(oleh Aris Santoso, pengamat militer)

Bulan April ini, Kopassus akan memperingati hari jadinya ke-69. Benar, Kopassus resmi berdiri pada tanggal 16 April 1952 di Bandung. Dalam rentang waktu sekian panjang, satuan yang juga dikenal sebagai Korps Baret Merah, telah berkembang menjadi satuan legendaris dan kebanggaan bangsa.

Kopassus biasa melakukan operasi khusus, yang bersifat rahasia dan “senyap”, dan gaya operasi yang selalu tertutup ini, rupanya menular juga pada  sejarah satuan, yang juga diliputi kabut misteri. Nama-nama purnawirawan jenderal mantan  Kopassus, seperti Luhut B Panjaitan, Prabowo Subianto, Hendro Priyono, Agum Gumelar dan seterusnya, mungkin sudah lekat dalam ingatan publik karena keberadaannya di lingkaran elite kekuasaan.

Namun bisa jadi masyarakat awam, khususnya generasi milenial,  kurang mengenal triumvirat pendiri Kopassus. Mereka adalah Ignatius Slamet Riyadi, Alex Evert Kawilarang, dan Mochammad Idjon Djanbi. Berikut sekilas informasi tentang trio pendiri Kopassus tersebut, dan sebisa mungkin dihubungkan dengan situasi aktual masa kini.

Penanda Kota Solo

Slamet Riyadi diabadikan sebagai nama jalan, yang seolah menjadi  boulevard Kota Solo. Jalan itu  membentang dari arah Kartosuro,  gerbang Solo dari arah barat,  sampai ke timur, arah menuju luar kota  (Surabaya). Ujung timur Jl Slamet Riyadi ditandai dengan monumen yang menggambar sosok dirinya, yang diresmikan tahun 2007 oleh  (Presiden) Joko Widodo, saat masih menjadi Wali Kota Solo.

Dalam sejarah selalu ada tikungan tak terduga, sebagaimana terjadi Solo hari ini. Solo yang dulu lebih dikenal sebagai kota wisata budaya dan kuliner, kini telah memiliki atmosfer berbeda. Dalam peta politik mutakhir, Solo menjadi episentrum, sehubungan karir politik Jokowi (dan Gibran) yang moncer. Sejak Jokowi berkuasa, semakin banyak orang berdatangan ke Solo, yang itu berarti  akan semakin banyak yang melintasi Jalan Slamet Riyadi, sehingga “boulevard” yang membelah Kota Solo akan semakin populer

Benar Slamet Riyadi adalah tentara dan jagoan perang yang berasal dari Solo, sehingga namanya dimuliakan seperti itu. Bandingkan dengan Jalan Slamet Riyadi di Jakarta, misalnya, yang tidak seberapa besar, sekadar cabang dari Jl Matramana Raya. Masih di sekitar Solo juga, tepatnya di Kartosuro, terdapat markas Grup 2 Kopassus, yang kompleksnya mendapat sebutan Ksatrian Slamet Riyadi.

Slamet Riyadi sendiri sejatinya tidak pernah menyaksikan secara langsung, ketika Kopassus dilahirkan pada 16 April 1952, karena dirinya telah gugur lebih dulu, tepatnya pada 4 November 1950, saat operasi penumpasan gerakan separatis di Ambon. Meskipun begitu, Slamet Riyadi tetap dianggap sebagai penggagas pembentukan satuan komando. Saat operasi di Ambon tersebut, dalam setiap pertempuran, pasukan TNI sering kuwalahan menghadapi pasukan komando eks KNIL, yang biasa dikenal sebagai “baret hijau”.

Pasukan komando eks KNIL tersebut jumlannya relatif kecil, namun bisa bergerak cepat, dan sangat mematikan. Di saat jeda pertempuran, terjadi pembicaraan antara Letkol Slamet Riyadi dan Kolonel Kawilarang (pimpinan tertinggi operasi), tentang arti penting TNI untuk membentuk satuan komando, terinspirasi performa pasukan baret hijau eks KNIL tersebut. Keduanya sepakat bila operasi di Ambon selesai, pembentukan satuan komando harus segera diwujudkan. Dalam setiap upacara peringatan HUT Kopassus, nama Slamet Riyadi selalu didengungkan kembali, sebagai penggagas pembentukan satuan komando.

