Limbah tailing PT Freeport Indonesia mencemari Sungai Ajkwa yang melintasi Kampung Waa/Banti. Warga tak diberitahu soal pencemaran itu hingga beberapa bagian tubuh mereka melepuh karena pencemaran. 

Yosana Narkime yang baru berumur sekitar 11 tahun hanya tahu bahwa Sungai Ajkwa di pinggir kampungnya adalah tempat bermain. Ia biasa melompat diantara batu-batu hingga bermain air dan pasir. Mereka tak ingat sadar bahaya limbah tailing PT Freeport Indonesia mengintai.

“Kita duduk-duduk main pasir, main kelereng, di tepi sungai itu,” ucapnya.

Yosana adalah warga dari Kampung Waa/Banti, sebuah desa pinggir Sungai Ajkwa. Sungai ini merupakan tempat PT Freeport Indonesia membuang limbah tailing mereka. Limbah inilah yang membawa petaka bagi kampung tersebut.

Di hari yang panas, sungai ini akan mengeluarkan uap berupa abu putih yang akan menutupi seluruh wilayah yang ada di tepi sungai itu. Abu ini menutupi dedaunan di pohon, atap rumah honai warga desa dan juga perkebunan salada dan ubi di tepi sungai.

Sisa – Sisa Luka Kimia Yosana Narkime

Tidak lama, warga pun merasakan dampak dari abu ini termasuk Yosana yang terpapar di mata, tangan serta kakinya. Efeknya bukan main-main rasa gatal dan luka menggerogoti tangannya tanpa ia ketahui penyebabnya.

Ia ingat ada banyak keluarga dan kerabatnya dari desa yang merasakan penderitaan akibat abu sungai. Warga desa ada yang menderita sakit perut, batuk-batuk dan bahkan, ada yang menderita sakit kulit di seluruh tubuh akibat limbah ini.

“Ia menderita betul-betul baru meninggal,” ingat perempuan yang kini berusia 45 tahun itu.

Dalam menanggapi ini, Lokataru sebagai kuasa hukum tiga kampung pernah mempertanyakan peran Pemkab, Pemprov dan KLHK setempat. Terutama mengenai adanya dana partisipasi hasil dari perjanjian antara Pemerintah Daerah dengan PT Freeport sejumlah 6 juta dollar AS.

Namun ketiganya hingga kini belum membalas surat tersebut. Meski pihak KLHK membalas, mereka tidak menjawab secara substantif pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan oleh Lokataru.