Anggota Asosiasi Pejuang Muda Indonesia (APMI), Adintho Prabayu Setya, mengaku tetap akan melaporkan akun-akun pembuat gaduh di media sosial ke polisi. Ia mengapresiasi pembentukan polisi virtual agar meminimalisir pemidanaan. Tetapi menurut dia akun pembuat gaduh perlu dilaporkan.

“Ya paling, kalau memang perlu dilaporkan ya kita laporkan. Selama menurut kita itu membuat gaduh. Itu saja sih,” ujarnya pada Kamis (18/3).

Febrianto Dunggio

Hakasasi.id melakukan wawancara dengan Adintho usai diperiksa sebagai saksi pelapor persidangan dugaan berita bohong dengan tersangka Jumhur Hidayat. Peran Adintho dan rekan-rekannya pelaporan Jumhur cukup kontroversial. Tim Pengacara Jumhur menyebut mereka hanya pencari perkara untuk membungkam kebebasan bicara.

Saat persidangan pelaporan pun para kuasa hukum Jumhur yang tergabung dalam Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) menyebutkan Adintho adalah saksi palsu. Pasalnya dia mengaku tidak begitu kenal dengan rekan pelapor Jumhur lainnya, Febriyanto Dunggio. Tetapi faktanya mereka bekerja di firma hukum yang sama dalam website kantor hukum tempat mereka bekerja. Sehingga Arif Maulana menyatakan

bahwa Adintho tidak layak berada dalam persidangan.

Bahkan, mengutip dari barometerIndonesiaNews.com, Adintho juga merupakan Wakil Ketua dari Asosiasi Pejuang Muda Indonesia (APMI) dan Febri duduk sebagai Ketuanya. Seperti apa saja pengakuannya, berikut petikan wawancaranya: 

Apa itu APMI?

Setahu saya APMI adalah Aliansi Pejuang Muda Indonesia 

Orientasi APMI itu apa ya?

Kalau saya belum tau mas, soalnya saya juga baru bergabung nih dengan APMI

Kalau begitu motivasinya apa ikut organisasi ini?

Kalau kata ketua kan, (Febriyanto) jadi kita menjaga NKRI ini saja.

Dari segi apa nih dijagainnya?

Dari semuanya, maksudnya tidak ada kegaduhan segala macam. Kalau ada yang tidak suka kenapa kita tidak berdiskusi saja?

Kegiatan APMI ini apa saja ya?

Kalau kegiatan saya belum tahu karena saya baru gabung.

Baru berapa lama bergabung di APMI?

Belum lama sih, 2020 lah

Dari bulan apa kira-kira?

Dari Agustus lah kurang lebih

Dari Agustus hingga sekarang ini apa ada Kegiatan kecil di APMI? Misalnya seperti barbeque bersama?

Saya jarang aktif jadi tidak tahu

Berarti diskusi seperti sebelum pelaporan Jumhur ini tidak dilakukan secara rutin?

Tidak

Waktu itu bagaimana ceritanya tuh bisa diskusi dengan Febrianto terkait melapor Jumhur ini?

Karena waktu itu sedang main ke basecamp APMI.

Kenal dengan Febriyanto dimana?

Di pengadilan, sekitar tahun 2019 lah

Kok bisa, pelaporan ini diloloskan oleh pihak kepolisian?

Wah, saya gak ngerti. Soalnya kan semua juga bisa melaporkan siapa saja.

Febriyanto ini kan suka melaporkan orang, Emangnya itu kerjaan utama APMI?

Kalau yang melaporkan inisial GA, mungkin ya, kalau menurut keterangannya Febriyanto, itu takut meresahkan anak bangsa ya karena bisa nonton film porno.

Kerjaan APMI sehari-hari berarti gak ada ya? Yang rutin harus dikerjakan?

Kalau itu yang tahu pasti Febriyanto.

Kalau pengalaman bapak sejauh ini sebagai anggota baru APMI, berarti tidak ada ya?

Paling bakti sosial, misalnya untuk bencana alam, ngasih sumbangan.

Kalau anggota yang aktif di APMI kerjaannya apa saja? Kalau dari yang bapak lihat selama menjadi anggota?

Kalau saya lihat ya itu, paling misalnya kalau ada masukan apa, kesalahan apa, apa misalnya ada bencana dimana dibantu. Sudah sih begitu saja.

Sekarang kan sudah ada polisi virtual? Kira-kira gimana nih kedepannya?

Ya kalau menurut saya lebih bagus ya, karena nanti akan ada restorative justice. Kalau ternyata tidak ada kesalahan ya kita saling memaafkan.

Berarti bapak-bapak sudah tidak perlu melaporkan lagi nih? Kalau ada Virtual Cop?

Ya paling, kalau memang perlu dilaporkan ya kita laporkan. Selama menurut kita itu membuat gaduh. Itu saja sih.

Sehari-hari bapak ini lawyer kan? Apa susah membagi waktu antara menjadi pengacara dan anggota organisasi?

Di APMI saya kurang aktif, kalau jadi lawyer pasti. Ini saja sebentar lagi saya akan sidang.