Insiden penembakan di Intan Jaya, Papua masih terus terjadi Papua. Kondisi keamanan pun masih mencekam hingga warga tak berani beraktivitas.

Pendeta Timotius menyebutkan sejak Maret setidaknya sudah ada satu warga Intan Jaya yang meninggal di tangan tentara di Kampung Titigis, Distrik Sugapa. Ia menyebutkan orang tersebut mengalami gangguan jiwa dan korban salah tembak. 

“Mereka (tentara)  kira itu OPM (Organisasi Papua Merdeka),” kata Timotius kepada Hakasasi.id melalui telepon pada, Kamis (4/3). 

Sabtu (6/3), Suara Papua  melaporkan penembakan oleh aparat TNI yang menewaskan  seorang pemuda bernama Melianus Nayagau di Kampung Puyagia, Distrik Sugapa. Sementara itu, pemicu insiden ini masih belum dipastikan.

Selain itu terbatasnya akses komunikasi membuat beberapa informasi mendapat konfirmasi sepihak. Misalnya saja kasus penembakan tiga orang di Puskesmas Sugapa, TNI menyebutkan bahwa mereka adalah bagian dari organisasi separatis. 

Salah satu sumber hakasasi.id yang tidak mau disebut namanya menyebutkan ketiga korban penembakan itu merupakan warga sipil korban salah tembak. Sumber itu juga mengaku sebagai saksi langsung kematian tiga warga di tangan tentara di sebuah puskesmas.

“Mereka (korban) bukan lari, mereka dibunuh di puskesmas,” ucap dia membantah penjelasan pihak TNI. 

Sebelumnya TNI mengklaim satu dari tiga warga yang meninggal tersebut merupakan anggota Kelompok Kriminal Berencana yang terlibat dalam baku tembak dalam sebuah penyerangan di Distrik Hitadipa, pada Februari lalu. Ia pun sempat ditembak tentara karena hendak kabur saat diperiksa sebelum dirawat di puskesmas. Dua warga korban tewas lainnya disebut tentara membantu terduga anggota KKB tersebut untuk kabur dari puskesmas. 

iNewsPapua.id melaporkan menurut catatan Polres Intan Jaya, sejak Februari setidaknya sudah terjadi 23 kasus penembakan, penganiayaan dan perampasan senjata api. Tercatat sudah ada  10 korban jiwa dari kalangan warga sipil.

Rentetan insiden penembakan ini menyebabkan trauma mendalam bagi warga. Insiden yang melibatkan Tentara Nasional Indonesia dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)  tersebut menyebabkan ratusan warga terpaksa mengungsi dan menyebabkan mereka sulit untuk melanjutkan kehidupan seperti sedia kala. 

“Ketegangan itu betul-betul (membuat) takut sekali. Jadi sampai hari ini memang tidak bisa beraktiftas,” sumber yang sama. 

Isu Blok Emas

Sebelumnya,  Ketua Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya, Haris Azhar, menduga insiden di Intan Jaya tak lepas dari kepentingan pengelolaan emas di Blok Wabu. Blok Wabu diketahui merupakan daerah dengan potensi sumber daya alam emas.  Blok ini merupakan bagian dari wilayah kontrak karya Freeport Indonesia pada 1991. Diperkirakan Blok ini menyimpan potensi 8,1 juta ons emas.

Adapun sampai penyerahan kembali blok  tersebut kepada pemerintah Indonesia pada 2015, Freeport Indonesia belum pernah melakukan eksploitasi. Haris yang juga Pengacara Kantor hukum dan HAM Lokataru ini menuturkan aparat terus dikirimkan ke wilayah tersebut. 

“Aparat dikirim terus, bertambah. Sementara dialog damai tak didengar“

Haris Azhar , Ketia Tim Kemanusiaan Untuk Intan Jaya