Angin badai Siklon Seroja seperti mengejar masyarakat Pulau Rote pada Minggu awal bulan April lalu (4/4). Kemanapun mereka berlindung, angin membabat atap bangunan.

Air laut seperti mengamuk di pesisir Pulau Rote ketika Yuaniken Lestari Siokain, seorang Ketua Majelis Jemaat GNIT Kalcari Bebalain, menyiapkan keperluan ibadah Paskah pada Sabtu malam (3/4). Telur-telur dan roti sudah disiapkan untuk Misa. Saat itu beberapa warga di pesisir Rote telah mengungsi karena air laut sudah naik dan membuat warga harus mengungsi akibat banjir pesisir.

Ia mendapatkan kabar peringatan dari media online, bahwa pada jam satu malam, pusat badai akan sampai di Rote. Namun, Yuaniken tidak terlalu khawatir. Ia memperkirakan bahwa rumah pelayanan yang keluarganya tinggali kini masih kuat dalam menahan angin badai yang akan menghampiri.

Pada jam 8 malam, ia menghubungi beberapa jemaat untuk menanyakan keadaan mereka. Saat itu beberapa pemuda masih melakukan ibadah, Yuaniken meminta mereka segera pulang karena badai akan menghampiri.

Pesan itu justru bersambut angin kencang. Beberapa atap rumah mulai terbawa angin. Sementara Yuaniken dan keluarganya sendiri di masih bertahan di rumah pelayanan.

Hingga jam 12, rumah mereka masih aman dari serangan badai. Namun mereka ketakutan hingga tak bisa tidur. Mereka duduk, berjaga, dan sesekali suaminya keluar kamar, melihat apakah seng rumahnya terbawa angin. Tapi, tidak ada satu seng pun yang terlepas.

“Jadi kami merasa masih aman, rumah kuat. Kami masih tetap di dalam rumah. Jam 11-12 jemaat juga menghubungi kami bahwa sudah pindah, mereka memberitahu titik-titik pengungsian yang dapat didatangi,” pintanya.

Sampai pada akhirnya ketika jam 3, angin sangat keras datang dari laut lepas di belakang rumahnya menghembus membawa seluruh atap dapur, seng bersama kayu-kayunya. Diikuti dengan teras rumah yang mulai roboh perlahan.

“Kami bertiga sempat berdoa dulu di dalam kamar, tapi begitu selesai berdoa, seng kamar kami yang mulai terangkat, lalu akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari rumah untuk pergi mencari tempat yang aman,” pungkasnya.

Melihat atapnya yang terbang tertiup angin, Yuaniken segera mengangkat anaknya yang tertidur lelap ke depan. Kebetulan mobilnya yang berada di teras masih selamat, Mereka pun akhirnya keluar menuju rumah kepala desa menjelang subuh..

Yuaniken ingat mengenai titik-titik pengungsian yang diberikan oleh jemaatnya. Tetapi lokasi yang terlampau jauh membuat mereka enggan ke sana. Ia dan keluarganya memutuskan untuk pergi ke rumah kepala desa karena itu rumah terdekat yang ada dan rumah itu yang ia anggap aman karena di sekelilingnya tidak ada pohon.

Sesampainya di rumah kepala desa, ternyata sudah ada 3 kepala keluarga yang mengungsi. Angin masih terasa kencang, mata mereka tak pernah lepas mengamati pohon yang membatasi rumah itu dengan gereja. Jika pohon itu roboh, mereka harus pergi.

Badai mereda menjelang 6 pagi, mereka melihat kondisi sekitar. Sisa angin pagi itu membuat atap rumah kepala desa terbang, hingga mereka harus berlari mencari tempat berlindung lain, di SD Bandu.

Puluhan pengungsi sudah memenuhi gedung itu. Mereka memanfaatkan ruangan kelas untuk dijadikan tempat berteduh sementara. Yuaniken mendapatkan tempat di perpustakaan. Ia dan keluarganya tidur beralaskan matras milik sekolah.

Menjelang pukul 7.00 angin bertiup makin keras, dari SD Bandu, Yuaniken melihat semakin banyak rumah warga yang rusak akibat badai

Pada sorenya, Kepala Desa pun memutuskan untuk mengumpulkan para pengungsi untuk berkumpul di SD Bandu. Total pengungsi yang melindungi diri di sekolah tersebut mencapai 240 jiwa.

Bahan makanan kurang karena mereka tak banyak bekal. Para pemuda pun disuruh pergi ke rumah pengungsi untuk mengambil makanan yang ada di kulkas, di bawa ke tempat pengungsian, dimasak dan makan bersama, termasuk telur paskah Yuaniken.

Mereka bertahan di sekolah hingga Rabu (7/4), Sesudahnya ia ditawarkan untuk tinggal di rumah jemaatnya yang masih dapat ditinggali karena tidak rusak. Akan tetapi, anaknya menderita demam sehingga ia harus menghabiskan semalam di ruang UGD.

Yuamiken dan beberapa warga harus hidup saling menumpang karena kondisi rumah yang rusak. Perbaikan masih dilakukan ala kadarnya karena tak banyak bantuan material.

“Kalau data yang saya dapat dari team, ada sekitar 85 rumah desa rusak, dan 64 daerah rumah jemaat rusak dan 30 diantaranya rusak berat. Yang penting hanya bisa masuk dan tinggal di dalam.”

Yuaniken juga menjelaskan bahwa perbaikan rumah warga hingga kini masih memakai inisiatif dana warga sendiri dan dilakukan dengan sistem gotong royong. Jadi untuk mereka yang berkecukupan, masih pakai sistem pinjam. Jadi untuk yang tidak berkecukupan mereka akan meminjam seng milik tetangga.