Sumber foto : theguardian.com

Peringatan Siklon Seroja masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan Pemda NTT. Telatnya mitigasi membuat jumlah korban cukup tinggi.  

Koordinator Desk Bencana Walhi NTT Dominikus Karongara menganggap pemerintah daerah NTT dinilai lambat dalam menanggapi potensi bencana Siklon Seroja. Korban jiwa dan kerugian material akibat bencana itupun tak terhindarkan. Menurutnya Badan Meteorologi dan Geofisika sudah memberikan peringatan akan kehadiran siklon tropis itu.

“Peringatan ada dari BMKG. Cuma upaya mitigasinya itu yang tidak dilakukan” kata Koordinator Desk Bencana Walhi NTT Dominikus Karongara kepada Hakasasi.id, Senin (12/4).

Hujan deras turun di Kupang dan sekitarnya selama dua hari tanpa henti sejak (2/4). Namun, pemerintah daerah NTT tak juga kunjung memberikan peringatan atau upaya evakuasi kepada warga.

“Sebenarnya feeling harus jalan lah pemerintah di sana. kalau sudah seperti itu minimal melakukan  upaya evakuasi karena tinggal di rawan bencana, karena tidak dievakuasi, lalu melihat kondisi hujan yang tidak berhenti harusnya sudah dievakuasi,” kata Dominikus. 

Dominikus menjelaskan lambatnya pemerintah daerah ini seolah tak pernah dievaluasi. Ia menceritakan hal serupa juga pernah terjadi kala Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata di pemerintah daerah mengalami erupsi, Desember 2020 lalu. Dominikus yang berada di Lembata menyaksikan warga terpaksa mengevakuasi diri  tanpa ada panduan pemerintah daerah. 

“Mereka (pemda) datang sudah dua jam kemudian. Orang itu (lari) dari tempatnya mereka pakai lari saja. Tidak ada mobilisasi. Rata-rata semua pemda di kabupaten memang buruk dalam mitigasi bencana,” kata Dominikus. 

Provinsi NTT merupakan salah satu wilayah yang rawan diterjang bencana seperti topan, banjir, dan longsor yang disebabkan oleh siklon tropis. 

Wartawan Ahmad Arif merujuk arsip Kompas menulis bahwa siklon raksasa di sekitar bulan April  1973 juga pernah menghantam wilayah Flores dan sekitarnya sehingga menimbulkan topan yang menewaskan 1500 orang serta menyebabkan sekitar 1800 rumah rata dengan tanah.

Dalam artikel tersebut, Arif juga mengutip peneliti meteorologi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Suayadhi yang mengatakan sejak 1983 sampai 2019, sudah terbentuk 10 siklon di wilayah perairan Timur Indonesia, tepatnya di Laut Banda dan Arafuru. Adapun siklon besar lain juga pernah menerpa wilayah sekitar NTT pada April 2002 dan 2003.

Melihat rentannya NTT diterpa bencana, Dominikus meminta pemerintah daerah NTT menyiapkan mitigasi untuk berbagai bencana.

“Harus serius membikin kajian, yang bisa menjadi rujukan ketika terjadi bencana dan mitigasi jangka pendek itu dilakukan,” kata Dominikus.

Bencana banjir bandang NTT menyebabkan 177 orang meninggal dunia, sementara 45 orang masih hilang. Wilayah Adonara, Flores Timur, dan Lembata merupakan wilayah yang paling terdampak.

Gubernur NTT Victor Laiskodat pun menilai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT. Victor pun mencopot sang kepala BPBD, Thomas Bangke, Rabu (7/4).