Komunitas Pasien Cuci Darah (KPCDI) mendesak pemerintah memvaksinasi para pasien gagal ginjal. Ketua KPCDI, Tony Samosir, menjelaskan kelompok ini perlu menjadi prioritas vaksinasi lantaran mereka termasuk kelompok rentan terinfeksi karena harus keluar rumah untuk melakukan cuci darah rutin sebanyak dua sampai tiga kali setiap pekannya. 

“Kalau mereka terkena Covid-19, mereka ini tidak bisa diisolasi, sebagai OTG (orang tanpa gejala) atau gejala ringan, tidak dirawat, tetapi mereka tetap melakukan perjalanan dari rumahnya ke rumah sakit beberapa orang menggunakan transportasi publik,” kata Tony kepada hakasasi.id. 

“Ini berbahaya menularkan kepada orang yang sekitarnya, dan mereka sangat rentan sebenarnya untuk berpergian ke unit  (hemodialisa) tadi jika mereka terinfeksi covid 19,” tambah bekas pasien yang sudah melakukan pencangkokan ginjal ini.

Desakan ini diperkuat himbauan tiga organisasi ginjal global yakni The American Society of Nephrology (ASN), The European Renal Association-European Dialysis and Transplant Association (ERA-EDTA), dan The International Society of Nephrology (ISN) yang meminta pemerintah negara-negara di seluruh dunia untuk memprioritaskan pasien gagal ginjal karena kerentanan mereka terinfeksi saat harus berobat.

Pada pertengahan Maret 2021, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) sebenarnya sudah memberikan rekomendasi kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) vaksinasi kepada kelompok dengan penyakit penyerta, termasuk gagal ginjal. 

Namun, kata Tony, rekomendasi itu belum diimplementasikan dalam program vaksinasi pemerintah. Pemerintah sampai saat ini, setahu dia, belum mengeluarkan petunjuk teknis tentang bagaimana cara vaksinasi terhadap pasien cuci darah. Tony pun meminta pemerintah segera membuat petunjuk baku agar vaksinasi untuk vaksinasi penderita gagal ginjal bisa segera berjalan. 

“Teman saya puluhan orang di pengurus  (KPCDI) itu terinfeksi Covid 19.  Kita sangat membutuhkan vaksinasi. Alangkah baiknya pasien-pasien hemodialisa ini termasuk populasi pasien yang menjadi prioritas sama seperti tenaga kesehatan, usia lanjut dan pelayanan publik,”

Tony Samosir, KPCDI

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito sebelumnya pernah menyebut probabilitas kematian pasien Covid-19 dengan penyerta penyakit ginjal adalah yang paling besar,  yakni 13,7 kali lipat. Tingkat probabilitas ini masih lebih besar dibanding probabilitas kematian pasien dengan penyakit penyerta lain seperti jantung dan diabetes.