“Ada indikasi bahwa mereka memang melaporkan orang-orang yang sudah ditarget” — Kuasa Hukum Jumhur Hidayat

Tim kuasa hukum M. Jumhur Hidayat menganggap klien mereka sengaja diincar dengan jeratan kasus dugaan berita bohong terkait UU Cipta Kerja. Mereka menduga dua saksi pelapor yang disidangkan pada dua hari Kamis lalu (4/3) melaporkan Jumhur ke polisi hanya berdasar opini. 

Dugaan ini muncul saat persidangan pemeriksaan dua saksi pelapor pada Kamis lalu (4/3). Saksi pelapor diajukan oleh jaksa penuntut umum, yakni Husein Shihab. Ia menemani pelapor utama, yakni Aby Febrianto Dunggio ketika datang ke kantor polisi melaporkan Jumhur. Sama dengan Febrianto, ia mengaku bahwa dirinya resah atas cuitan Jumhur di media sosial.

Nama Husein maupun Febrianto bukan nama asing dalam pelaporan kasus-kasus semacam ini. Mereka melaporkan Habib Rizieq Shihab dalam kasus dugaan chat mesum, Haikal Hassan terkait kasus mimpi bertemu Nabi Muhammad, hingga tokoh KAMI Syahganda Nainggolan.

Tidak seperti sidang lainnya, ruang sidang dipenuhi dengan bukan hanya pendukung Jumhur, melainkan aparat kepolisian yang siaga di sekitar area pintu masuk ruang sidang Utama Prof H Oemar Seno Adji

“Yang menarik dari profile saksi ini, antara Husein Shihab dan Febrianto Dunggio memang punya relasi dan ada dalam satu organisasi terkait dan berteman dekat. Sehingga ada indikasi bahwa mereka memang melaporkan orang-orang yang sudah ditarget. Ini yang kemudian kita baca dari keterangan yang tadi sampaikan.” ucap anggota tim kuasa hukum Jumhur yang tergabung dalam Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD), Arif Maulana.

Husein sendiri sering tidak menjawab pertanyaan dari tim penasihat hukum dengan alasan “pertanyaan tidak substansial”. Dengan demikian tidak jarang saksi dan penasehat hukum saling berdebat atas sikapnya tersebut.

Alhasil tim kuasa hukum beranggapan saksi yang dibawa oleh Jaksa Penuntut Umum tidak kompeten. Seharusnya, sebagai seorang saksi, Husein tidak dapat menerangkan fakta secara terbuka. Ia justru menutup informasi penting yang dapat membuka tabir dari kasus ini.

“Saksi fakta seharusnya adalah saksi yang melihat, mendengar dan mengetahui. Namun, tadi di persidangan justru membicarakan terkait pandangan dia pribadi. Pun, di Berita Acara Pemeriksaan (BAP), banyak sekali jawaban-jawaban saksi fakta tersebut yang berdasarkan pandangan dirinya.  Jadi dia tidak punya kapasitas sebetulnya,” jelas Okky, salah satu advokat TAUD.

Sidang pelaporan M. Jumhur Hidayat atas berita bohong (hoax) terkait UU Omnibus Law berlanjut pada Kamis, 5 Maret 2021. Kali ini, agenda sidang adalah pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum yakni Husein Shihab.

Senada dengan pengacaranya, Jumhur juga menganggap bahwa saksi tidak memiliki kapasitas dalam bersaksi di pengadilan. Husein dianggap tidak dapat mengkorelasikan penjelasannya secara utuh sebagai saksi. Jumhur bahkan mencurigai bahwa Husein dan Febrianto adalah orang suruhan. Karena, ucapan yang dikeluarkan oleh mereka sama persis dengan kata-kata di BAP.

Persidangan akan dilanjutkan pada tanggal 8 Maret 2021. Untuk memeriksa saksi fakta dari Jaksa. Hingga kini, Jumhur dan pengacaranya masih belum dapat bertemu satu sama lain untuk membahas perkaranya.