Pencairan dana sumbangan korban kasus dugaan malpraktik RS Buah Hati, Yuliantika, di situs penggalangan donasi KitaBisa.com tersendat syarat rekam medis. Data ini ditahan oleh rumah sakit karena alasan kerahasiaan.

Tim Kuasa Hukum Lokataru yang mendampingi Yulia, Al-Ayyubi Harahap, menyebutkan donasi untuk kliennya kini mencapai Rp 6.960.561 rencananya donasi ini akan dipakai untuk mencukupi kebutuhan Yulia seperti popok hingga obat-obatan. Namun pencairan ini terhambat syarat administratif, yakni penyerahan rekam medis.

Hingga saat ini rekam medis Yulia tidak dapat diunggah ke website kitabisa.com karena pihak RS Buah Hati Ciputat belum juga memberikan rekam medis miliknya dengan alasan bahwa itu adalah rahasia rumah sakit.

Ayyubi memahami posisi Kitabisa.com untuk memverifikasi sebuah laman bantuan dengan menanyakan syarat seperti rekam medis. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti tindakan penipuan dan lain sebagainya.

Akan tetapi, jika hal tersebut dilakukan secara kaku. Maka, Kitabisa sebagai lembaga justru menghambat tujuan organisasinya tersebut dalam memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan seperti Yulia.

“Kita juga bukannya tidak bisa membuktikan bahwa Yulia adalah pasien dari RS Buah Hati Ciputat. Karena hal ini dibuktikan dengan surat keterangan keluar dari RS Buah Hati Ciputat yang ditandatangani oleh direktur RS Buah Hati Ciputat dan hasil rontgen dari Mayapada sendiri tertera tulisan bahwa Yulia adalah pasien rujukan dari RS Buah Hati Ciputat,” ucap dia.

Yulia sendiri masih menjalani proses sidang Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dengan kondisi yang masih belum pulih sejak ia keluar dari RS Buah Hati Ciputat.

Selama ini Irwan Supandi, suami Yulia, sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek online. Dari pagi hari sekitar jam delapan hingga jam lima sore. Sebelum bekerja, Irwan terlebih dahulu mengurus istrinya. Mulai dari memandikan, mengganti pampers, hingga menyiapkan makan. 

Lalu di sore hari, ia kemudian pulang dan kembali mengurus istrinya. Terkadang ia bahkan bekerja sampai malam hari. Jika ada kesempatan bekerja serabutan ia juga akan mengambilnya tanpa pikir panjang.

Pemasukan Irwan pun tidak menentu, terkadang sedikit terkadang banyak. Jika rezeki sedang besar sehari ia bisa mendapatkan seratus ribu rupiah seharinya. Namun, seringnya ia hanya meraih kocek sebesar 50 ribu.

“Uang lima puluh ribu itu kemudian saya bagi-bagi kembali untuk keperluan makan Yulia, makan saya, dan juga keperluan anak saya,” ucapnya. Irwan juga mengaku bahwa pemasukannya tersebut tidaklah cukup untuk menghidupi Yulia dan anaknya sehari-hari.