Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Timika, Saul Wanimbo, membeberkan kronologi tewasnya tiga warga Intan Jaya dalam insiden pada 15 Januari 2021 lalu. Kronologi ini berbeda dengan versi yang dikeluarkan oleh TNI. Kematian tiga warga ini diduga karena penyiksaan oleh tentara.

Saul menyebutkan tewasnya tiga warga ini tak lepas dari insiden penembakan anggota TNI sebelumnya. Tentara melakukan penyisiran di Kampung Mamba, Intan Jaya, dan meminta warga untuk berkumpul di halaman gereja. Mereka menanyakan apakah ada yang melihat dua orang bersepeda motor yang lewat.

“Warga, mungkin karena pengalaman sebelumnya, beberapa tidak kumpul dan melarikan diri, termasuk Janius Bagau,”

Saul Wanimbo, Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Timika

Saat bersembunyi Janius memutuskan untuk keluar karena ingin melihat kondisi warga. Ia memiliki tanggung jawab sebagai seorang calon kepala kampung. Sesudah keluar dan melintas di dekat kampung ada enam aparat memakai semacam masker memanggilnya.

Ia pun diinterogasi di tempat itu dan disiksa. Pukulan dilesakkan dan betis kanan ditikam dengan sangkur. Janius sempat berlari dan melompat ke jurang namun tentara tersebut menembaknya dan mengenai lengan kiri.

Sore hari ketika warga mengungsi ke gereja, seorang anggota keluarganya menemukan Janius. Ia dibawa ke RSU Yahotapa menggunakan mobil pejabat bupati. Namun rumah sakit itu sudah dipenuhi aparat. 

Sewaktu mobil yang membawa Janius tiba, aparat menghentikan dan memeriksanya. Janius dibawa masuk ke RS, hanya adik, Soni bagau, dan istri Janius yang diperbolehkan masuk. Informasi yang dihimpun Saul menyebutkan terdapat satu lagi kerabat yang masuk, yakni Justinus. 

Justinus dan Soni masuk dalam keadaan sehat tetapi kemudian dinyatakan tewas. Ia curiga mereka diinterogasi dan menghadapi penyiksaan hingga tewas. Karena sudah menjadi kebiasaan tentara yang buruk melakukan komunikasi dengan warga.

“Ada hal fatal, anggota TNI ini, aparat ini, punya kesulitan identifikasi orang dengan baik. Mereka gagal dan tidak mampu berkomunikasi dengan orang asli Papua. Kalau ketemu orang di hutan, kalau sendiri langsung ditembak. Mereka menjadi hukum,” tegasnya.

Kronologi yang diungkap Saul ini berbeda dengan yang diungkap tentara selama ini. Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Kapen Kogabwilhan III) Kolonel CZI IGN Suriastawa menyebutkan ketiganya tewas setelah berusaha merampas senjata aparat di Puskesmas Sugapa. Ia menyebut ketiganya sebagai anggota KKSB OPM. 

“Setelah dicocokkan dengan identitas dan beberapa barang bukti lain seperti surat pernyataan perang oleh KKSB, dipastikan ketiganya merupakan anggota dari KKSB,” ucapnya seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Namun Saul menekankan selama ini informasi dari kawasan Intan Jaya hanya didominasi dari pihak militer. Kendala komunikasi selalu menjadi hambatan untuk memberikan informasi yang terkonfirmasi. Anehnya kebiasaan ini juga terjadi di beberapa kawasan yang dilanda konflik di bumi cenderawasih. 

Hal ini juga terjadi ketika Tragedi Paniai berdarah pada 2014. Daerah Paniai sebelumnya tidak mengalami gangguan komunikasi, namun ketika menjelang dan saat tragedi, telepon dan internet memburuk. 

“Akses komunikasi kembali membaik ketika kondisi sudah baik,” keluhnya.

Kendala komunikasi di Intan Jaya yang buruk saat ini pun kian memperparah kondisi masyarakat. Mereka mereka masih belum bisa bekerja karena merasa takut dan terancam dengan militer yang mondar-mandir.