(Sumber Foto: pikiran-rakyat.com)

Kondisi Intan Jaya masih mencekam pasca penembakan tiga warga. Tentara menyusun kantong pasir untuk mengamankan beberapa rumah tinggal mereka dan warga pun tak berani beraktifitas di kebun.

Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Timika, Saul Wanimbo menyebutkan warga masih dilanda ketakutan pasca penembakan tiga warga oleh TNI pada 15 Februari lalu. Masyarakat hidup dalam ketegangan, pengungsian langsung dilakukan jika ada kabar tak baik. 

“Tidak ada jaminan keamanan setelah pengungsian. Pengungsian ini bisa sewaktu-waktu, kalau ada kabar tidak baik langsung mengungsi…”

Saul Wanimbo, Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Timika

Kondisi kampung sepi karena warga yang pulang ke rumah tidak berani melakukan aktivitas rutin di luar, seperti ke kebun. 

Tentara sendiri menempati rumah pegawai pemerintah yang kosong. Mereka melakukan pengamanan ekstra dengan menyusun karung pasir sebagai pertahanan mengantisipasi penembakan. Patroli kendaraan berisi tentara pun selalu menyisir jalanan kampung tiap dua jam sekali.

“Jadi situasinya seperti di tengah konflik hingga sekarang ini,” jelasnya.

Peneliti Lokataru Foundation, Mirza Fahmi, menyayangkan pendekatan keamanan yang dilakukan pemerintah dalam menangani masalah Papua. Ia menduga warga justru terintimidasi oleh kehadiran tentara. Kondisi ini menyebabkan kehidupan di daerah itu menjadi lumpuh dan permasalahan tidak dapat ditangani. 

“Ini membuat wilayah konflik meluas karena segala permasalahan seperti kesehatan, ekonomi, dan lainnya, sementara pemerintah bersikukuh dengan pendekatan keamanan..”

Mirza Fahmi, Peneliti Lokataru Foundation

Kasus penembakan tiga warga ini sendiri tak lepas dari penembakan seorang tentara yang terjadi sebelumnya, Prada Ginanjar Ananda. Tentara mengklaim bahwa tiga orang tersebut terlibat dengan penembakan tentara dan dilumpuhkan karena berupaya merebut senjata aparat ketika dirrawat. 

Ketiga warga tersebut adalah Janius Bagau, Soni Bagau dan Yustinus Bagau. 

Namun versi yang didapatkan hakasasi.id menyebutkan ketiga warga tersebut tidak tahu menahu dengan penembakan. Pihak gereja memberikan kronologi dan status berbeda dengan tentara. 

Janius mengalami luka tembak pada bahunya sebelum ditemukan tewas. Sedangkan dua orang lainnya merupakan kerabatnya yang diperbolehkan menjenguk ketika dirawat di rumah sakit. Mereka masuk rumah sakit dalam kondisi sehat ditetapkan meninggal dengan luka tembak.