Polisi mengakses data pribadi Jumhur Hidayat sebelum penyitaan. Mereka menggunakan aplikasi bernama Cellebrite bikinan Israel. 

Ahli Digital Forensik Polri, M. Asep, mengakui pemeriksaan data pribadi Jumhur Hidayat dilakukan sebelum penyitaan barang pribadi dilakukan oleh penyidik.  Ia menyatakan ikut melakukan pemeriksaan atas data pribadi tersebut. Hal ini diungkap Asep ketika duduk sebagai saksi sidang kasus dugaan berita bohong dengan terdakwa Jumhur Hidayat pada Senin (5/4). 

Menurutnya barang bukti sudah diproses sebelum penyitaan memiliki kekuatan yang sah di mata hukum. Ia menceritakan bahwa sejak tanggal 13 Oktober 2020, Asep dan timnya telah mengolah data-data dari barang sitaan Jumhur. Padahal, surat penetapan penyitaan dari pengadilan baru keluar tanggal 26 Oktober 2020.

Ia memastikan data digital yang diambil dan diperiksa hanya terkait dengan kata kunci UU Omnibus Law. Akan tetapi, ketika saksi ditanya lebih lanjut mengenai hasil analisis, Asep tidak bisa menjawab.

Pemeriksaan yang dilakukan kepada barang bukti itu dilakukan menggunakan hardware dan software khusus. Pengolahan data telepon seluler dan gawai mobile milik Jumhur, Mabes Polri menggunakan sebuah aplikasi Cellebrite. Sementara, untuk pemeriksaan komputer digunakan Komputer Forensik.

Alat-alat ini dapat digunakan tanpa perlu mengetahui password dari akun-akun pribadi Jumhur. Asep mengaku tidak pernah mendapatkan password dari penyidik. Sementara, Jumhur mengaku sudah memberi-tahu password kepada pihak polisi.

Jumhur sendiri mengaku kecewa karena merasa hak pribadinya dilanggar dalam pemeriksaan kasus ini. Ia mengaku tidak diberi pilihan saat data-data diri bahkan perangkat anaknya diakses dan diambil oleh pihak kepolisian. 

“Ya saya mau apa lagi, memang saya bisa nolak, saya kan nggak bisa nolak,” jelas Jumhur.