Polisi menggunakan alat Cellebrite UFED untuk mengakses data pribadi Jumhur Hidayat tanpa seizin pemilik. Fakta ini terungkap dalam persidangan pada Senin (5/4). Lalu apa sih alat ini sebenarnya? 

Cellebrite sendiri adalah perusahaan yang berkutat di bidang pengumpulan, analisa dan manajemen data digital. Mengutip website resminya, setidaknya sudah 6.000 agensi penegakkan hukum di dunia menjadi klien dari perusahaan asal Israel tersebut.

Ruby Alamsyah, Pengamat Siber dan Digital Forensic, menjelaskan bahwa Cellebrite UFED adalah software mobile forensic, yang dapat berfungsi melakukan analisa terhadap barang bukti digital seperti smartphone, tablet dan mobile device lainnya. 

Cara melakukan analisa terhadap smartphone menggunakan Cellebrite adalah dengan menghubungkan langsung smartphone ke PC/laptop yang telah terinstall Cellebrite. Alat itu akan melakukan proses akuisisi data dan membuat laporan digital forensic atas smartphone tersebut.

Ia juga melanjutkan bahwa karena Cellebrite adalah mobile forensic tools, jadi metode yang digunakan bukan membobol, tetap melakukan akuisisi data secara fisik lalu dilanjutkan dengan proses analisa terhadap data-data tersebut.

Jenis data yang diambil pun beragam. Tidak hanya percakapan atau posting, tapi juga data-data multimedia.

“Seluruh data yang ada di smartphone, baik data operating system-nya, data call history, SMS, lokasi, isi percakapan di aplikasi pesan/messaging, isi/posting di aplikasi media sosial, foto, video baik di gallery maupun di aplikasi, dan lain-lain,” jelasnya.

Cellebrite mengaku bahwa perusahaannya dapat membantu para penegak hukum dalam mengatasi tantangan-tantangan investigasi dengan menggunakan sistemnya. Seperti salah satu alatnya yakni Cellebrite UFED yang dapat mengakses data secara sah menurut hukum menggunakan berbagai metode pengkoleksian data.

Namun, pada prakteknya alat-alat Cellebrite sering disalahgunakan untuk membobol data warga secara ilegal. Sebagai contoh, alat ini dipakai oleh pemerintah Hongkong untuk mengakses telepon genggam pada tahun 2019-2020. 

Selain itu, secara khusus alat Cellebrite UFED dipakai untuk membungkam oposisi politik di Russia. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya petisi agar Cellebrite menghentikan penjualan alatnya kepada rezim Putin. Dalam petisi itu juga dijelaskan bahwa pada tahun 2019, alat ini digunakan sebanyak 26.000 kali untuk membobol telepon genggam.