Sekelompok seniman asal Papua membentuk komunitas bernama Udeido. Lewat seni rupa mereka bercerita mengenai kehidupan Bumi Cendrawasih.

Kain merah putih membelit leher pria berambut ikal. Tangan pria itu terbelenggu ke belakang, mukanya setengah mendongak dan menahan belitan. Goresan tinta  dengan warna dominan hitam pada latar pun membuat kesan suram pada gambar itu. 

Lukisan  itu berjudul ‘Saya Tra Minta Merah Putih’ karya Andi Bharata itu dapat dinikmati di secara virtual di situs udeido.com.

Karya lain menampilkan deret garis-garis biru yang ditorehkan layaknya barisan hitungan dalam sebuah voting. Sederet ikon bintang kejora tergambar di atas garis-garis biru itu. Karya itu adalah seni grafis digital milik Matamerah Comix berjudul “Liberty of Death : Tak Goyah Walau Bertaruh Nyawa”

“Aku membuat karya ini untuk merespon kabar setiap tahun, setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, setiap jam. Tentang lahirnya martir-martir kebebasan di Papua. Banyak sekali yang menukar nyawa untuk kebebasan di Papua.”

(Andi Batara)

Gambar-gambar itu merupakan dua contoh dari 40 lebih karya seni rupa yang tampil dalam Tonawi Mana Virtual Exhibition yang diadakan kolektif seni rupa Udeido 2020 lalu.  Tonawi Mana merujuk pada tetua suku Mee di Kabupaten Dogiyai, Papua yang bersuara kala konflik terjadi. 

Pameran itu diadakan pada Agustus 2020, tak jauh kala kericuhan demo kekerasan rasial yang terjadi di Amerika Serikat menggema, akibat kematian warga kulit hitam George Floyd di tangan aparat. Rasa solidaritas akan isu rasialisme yang kerap mendera warga Papua di Indonesia menginspirasi komunitas ini untuk bersuara soal kekerasan yang terjadi di Papua. 

Koordinator Udeido, Ignatius Dicky Takndare, sengaja memampang karya-karya itu dalam situsnya agar pesannya abadi. 

“Waktu itu kita lagi gaungkan hashtag Papua Lives Matter, temanya tentang hak asasi manusia, tentang hak-hak hidupnya orang Papua,” kata kata dia pada Selasa (30/3).

Tonawi Mana sendiri hanya salah satu pameran seni rupa yang diadakan kolektif itu. Di 2021 ini mereka menampilkan pameran virtual bertajuk “Sa Pu Kisah” yang membawa isu kekerasan terhadap perempuan di tanah Papua. Sejak berdirinya pada 2018, setidaknya kolektif ini sudah menyelenggarakann tiga pameran utama.

Setiap penyelenggaraan pameran ini membawa pesan tertentu. “Udeido bicara tentang bagaimana manusia Papua ingin hidup bebas, ingin hidup damai, ingin hidup sejahtera, dan fokusnya kami memang manusia papua, apapun yang melekat pada dirinya,” kata dia.

Pesan inilah yang selalu ingin disuarakan sejak kelompok ini didirikan Dicky, dan lima temannya, Nelson Natkime, Betty Adii, Ina Wosirry, Andre Takimai, serta Contatinus Raharusun.  Kala itu mereka  adalah mahasiswa asal Papua lintas ilmu dan universitas di Yogyakarta yang menekuni dunia seni rupa. Nama Udeido sendiri merujuk pada daun yang biasa dipakai warga di daerah Dieyai untuk membalut luka. 

Kegelisahan akan pemberitaan yang tak pernah utuh soal Papua mendorong sekelompok orang ini mendirikan kolektif ini untuk menyuarakan isu-isu di Papua. 

“Kebanyakan masyarakat Indonesia cuma melihat Papua dengan kacamata Jakarta jadi banyak berita-berita mainstream, dan kebanyakan tidak sesuai fakta yang terjadi di Papua.”

Dicky Takndare, Salah Satu Inisiator Udeido

Kehadiran ini kolektif ini memang tak membuat semua orang senang. Dicky ingat suatu kali jelang sebuah pameran teror menghampiri lewat pesan singkat di telepon selulernya. “(Disebut) gerakan makar dan lain-lain”, kata Dicky. Namun, hal ini tak digubris Udeido dan teman-temannya.

Udeido juga kerap mengundang seniman dari luar Papua untuk menyuarakan pesan mereka. Mereka ingin ruang seni menjadi sarana pembelajaran bagi para seniman untuk memahami isu-isu yang terjadi di Papua. “Artinya mereka belajar tentang sejarah Indonesia  Papua, dan mengerti bagaimana orang Papua berpikir sekarang,” kata Dicky.

Rencananya mereka akan menggelar pameran rutin setiap tahun di luar Papua. Komunitas ini berharap ikhtiar kolektif ini dapat menunjukkan bahwa suara warga Papua tak melulu dikuasai orang luar. 

“Nah, bias informasi yang terjadi di luar Papua ini mungkin bisa diatasi dengan seni rupa,” katanya.