Nyaris dilupakan

Nama Kolonel (Purn) Alex Evert Kawilarang hampir saja terlupakan sebagai tokoh pendiri Kopassus. AE Kawilarang baru diangkat sebagai warga kehormatan Kopassus pada 14 April  1999, atau dua hari menjelang HUT Kopassus ke-47. Bersyukur pimpinan Kopassus saat itu, yakni Mayjen Syahrir MS (Akmil 1971), cepat dan  tanggap dalam merehabilitasi kehormatan Kawilarang, sebab setahun kemudian (6 Juni 2000), Kawilarang meninggal dunia. Bila kehormatan Kawilarang tidak cepat dipulihkan, bukan hanya Kopassus, bangsa ini akan didera rasa sesal sepanjang hayat.

Tak bisa dipungkiri, Kopassus bisa berdiri karena surat keputusan yang ditandatangani Kawilarang, selaku Panglima Tentara dan Teritorium III (Kodam) Siliwangi, tertanggal 16 April 1952,  tanggal yang kemudian diperingati sebagai hari jadi Kopassus. Surat keputusan tersebut, pada intinya adalah perintah pembentukan pasukan komando. Selanjutnya perintah kepada Mayor Idjon Djanbi sebagai pelatih utama, untuk segera mempersiapkan kurikulum pendidikan, untuk selanjutnya melatih siswa dalam fase pendidikan lapangan.

Kolonel Kawilarang merupakan  atasan langsung Letkol  Slamet Riyadi pada operasi penumpasan RMS di Ambon. Menarik untuk disimak, bagaimana hubungan intensif antara dua perwira “jagoan perang” tersebut, bisa melahirkan ide brilian tentang urgensi keberadaan satuan komando (khususnya) bagi Angkatan Darat. Sampai sekarang, publik bisa mengetahui bahwa ide pembentukan pasukan komando berasal dari Slamet Riyadi, berdasar kesaksian Kawilarang. Dengan kata lain Kawilarang tidak mengklaim ide tersebut sebagai gagasannya.

Selepas dari operasi di Ambon, Kawilarang kembali berdinas di Bandung, karena diangkat sebagai Pangdam III Siliwangi. Dalam posisi ini, Kawilarang memiliki ruang bagi pembentukan satuan Komando yang sudah lama menjadi angan-angannya sejak lama. Namun sayang, karir cemerlang Kawilarang harus terhenti.

Kawilarang dianggap terlibat gerakan separatis Permesta, sehingga terpaksa harus mundur dari TNI. Kawilarang boleh saja pergi, namun surat perintah yang dikeluarkannya pada 16 April 1952, akan tetap abadi. Tanpa surat Kawilarang tersebut, kita tidak tahu bagaimana riwayat Kopassus akan bergerak.

Pilihan warna baret

Dari tiga tokoh yang sangat berperan di balik terbentuknya Kopassus, tentu Mayor Moch Idjon Djanbi yang paling banyak meninggalkan jejak, salah satunya adalah soal pilihan warna baret, yang akhirnya jatuh pada warna merah. Bila warna merah yang akhirnya dipilih, tentu ada subyektivitas dari Idjon Djanbi sebagai mantan anggota pasukan khusus KNIL (Korps Speciale Troepen, KST). KST sendiri berbaret hijau.

Pilihan baret merah tak bisa dilepaskan memori Djanbi, yang pernah dilatih pasukan para Inggris, yakni The Parachute Regiment. Perlu diketahui meski pernah bergabung di KST, Djanbi sempat memiliki pengalaman pribadi yang pahit dengan satuan tersebut. Itu sebabnya Djanbi lebih memilih warna merah, warna baret pasukan The Parachute Regiment, satuan legendaris Inggris, yang masih aktif sampai hari ini.

