Keteledoran pembuktian diduga menjadi musabab kapten kapal asal Malaysia, Sahron Nissam Bin Saleh, harus merasakan bui untuk seumur hidup. Ia diduga dikriminalkan tanpa bukti yang memadai atas kasus penyelundupan sabu-sabu.

Sahron sendiri ditangkap oleh polisi pada Juni 2019 lalu ketika menunggu di kantor pelabuhan setelah kapal yang dinahkodainya merapat di Dermaga Marina, Pelabuhan Sunda Kelapa. Penangkapan ini dilakukan setelah dua penumpangnya, Sallehuddin dan Rahizam, tertangkap tangan ketika memindahkan sabu-sabu. 

Pengadilan Negeri Jakarta Utara kemudian menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara pada Sahron karen terlibat penyelundupan narkoba dan tidak memiliki dokumen izin lengkap. Hukuman ini diperberat oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menjadi hukuman seumur hidup. 

Namun temuan Kantor Hukum dan HAM Lokataru menyebutkan Sahron memiliki izin yang lengkap untuk melakukan pelayaran dari Malaysia ke Jakarta. Pengacara Lokataru, Guntoro, menganggap Sahron menjadi korban dari hakim yang mengambil putusan tanpa alat bukti memadai. Tidak ada satu alat bukti yang dapat menunjukkan pengetahuan atau hubungan antara sabu dengan Sahron. 

“Tidak ada bukti dan kesaksian yang menyebutkan bahwa pak Sahron mengetahui keberadaan sabu dalam kapal dasar pertimbangan hakim juga salah yang mengatakan bahwa Sahron tidak memiliki izin lengkap untuk berlayar ke Jakarta. Padahal izin dia lengkap”

Guntoro, Advokat Lokataru Law & Human Rights Office

Dokumen yang dikumpulkan oleh Lokataru menunjukkan Sahron berlayar ke Jakarta dengan dokumen lengkap. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya surat keterangan dari Pelabuhan Senibong Cove Marina.

Arman Shah, otak penyelundupan yang berhasil ditangkap di Malaysia,  juga telah bersaksi dengan memberikan surat keterangan bahwa Sahron tidak mengetahui mengenai rencana penyelundupan narkoba yang ia lakukan bersama dengan kelompoknya.

Guntoro juga menyatakan bahwa kini, Lokataru tengah mengusahakan agar kasus ini dapat masuk ke tahap Pengajuan Kembali demi memulihkan keadilan kepada Sahron. Karena sudah seharusnya Sahron dibebaskan.

Perkara Sahron ini sendiri bermula pada tanggal 21 Mei 2019, Arman Shah, pengedar narkoba asal Malaysia, menemui Sahron untuk memesan kapal pesiar Karenliner untuk mengantarkan seorang penumpang bernama Ikhsan, seorang anak Datuk,  ke Jakarta. Ia perlu menyewa kapal karena kapal milik Arman sedang rusak.

Seminggu kemudian, Arman Shah pun membayar biaya sewa kapal melalui Sahron sebanyak RM 90.000 dengan persetujuan bosnya yakni Mr. Steven Lee. Arman sendiri sudah merencanakan penyelundupan narkoba di balik pelayaran itu. 

Hingga saat ini, Sahron tidak tahu menahu mengenai rencana Arman Shah dan kroni-kroni nya. Ia mengurus surat-surat pelayaran secara lengkap bahkan hingga pergi ke Batam untuk mengurus Kartu Kesehatan Kapal (Karantina).