oleh Aris Santoso, pengamat militer

Rasanya tidak berlebihan bila dikatakan, satuan yang paling terkenal di negeri kita adalah Kopassus. Masyarakat di pelosok negeri  mungkin sudah familier dengan Kopassus, karena warna pada baretnya (merah) yang khas. Karena warna pada baret itulah, satuan ini mendapat julukan akrab Korps Baret Merah.

Kopassus resmi berdiri pada tanggal 16 April 1952, dengan komandan pertama adalah Mayor Mochammad Idjon Djanbi, seorang perwira berdarah Belanda, namun telah menjadi WNI. Warna baret tidak bisa dipisahkan dari pengalaman kemiliteran Idjon Djanbi sendiri, sebagaianggota pasukan payung tentara Belanda, dia sempat dilatih oleh The Parachute Regiment, satuan para dari Inggris, yang  kebetulan baretnya berwarna  merah. Satuan payung Inggris tersebut, sampai sekarang masih aktif.

Soal sejarah pembentukan Kopassus, merupakan cerita tersendiri, yang lain waktu saja kita bahas. Untuk kali ini kita mengenang salah satu operasi monumental Kopassus, yaitu Operasi Woyla, yang terjadi  40 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 31 Maret 1981, dengan lokasi peristiwa di Bangkok. Nama Operasi Woyla diambil dari nama badan pesawat  tipe DC-9 yang dibajak tersebut,  Woyla sendiri  adalah nama sebuah sungai di Aceh.

British Parachute Regiment/PARAS (United Kingdom)

Operasi terbuka

Salah satu yang menarik dari operasi ini adalah, bagaimana para prajurit yang melakukan eksekusi di lapangan, tetap memakai seragam loreng “darah mengalir” beserta baret (warna) merah, dua atribut yang menjadi identitas Kopassus. Operasi penumpasan pembajak dengan tetap memakai PDL (pakaian dinas lapangan) dan baret satuan, untuk ukuran sekarang, tentu saja tidak umum.

Beda jauh dengan tampilan saat pasukan antiteror  melakukan simulasi yang biasa kita saksikan layar kaya,  tampilan mereka cenderung seperti “robot”, karena helm dan perlengkapan lain yang menempel  di seragam prajurit. Saat Operasi Woyla, pasukan Kopassus “sebatas” dilengkapi rompi antipeluru, dan tidak memakai helm khusus. Memang berisiko, tapi ini adalah sebuah pilihan dengan kesadaran penuh. Para anggota pasukan penyerbu  merasa bangga sebagai anggota Kopassus, dan (seandainya) gugur pun, ingin tetap dalam balutan loreng kebanggaan dan baret merah di kepala.

Monumen Achmad Kirang di Markas Satgultor – 81

Pemakaian pelindung diri yang terbatas, sebagaimana diketahui pada akhirnya mengakibatkan seorang anggota pasukan penyerbu tewas, yaitu Capa Achmad Kirang. Dia terkena tembakan pada perut, pada bagian yang tak terlindungi rompi antipeluru. Achmad Kirang sempat dirawat sehari, namun nyawanya tak tertolong. Sebagai penghormatan atas pengorbanannya, di markas Satgultor-81 (Cijantung, Jakarta Timur)  telah didirikan monumen untuk mengenangnya.

Saat pelaksanaan Operasi Woyla, sebenarnya satuan kontra-teror Kopassus masih dalam fase rintisan, dengan pemimpin proyeknya adalah (dengan pangkat saat itu) Letkol (Inf) Sintong Panjaitan (Akmil 1963, terakhir letjen). Proses persiapan embrio satuan antiteror ini mendapat supervisi langsung dari Letjen Benny Moerdani, senior perwira Baret Merah yang sempat menjadi Panglima TNI (d/h Pangab) periode 1983-1988. Begitu berartinya Operasi Woyla bagi Kopassus, sehingga  angka tahun peristiwa (1981), disematkan sebagai penanda satuan  Satgultor (Satuan Penanggulangan Teror) 81 Kopassus, satuan antiteror Kopassus.