Ada banyak versi bagaimana Idjon Djanbi akhirnya bisa bertemu Kawilarang, untuk kemudian mendapat perintah (dari Kawilarang) untuk membentuk satuan komando. Selepas perang kemerdekaan, Idjon Djanbi mengajukan pensiun (dini) dari KNIL, untuk kemudian menjadi WNI, dan tinggal di Lembang sebagai petani bunga. Untuk kepentingan pembentukan satuan komando, status militer Idjon Djanbi diaktifkan kembali, dengan pangkat mayor.

Benar, masa lalu Idjon Djanbi linear dengan karakter Kopassus, yang tidak semua aspeknya bisa dijelaskan segara terang-benderang. Salah satunya adalah soal pilihan nama barunya, yang terdengar  tidak umum   bagi kebanyakan orang Indonesia setelah menjadi WNI. Sekadar diketahui nama Djanbi sebelumnya adalah Rokus Bernardus Visser.

Sekitar dua tahun yang lalu terbit biografi Letjen TNI (Purn) Achmad Wiranatakusumah, seorang perwira senior Divisi Siliwangi, yang dari segi generasi sedikit di bawah Kawilarang. Dalam biografi tersebut disebutkan, adalah Achmad Wiranatakusumah yang menemukan keberadaan Idjon Djanbi di Lembang, sebelum ditarik Kawilarang ke markas Kodam Siliwangi.

Namun yang lebih penting dari biografi ini, terkait Idjon Djanbi, adalah sejumlah foto dokumentasi Idjon Djanbi saat menjadi Komandan Kopassus yang pertama. Dalam seragam tahun 1950-an itu, di dada kanan Djanbi terdapat brevet  atau lencana (tanda kecakapan) para dari Inggris, dan terlihat jelas Djanbi belum memasang brevet Komando di dada kanan, sebagaimana anggota Kopassus pada umumnya.

Buku kedua yang memasang foto Idjon Djanbi dalam seragam Kopassus, adalah biografi dari Kol Inf (Purn) Agus Hernoto, seorang perwira baret merah yang terakhir bertugas di Opsus (operasi khusus), satuan intelijen terkenal di bawah Ali Murtopo. Dalam buku terakhir ini, di dada kiri  Idjon Djanbi sudah terpasang brevet Komando, sebagaimana yang kita kenal selama ini. Namun buku tersebut tidak menjelaskan, kapan dan dalam peristiwa apa gambar Idjon Djanbi itu.

Melalui penelusuran sumber lain, kemungkinan foto itu terjadi pada upacara HUT Kopassus ke-17, tanggal 16 April 1969, di parkir timur Senayan, Jakarta Pusat. Pada tanggal tersebut, Idjon Djanbi  menjadi tamu kehormatan, dengan memperoleh brevet (kehormatan) Komando. Memang nasib Idjon Djanbi hampir mirip dengan Kawilarang, yang perannya hampir saja dilupakan dalam sejarah pembentukan Kopassus. Sekitar tahun 1956 atau 1957, Idjon Djanbi melepas jabatan sebagai Komandan (sekaligus pelatih utama) Kopassus, dan dia pensiun dini untuk kedua kalinya.

Sekitar Maret 2013, nama Idjon Djanbi kembali “viral”, ketika sejumlah anggota Kopassus melakukan ziarah ke pusaranya di TPU Kuncen, Yogyakarta. Sejumlah anggota Kopassus memerlukan melakukan ziarah, sebagai ikhtiar konsolidasi dan memulihkan spirit, sehubungan dengan “Peristiwa Cebongan” di LP Sleman, DIY.

Dari peristiwa itu masyarakat menjadi paham, figur yang sangat berjasa dalam melahirkan Kopassus itu dimakamkan di pemakaman umun, bukan di TMP Semaki, yang juga berlokasi di Yogyakarta. Idjon Djanbi meninggal tahun 1977, di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Entah mengapa, tidak ada lembaga negara (khususnya TNI) saat itu,  yang mengusahakan agar dirinya bisa dimakamkan di TMP Semaki, sesuai dengan jasanya yang tak ternilai.