Sumber Foto : tirto.id

Warga Pulau Rote harus mempersiapkan gergaji mesin jika ingin melakukan perjalanan ke kota. Badai yang memporak porandakan hampir seluruh Provinsi NTT ini tak hanya membuat jalanan tertutupi lumpur tetapi juga batang pohon besar. 

Iswardi Lay, warga Pulau Rote, menceritakan perjalanannya ke Kota Ba’a dari desanya yang berjarak 15 km. Ia baru bisa melakukan perjalanan setelah pohon besar yang melintang jalanan dibersihkan dengan gergaji mesin. 

“Beta datang ke Kota Ba’a, kira-kira 15 Km dari tempat tinggal untuk baca WA dan melaporkan situasi ke keluarga dan handai taulan. Signal di Kota Ba’a juga tidak stabil kadang H+ dan kadang 4G, ” ucapnya saat di wawancara via whatsapp


(Sumber: Laporan Situasi Siklon Tropis Di NTT, CIS Timor, 7 April 2020)

Siklon Seroja telah meluluhlantakkan wilayah tempat tinggalnya. Banyak rumah termasuk rumah ibadah yang atapnya (utuh-utuh) terbang tertiup angin atau sengnya terbongkar di bawa angin. Selain itu banyak juga rumah yang rusak akibat tertimpa pohon.

Sesampainya di kota pun, ia bersama warga lainnya harus menumpang ke rumah pastori agar dapat mengisi baterai telepon seluler mereka.

Ia menyebutkan fasilitas komunikasi dan listrik di kotanya terhambat akibat dari badai siklon Seroja. Hingga Kamis (7/4) dini hari, sinyal komunikasi di Ronte masih sulit untuk diakses sehingga dirinya harus pergi ke kota Ba’a untuk menghubungi keluarganya.

Iswardi menyampaikan bahwa listrik di Rote sudah padam sejak hari Kamis (1/4) dan akan terus berlanjut karena banyak kabel yang terlepas dari tiang dan rumah penduduk.  Pihak PLN pun sudah bekerja sejak Kamis lalu untuk beberapa jaringan yang rusak pada hari Kamis.

Sejauh ini, Iswardi sendiri belum mendapatkan kabar mengenai korban meninggal di tempatnya.

Menurut laporan dari Circle of Imagined Society Timor (CIS Timor), belum ada korban meninggal yang tercatat di Rote Ndao. Akan tetapi, terdapat 672 jiwa harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Laporan ini juga menunjukan bahwa secara keseluruhan terdapat 128 orang meninggal, 74 orang hilang, 129 orang luka-luka dan 12.912 orang mengungsi.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa kini telah terbentuk pos koordinasi, adanya perbaikan jaringan listrik oleh PLN, Perbaikan jaringan telekomunikasi oleh Telkom, evakuasi korban oleh Basarnas, TNI, BPBD, Forum PRB, Relawan, telah dibukanya posko-posko pengungsian masyarakat dan bantuan darurat dari Pemerintah Pusat.

CIS Timor juga merekomendasikan dalam merespon situasi pasca-bencana, pemerintah harus melaksanakan Rencana Assessment, Memberi Dukungan Psikososial, Mendistribusikan non-food item seperti masker, selimut, barang kebersihan pribadi dan sebagainya, penyediaan air bersih, dan 44 unit closet portable untuk kebutuhan MCK.