Setelah 40 tahun berlalu, Operasi Woyla masih menyisakan sedikit misteri, terkait jumlah pembajak yang tewas. Ada versi semua pembajak (5 orang), sudah tewas saat operasi di Bangkok itu. Ada versi lain melaporkan,  satu atau dua pelaku pembajakan  masih hidup, yang kemudian dikirim ke Jakarta secara “senyap”. Mereka baru dieksekusi setelah diinterogasi seperlunya.

Misteri di seputar Operasi Woyla tak bisa dilepaskan dari konteks zaman itu, ketika rezim Soeharto bersikap kurang ramah terhadap kelompok Islam. Sangat berbeda situasinya dengan dekade 1990-an, terutama setelah berdirinya ICMI. Peran kelompok Habibie mulai mengemuka , dan secara bersamaan kelompok Benny Moerdani  mulai tersingkir dari lingkaran kekuasaan. Tersingkirnya kelompok Benny Moerdani, salah satunya ditandai dengan kandasnya karier militer Sintong Panjaitan pasca-Peristiwa Santa Cruz (Dili, November 1991).

Model satuan sejenis

Kebetulan pada tahun 1981 itu pula, dekat-dekat dengan pelaksanaan Operasi Woyla, telah dikirim dua perwira Kopassus ke Jerman, yakni Mayor (Inf) Luhut B Panjaitan (lulusan terbaik Akmil 1970) dan Kapten (Inf) Prabowo Subianto (Akmil 1974), untuk mengikuti pelatihan satuan antiteror. Sebagaimana diketahui, sejak dekade 1970-an, di Jerman (Barat) terdapat satuan antiteror GSG-9 , yang menjadi kiblat satuan serupa di banyak negara, termasuk Kopassus (Indonesia).

Mayor (Inf) Luhut B Panjaitan (lulusan terbaik Akmil 1970)Kapten (Inf) Prabowo Subianto (Akmil 1974)

Salah satu prestasi fenomenal GSG-9, adalah operasi pembebasan sejumlah atlet Israel dari aksi penyanderaan saat Olimpiade 1972 di Munich, yang saat itu masih bagian dari Jerman Barat. Para teroris yang mengklaim sebagai bagian dari pejuang Palestina bisa dilumpuhkan, dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Black September”, karena peristiwanya terjadi pada September (1972). Sejarah berdirinya GSG-9 hampir mirip dengan Kopassus, dimana yang menjadi komandan pertama merangkap sebagai pelatih utama, kemudian menjadi figur yang melegenda. Toko dimaksud adalah Kolonel Ulrich Wegener (meninggal Desember 2017, dengan pangkat terakhir brigjen).

Sepulangnya dari Jerman, Luhut dan Prabowo melanjutkan pengembangan satuan yang  sudah dirintis Sintong Panjaitan, ditandai dengan berdirinya Den (Detasemen)-81/Antiteror Kopassus. Dengan Luhut dan Prabowo, masing-masing dalam posisi sebagai Komandan dan Wakil Komandan. Saat Prabowo memimpin Kopassus (1995-1998), nama Den-81  berganti nama menjadi Grup 5/Antiteror, sehingga angka penanda tahun (81) sempat hilang. Namun itu hanya sementara,  angka 81 kembali muncul, ketika berganti nama (lagi):  Satgultor-81.

Ketika skala ancaman  terorisme semakin tingi dan kompleks, matra lain juga mendirikan satuan antiteror serupa, antara lain Denjaka (Detasemen Jala Mangkara) Korps Marinir, Den Bravo-90 (matra udara), Kopaska (Komando Pasukan Katak, matra laut), termasuk Densus (Detasemen Khusus) 88 di bawah kepolisian. Dengan cara masing-masing, satuan tersebut sedang membangun sejarahnya sendiri, dan tentu saja Satgultor-81 tetap dalam  posisi benchmark.