Derita kampung sekitar PT. Freeport di Papua seperti tak pernah putus. Mereka makan sampah, diusir dari sekolah, hingga mencari kerja pun harus dibarengi dengan ancaman.

Setiap bicara masa kecil, Yafet Manga Beanal, selalu ingat dirinya mengendap lalu masuk ke bak truk sampah yang keluar dari wilayah operasional PT. Freeport. Mereka mengais sampah makanan demi merasakan apa yang dimakan oleh pekerja perusahaan tambang itu. Tak hanya Yafet dan bocah-bocah, sesampai di tempat pembuangan warga dewasa pun sudah menunggu truk itu, mencari sisa makanan yang ada.

“Saya cuci sedikit baru langsung saya makan daging ayam atau daging (sapi) itu. Dari tahun 1978 saya seperti itu sampai 1982. Lima tahun saya makan sampah. Saya besar dari sampah itu. Dan bukan hanya saya, ada banyak penduduk sekitar yang mencari makan di tempat itu,” kenangnya sambil makan sop iga di sebuah kafe di Mangga Besar, Jakarta pada Sabtu lalu (6/3).

Yafet tinggal di Ogomabalnin, sebuah kampung di dekat tambang PT. Freeport di Tembagapura, Papua. Sehari-hari warga, termasuk dirinya, makan ubi dari kebun. Yafet melihat banyak jenis makanan dijual di dalam kawasan PT. Freeport yang berpagar, warga lokal tak boleh masuk ke area itu. Ia pun hanya bisa menelan ludah.

“Tidak ada makanan lain. Mau beli pun tidak bisa karena orang asli Papua tidak boleh masuk ke kawasan Freeport,” pungkasnya.

Yafet pun penasaran dengan apa yang dimakan oleh orang-orang di balik pagar. Sebelumnya, Yafet tidak pernah melihat daging dan baru kali itu dia melihatnya. Ia sudah bertekad bahwa dirinya akan mencoba ayam dan daging yang dimakan oleh orang-orang Freeport.

Cerita itu hanya sepenggal ketidakadilan yang dialami warga. Sejak umur dua tahun, Yafet sudah merasakan rasanya diusir dari kampungnya sendiri, yakni kampung Tsinga. Warga lainnya diusir oleh aparat. Desanya dibakar, warganya ditodong senapan dan dipaksa pindah ke tempat baru.

Yafet Manga Beanal

Setidaknya tiga kali ia mengalami pengusiran yang dilakukan oleh perusahaan dengan bantuan TNI. Yang pertama ialah pada tahun 1977, kemudian di tahun 1984 dipindahkan kembali ke Pindah Baru tepatnya SP9 di Timika, dan terakhir pada tahun 1998 warga kampungnya mengungsi ke Timika karena adanya baku tembak antara KKB dan TNI pada bulan Maret 2020.

Hidup di tengah pengungsian membuat Yafet ketinggalan mendapat pendidikan. Ia tak pernah mendapat informasi ataupun ilmu pengetahuan. Ketika melihat helikopter terbang di angkasa, bor dimana-mana, hanya ada satu kata yang mewakili perasaan Yafet, takjub.

“Dulu saya tidak mengenal dunia. Saya lihat luar biasa ya itu lihat truk naik gunung, helikopter bisa terbang, pesawatnya bisa lewat, saya terheran-heran. Saya mau itu,” ceritanya sambil tersenyum.

Hal itulah yang kemudian membuat Yafet kecil ingin mengenyam pendidikan dan kemudian ikut belajar di sebuah sekolah di Palapa. Namun, tidak lama kemudian ia diusir dari sekolah itu. Hanya karena satu hal yang tidak bisa diubah, bahwa ia adalah Orang Asli Papua dan Orang Asli Papua tidak diterima di sekolah itu.

Meski begitu Yafet tidak pernah sakit hati. Sampai akhirnya pada tahun 1992 ia mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya. Di umur sekitar 16-17 tahun, Yafet memutuskan untuk mencoba mencari kerja di Freeport, meski rencananya tidak berjalan mulus. Yafet tidak diterima bekerja di Freeport karena masih di bawah umur. Akan tetapi, Yafet kemudian melakukan hal yang membuat orang-orang Freeport berpikir dua kali.

“Ya sudah saya angkat komputer. (Di saat) saya mau kasih banting, akhirnya saya diterima kerja. Daripada banting komputer lebih baik bantu-bantu kerja di sana,”

Yafet Manga Beanal

Saat bekerja dengan Freeport pun Yafet adalah karyawan yang berprestasi. Ia merupakan karyawan teladan. Di saat Yafet bekerja di Freeport ini lah, ia baru mengenal bagaimana dunia bekerja. Waktu pertama ia turun ke Timika, ia melihat bagaimana proses tanah dijual. Suatu hari ia bertanya kepada seorang pemilik tanah untuk membangun rumah di atasnya. Tetapi, sang pemilik tanah meminta bayaran dahulu.

Pada tahun 1995, Yafet kemudian berpikir, bahwa dulu ia, orang tua dan warga kampungnya telah ditipu oleh Freeport. Ia merasa bahwa selama ini telah dibodohi oleh perusahaan tambang tersebut.

Kesadaran Yafet akan nasibnya yang selama ini ternyata ditipu oleh Freeport memunculkan rasa sakit hati yang dalam. Hal ini kemudian yang menyebabkan dirinya ikut dalam kerusuhan di Freeport pada tahun 1996. Ia ikut masuk ke dalam barisan 3000 orang yang terdiri dari lelaki, perempuan dan bahkan anak-anak mengepung tambang Freeport di Timika.

Pada tahun 1998, tekad Yafet untuk merebut kembali hak-haknya semakin bulat dan membuatnya mengundurkan diri dari PT Freeport. Di tahun yang bersamaan, warga desanya juga mengungsi ke Timika akibat adanya baku tembak antara TNI dengan KKB, warga desa Tsinga, Waa/Banti dan Aroanop (Tsingwarop) pun harus mengungsi ke Timika.

“Saya ini pemilik emas, tapi kenapa saya yang dapat gaji? Lalu emas ini bayar ke siapa pemiliknya? Saya mengingat itu sehingga saya mengundur kan diri. Saya merasa rugi betul-betul,” ucapnya.

Maka tak ayal, jika pengalaman tersebut membuat dirinya masih memperjuangkan hak-hak diri dan warganya. Kini, ia bersama dengan warga tiga desa yang tergabung dalam ketua dari Forum Pemilik Hak Sulung (FPHS) masih menuntut keadilan atas penderitaan yang layak untuk mereka dapatkan. Meski, mungkin jumlahnya tidak begitu seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan mereka.