatan pemulihan setelah kota porak poranda akibat Siklon Seroja yang menyebabkan banjir bandang pada 4 April 2021 pukul 01:00 WIT.

Sebelumnya Koordinator Desk Bencana Walhi NTT, Dominikus Karongara, meminta pemerintah daerah untuk menyiapkan mitigasi untuk berbagai bencana. Banjir Bandang yang menimpa NTT, memperlihatkan betapa rentanya daerah ini akan terpaan bencana. Hingga hari ini, korban meninggal dunia akibat musibah ini telah bertambah menjadi 181 orang dan korban hilang mencapai 47 orang.