Beban hidup Umar, seorang warga Tangerang, terasa agak ringan ketika menginjak tahun 2013. Pekerjaan barunya menjanjikan rupiah yang melimpah. Ia bekerja sebagai salah satu anak buah Hercules.

“Lumayan, saya setiap hari bisa bawa Rp 500 ribu tiap pulang,” kenangnya ketika ditemui hakasasi.id di sebuah warung Kopi di perbatasan Jakarta Barat-Tangerang pada Senin (15/3).

Kala itu Umar ditugaskan untuk menawar hamparan tanah sebuah desa di sebelah utara Kabupaten Tangerang dengan harga Rp 250.000,-/M.2. Harga itu jauh lebih rendah dibandingkan harga normal, yakni sejuta rupiah per meter persegi. Warga melawan dan menolak penawaran tersebut karena harganya tak masuk akal.

Tugas Umar cukup mudah, ia tinggal menaikkan nada suara, sesekali bersikap menantang, dan mengancam. Warga yang tak bergeming harus diintimidasi pada hari-hari berikutnya.

“Hati kecil saya terus menangis karena istri dan anak harus hidup dari hasil pekerjaan yang tidak manusiawi…”  

Umar, Mantan preman tanah

(Sumber foto : sindonews.net)

Ia sadar pekerjaan yang dijalaninya tak benar. Awalnya dia tetap menjalaninya karena upah besar. tetapi sebuah peristiwa membuat pikirannya tak tenang.

“Saya masih ingat jelas, seorang Ibu di satu desa, menangis sambil memegang dada kirinya sambil berkata betapa kejam perbuatan saya dan teman-teman. Setelah kejadian itu, tidur saya ga pernah nyenyak dan saya memutuskan untuk benar-benar berhenti dari pekerjaan itu,” kenang dia.

Akhir tahun 2013, tangisan perempuan itu kian terngiang di benaknya. Tidur Umar pun tak lagi nyenyak. Ia pun mempertanyakan keputusannya bekerja sebagai seorang preman.

Umar pun lantas angkat kaki dari profesi itu dan tak lagi mengais rezeki sebagai seorang preman yang bekerja untuk sebuah sindikat tanah di Kabupaten Tangerang.

Saat itu pukul lima sore, di sebuah warung kopi kecil di daerah Jakarta Barat, sambil bercerita Bang Umar tak kuasa menahan air matanya. Matanya menatap ke atas, mengingat kembali kejadian yang menurutnya adalah sebuah hidayah dari Tuhan yang Ia percaya.

“Satu hal yang buat tekad saya semakin kuat adalah saya harus menyaksikan anak saya tumbuh dan terus sakit-sakitan. Butuh waktu cukup lama sampai saya sadar akan hal itu, saya merasa ini semua terjadi karena saya, saya biang keladi dari segala hal yang terjadi di keluarga ini…,” ucap dia.

Kini ia menjalani kesehariannya sebagai seorang buruh serabutan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk menutup biaya harian keluarganya.

Kisah Bang Umar merupakan sisi lain kehidupan mantan preman yang harus terjerat dalam sindikat mafia tanah. Status sosial ekonomi yang melatarbelakangi perbuatan Bang Umar untuk bergabung dengan organisasi yang telah tersusun dan beraksi secara sistematis selama puluhan tahun.