(oleh Aris Santoso, pengamat militer)

Konflik internal Partai Demokrat yang ramai belakangan ini, telah melibatkan tiga figur purnawirawan terkemuka, yakni SBY dan Moeldoko, dan AHY. Membahas konflik internal Partai Demokrat dalam perspektif politik, mungkin sudah sampai pada titik jenuh. Membahas karir ketiganya saat masih aktif di tentara dulu, juga menarik untuk diamati.

Membahas karir militer ketiga figur tersebut, bisa memberi  sedikit gambaran, betapa variatif model pengembangan dan promosi bagi seorang perwira TNI, selepas lulus dari Akmil. Tiga tokoh yang sedang kita bahas ini, kebetulan mencapai predikat yang sama saat lulus dari Akmil, mereka adalah lulusan terbaik di generasi masing-masing, yang biasa disimbolisasi dengan penghargaan Adi Makayasa.

Antara Kostrad dan Kodam Jaya

SBY  (lulusan terbaik Akmil 1973), dan Moeldoko (lulusan terbaik Akmil 1981). SBY adalah tipikal perwira Kostrad, dan sempat menjadi Komandan Brigif Linud 17/Kujang I, satuan yang paling terkenal di jajaran Kostrad. Demikian juga Moeldoko, sempat pula menjadi Komandan Brigif 1/Jaya Sakti, satuan di bawah Kodam Jaya.

Berbeda dengan era sebelumnya, mulai dekade 1980-an, rotasi bagi perwira lulusan Akmil dibentuk sedemikian rupa, sehingga jarang sekali seorang perwira terafiliasi pada kodam tertentu, termasuk terafiliasi ke Kostrad. Oleh karena itu, analisis berdasarkan asal-usul kodam atau rumpun (ikatan kultural berdasarkan asal-usul kodam), bisa jadi telah menjadi usang.

SBY bisa disebut perwira tipikal Kostrad, namun juga sempat berkarir bagus saat ditugaskan di Kodam Jaya, dalam posisi Asisten Operasi dan Kasdam Jaya. Dengan kata lain SBY dalam dua posisi tersebut, sempat mewarnai Kodam Jaya. Sedikit berbeda dengan Moeldoko, yang begitu gemilang performanya di Cawang (Markas Kodam Jaya), namun seolah terkesan  datar saja saat berkesempatan tugas di Cilodong (Markas Divisi Infanteri 1 Kostrad). Moeldoko memang sempat menjadi Panglima Divisi tersebut, namun  hanya dalam hitungan bulan. Itu sebabnya Moeldoko belum sempat meninggalkan jejak, pada penugasan pertama dan satu-satunya di Kostrad.

Seingat saya, Moeldoko masuk Kostrad (2010) itu  sekadar “transit” agar dirinya bisa masuk level bintang dua (mayor jenderal), sebuah pola karir yang biasa dilakukan bagi perwira, khususnya yang akan diorbitkan. Benar, saat itu Moeldoko sedang disiapkan untuk menjadi Pangdam XII/Tanjungpura, beserta posisi strategis lainnya. Singkatnya bagi perwira orbitan seperti Moeldoko, karirnya sudah jelas tertata, dan sedikit banyak tentu ada peran presiden (selaku Panglima Tinggi TNI) saat itu, yaitu SBY.

Bila afiliasi Kodam atau rumpun boleh dikatakan sudah menjadi masa lalu, tidak demikian halnya dengan asal-usul satuan, khususnya bagi perwira yang berasal dari Kopassus (baret merah). Karena kualifikasinya teknis militernya yang lebih tinggi, yang bisa dikenali dengan (brevet) komando. Brevet komando ini pula, yang menjadikan menjadikan mereka bisa ditugaskan pada kodam dan satuan manapun, utamanya Kostrad. Sementara perwira dari kodam atau Kostrad, belum tentu bisa ditugaskan di Kopassus, bila tidak memiliki kualifikasi Komando.

Pensiun dini  AHY

Sebelum mengajukan pensiun dini (tahun 2016), AHY dalam posisi sebagai Komandan Yonif Mekanis 203/Arya Kemuning (Tangerang). Ditetapkannya AHY sebagai Komandan Yonif Mekanis 203, adalah kebijakan spesial pimpinan TNI AD, agar satuan ini cepat mencapai bentuk terbaiknya, mengingat  yonif mekanis termasuk model relatif baru, dibanding satuan infanteri (senapan) yang selama ini dikenal.

Sejak lulus dari Akmil tahun 2000, AHY “memilih” bertugas di Kostrad, yaitu Yonif Linud 305/Tengkorak (Karawang), satuan yang juga menjadi tempat SBY mengawali karirnya dulu. Sebagai lulusan terbaik, AHY bebas memilih satuan atau korps mana, sebagai tempat penugasan pertamanya. Tampaknya AHY lebih memilih mengikuti jejak ayahnya dengan memilih bertugas di Kostrad  (baret hijau), ketimbang Kopassus (baret merah), satuan yang identik dengan kakeknya (Sarwo Edhi Wibowo) dan pamannya (Pramono Edhi).

Karier AHY  boleh dikatakan sangat mulus, artinya dia mendapat perhatian khusus dari pimpinan TNI, agar portofolionya menjado lengkap. Seperti ayahnya dulu, setelah bertugas Yonif 305 dan Brigif Linud 17 (sebagai Kepala Seksi Operasi), AHY juga dimutasi ke Kodam Jaya, yakni sebagai Wakil Komandan Yonif 201/Jaya Yudha, satuan yang dulu pernah dipimpin Moeldoko pula.

Satu hal yang sangat disayangkan dari keputusan pensiun dini AHY, adalah waktunya yang terlalu cepat. Mengapa tidak sabar menunggu, setidaknya lima tahun, agar bisa mencapai pangkat brigjen, jadi ketika pensiun sudah mencapai level perwira tinggi (pati). Sementara dengan pensiun mayor seperti sekarang, pada akhirnya hanya menjadi olok-olok yang tiada habisnya.

AHY bisa merujuk pada Perdana Menteri Singapura Lee Shien Loong, yang di masa mudanya memiliki panggilan (akrab) BG Lee, karena ketika masih aktif di tentara, bisa mencapai pangkat BG (brigadier general) dalam usia relatif muda. AHY dan Lee Shien Loong memiliki modal sosial yang nyaris sama, yakni berlatar belakang keluarga elite, ayah mereka sempat menjadi orang nomor satu di pemerintahan.

Saat AHY mengundurkan diri tahun 2016, seniornya dari Akmil 1983 sudah ada yang masuk pos brigjen, yaitu Bambang Trisnohadi (lulusan terbaik Akmil 1983, kini Kasdam XVII/Cenderawasih). Dilihat dari tahun kelulusan dari Akmil,  ada jarak tujuh tahun antara Bambang Trisnohadi dan AHY.

AHY itu mirip SBY dan Moeldoko, sebagai perwira muda orbitan. Artinya bila AHY sedikit bersabar, hari-hari ini AHY sedang bersiap menerima bintang pertama di pundak. Terlebih di masa sekarang, ada begitu banyak posisi brigjen di TNI AD, ibaratnya AHY tinggal memilih jabatan brigjen yang dia suka. Namun kini semua sudah terjadi, rasanya bukan hanya TNI yang sedih,  merasa kehilangan salah seorang kader terbaiknya, publik juga ikutan menyayangkan keputusan pensiun dini AHY.