Hasil penelusuran Keuskupan Timika soal kematian tiga warga Intan Jaya, yakni Janius Bagau, Justinus Bagau, dan Soni Bagau, berbeda dengan keterangan TNI yang dikeluarkan medio Februari 2021 lalu. TNI menyebut mereka dari Kelompok Kriminal Bersenjata-Organisasi Papua Merdeka (KKB-OPM) namun penelusuran ini menunjukkan bahwa mereka adalah warga biasa. 

Hasil penelusuran Keuskupan Timika ini kini menjadi sumber informasi alternatif terkait rincian identitas dan kronologi kematian tiga warga Intan Jaya tersebut. Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Timika Saul Wanimbo menyebut Janius hanyalah warga biasa, yang tidak terkait KKB-OPM seperti yang diklaim tentara. 

Kejadian tragis yang menimpa Janius, menurut Saul, bermula kala tentara melakukan operasi penyisiran di Kampung Mamba, setelah insiden kematian Prada Ginanjar. Tentara pun sempat meminta warga berkumpul di halaman gereja. 

“Warga, mungkin karena pengalaman sebelumnya, beberapa tidak kumpul dan melarikan diri, termasuk Janius Bagau,” kata Saul.

Janius yang merupakan calon kepala kampung pun mencoba keluar dan mengecek keadaan warganya, sebelum bertemu enam aparat yang menyiksanya.

Ia sempat dipukul, sementara betis kanannya ditikam sangkur. Janius lantas berlari dan melompat ke jurang, sebelum akhirnya peluru ditembakan dan mengenai lengan kirinya.

Sore hari, kala warga mengungsi ke gereja, seorang anggota keluarganya menemukan Janius dalam keadaan terluka. Kemudian ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Yahotapa menggunakan mobil pejabat kabupaten.

Setibanya di sana, aparat sudah memenuhi rumah sakit. Aparat memeriksa Janius. Adik, Soni, dan istri Janius masuk ke rumah sakit. Namun, informasi yang dihimpun Saul, ada satu kerabat Janius lain yang ikut berada dalam rumah sakit, yakni Justinus.

Soni dan Justinus dalam keadaan sehat saat masuk ke rumah sakit ditemukan tewas bersama Janius keesokan harinya. Saul curiga ketiganya tewas karena disiksa saat diinterogasi.  

Saul menambahkan ada kebiasaan buruk di antara aparat dalam hal berinteraksi dengan warga.Ada hal fatal, anggota TNI ini, aparat ini, punya kesulitan identifikasi orang dengan baik. Mereka gagal dan tidak mampu berkomunikasi dengan orang asli Papua. Kalau ketemu orang di hutan, kalau sendiri langsung ditembak. Mereka menjadi hukum,” katanya.

Sebelumnya TNI merilis kronologi yang berbeda pasca penembakan, tiga warga tersebut dan menyebutkan tiga warga tersebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kapen Kogabwilhan III Kolonel CZI IGN Suriastawa ini dikutip sejumlah media sebagai sumber tunggal.

Menurut versi Suriastawa kematian tiga warga itu terjadi kala mereka mencari pihak KKB-OPM yang diduga menewaskan anggota mereka Prada Ginanjar Arianda. Janius, menurut dia, merupakan anggota KKB yang diperiksa dan mencoba kabur. Janius sempat ditembak, namun tetap melarikan diri. 

Sejumlah media mengabarkan Janius ditemukan di Puskesmas Sugapa setelah diketahui tangannya terluka. Sementara, Justinus dan Soni disebut Suriastawa merupakan dua orang yang menghampiri Janius di Puskesmas Sugapa. Mereka disebut mencoba merebut senjata dari aparat yang berjaga di situ, sebelum akhirnya ditembak mati.

“Setelah dicocokkan dengan identitas dan beberapa barang bukti lain seperti surat pernyataan perang oleh KKSB, dipastikan ketiganya merupakan anggota dari KKSB yang selama ini sering melakukan aksi teror dan penyerangan terhadap masyarakat dan aparat keamanan di Sugapa,” kata Suriastawa dalam keterangan tertulis yang dikutip Suara.com, Rabu (17/2/2021).