Anak Jumhur Hidayat, Muqtav, akhirnya bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) agak tenang. Laptop miliknya yang turut disita oleh polisi atas kasus dugaan penyebaran berita bohong bapaknya sudah dikembalikan. Entah apa salah laptop itu hingga harus diambil paksa. 

Persidangan Jumhur pada Senin (12/4) memutuskan bahwa laptop milik Muqtav dikembalikan dengan status dipinjam pakai. Jumhur pun merasa berterima kasih atas putusan ini. Karena tanpa laptop ini anaknya kesulitan untuk sekolah online dan bahkan beberapa tugasnya masih berada di dalam laptop tersebut. 

“Laptop itu memang tidak pernah dipakai oleh Jumhur. Isinya itu ada game (anak saya), ada pelajaran-pelajaran dia, tugas-tugasnya dia. Sehingga anak saya sempat kesulitan kemarin karena bisa ngumpulin jadinya karena sudah dia bikin disitu. Jadi tidak bisa tepat waktu dikumpulin,” ucap Alia Febyani, istri dari M. Jumhur Hidayat.

Alia bercerita selama ini anaknya kesulitan untuk melakukan pembelajaran secara online. Meskipun ia masih dapat menghadiri sesi kelas dengan menggunakan telepon genggam miliknya, mengerjakan tugas memakai handphone bukan solusi yang praktis. Tidak jarang anaknya itu mendapat teguran dari pihak sekolah.

Untungnya, ibu dari kawan Muqtav tidak tega dengan keadaan ini dan membelikan siswa kelas delapan tersebu laptop baru untuk dipakai belajar sementara.

Selain itu, pada persidangan kali ini Jaksa Penuntut Umum mengundang seorang ahli sosiologi hukum yakni Trubus Rahadiansyah. Ia menerangkan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan sosial.

“Namun, itu menjadi persoalan (hukum) kalau pro kontra itu bertendensi atau berpotensi (mengarah) ke kekacauan,” jelasnya.

Jumhur sendiri menanggapi kesaksian ahli itu  dengan mempertanyakan soal statys dari kasus yang sedang ia jalani kini. Ia mempertanyakan soal cuitannya yang dinyatakan mengandung ujaran kebencian terhadap golongan pengusaha. Sementara, pada saat menjadi saksi dalam persidangan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan bahwa hal seperti ini sudah biasa terjadi.

Menjawab pertanyaan ini, Trubus menilai bahwa sesuai dengan fakta tersebut, maka kasus ini seharusnya sudah selesai karena tidak ada satu pihak pun yang dirugikan dalam perkara ini.