Tekad dan keberanian perempuan menuntut kesetaraan hak, menghentikan kesewenang-wenangan, hingga menolak perang telah mengubah rona sejarah dunia. Perjuangan ini diakui melalui peringatan Hari Perempuan Sedunia setiap 8 Maret. 

Tonggak peringatan ini memiliki sejarah panjang, dimulai dari aksi demonstrasi 15.000 perempuan di New York, AS menuntut peningkatan standar upah dan pemangkasan jam kerja pada 1908. Setahun kemudian Partai Sosialis AS mendeklarasikan momentum demonstrasi itu sebagai Hari Perempuan Nasional.

Sedangkan di Eropa, seorang perempuan bernama Clara Zetkin menyampaikan saran perayaan hari perempuan dalam Konferensi Perempuan Pekerja Internasional di Kopenhagen, Denmark pada 1910. Ide ini disepakati dalam konferensi 1911 untuk memperingati Hari Perempuan Internasional di Austria, Jerman, Denmark, dan Swiss.

Saat Perang Dunia I berkecamuk, perempuan Rusia menggelar aksi damai menentang perang pada 8 Maret 1913. Tanggal yang sama terus menjadi hari aksi seluruh negara untuk menjadi penanda advokasi kesetaraan gender. PBB pun mengakui hari itu sebagai Hari Perempuan Internasional pada 1975. 

Kini para perempuan masih tercatat tak ragu mempertaruhkan keselamatannya dalam aksi berbagai demonstrasi. Kekerasan aparat membuat mereka luka, cacat, hingga kehilangan nyawa. Ini beberapa kisah mereka di beberapa tahun belakangan:

Lubang Peluru di Kepala Ma Kyal Sin

Demonstran Myanmar

Kudeta Militer Myanmar sejak Februari 2021 membuat kondisi negara itu kacau balau. Rakyat menolak aksi kudeta itu melalui aksi demonstrasi hingga setidaknya 38 pengunjuk rasa tewas dalam aksi tersebut. Salah satunya Ma Kyal Sin atau yang dikenal sebagai Angel, seorang perempuan berusia 19 tahun yang tertembak tepat di kepala oleh polisi Myanmar pada Rabu, 3 Maret 2021. 

Ia tertembak saat tengah menyuarakan protes bersama dengan ribuan demonstran lainnya di jalanan Kota Mandalay. Kematiannya menyebar cepat di kanal media sosial dan memunculkan banyak simpati dari masyarakat global. 

Kasus ini pun membuka lebar mata dunia terhadap kudeta yang tengah dialami oleh Negeri Pagoda Emas ini. Angel berdiri di atas kakinya untuk memperjuangkan keyakinannya akan perubahan di negaranya. 

Angel yang tahun lalu baru merasakan pemilu pertamanya, mati-matian mendukung demokrasi dan pemerintahan sipil partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, yang ia yakini dapat memberikan perubahan. 

Bukan kali pertama perempuan turun ke garda depan demi menyuarakan perubahan dan menjadi simbol dari pergerakan itu sendiri.

Peluru Polisi di Mata Veby Mega Indah

Demonstrasi di Hongkong

Aksi demokrasi berkelanjutan yang berlangsung di Hongkong terkait rancangan undang-undang (RUU) Keamanan Nasional menelan ratusan korban dan perempuan pun tak luput jadi sasaran.

Veby Mega Indah, seorang jurnalis asal Indonesia yang bekerja di Suara Hongkong News harus merelakan matanya yang terkena tembakan dari polisi saat tengah meliput tindak agresif aparat di Jembatan Gloucester Road di kawasan Wan Choi pada 29 September 2019.

Kejadian ini menuai banyak protes dan tuntutan dalam dunia jurnalistik. Pasalnya, polisi telah melakukan pelanggaran etika jurnalistik. Terlebih saat itu, Veby sudah menunjukan identitasnya sebagai seorang jurnalis. 

Selain itu, seorang paramedis perempuan (hingga saat ini dirahasiakan namanya) pun harus tertembak di Tsim Sha Tsui Distrik Kowloon. Ia dilarikan ke rumah sakit Queen Elizabeth dan melangsungkan operasi untuk matanya yang kemudian ditutup dengan eye patch. 

Paramedis perempuan ini pun langsung menjadi simbol dari para demonstran yang dikenal dengan gerakan pro-demokrasi

An eye for an eye”. 

Kematian Misterius Daniela Carasco (La Mimo)

Badut Perempuan Simbol Pergerakan di Chile kontra Pinera

Daniela Carrasco adalah seorang seniman dan aktivis asal Chile yang meninggal dalam rangkaian protes terhadap pemerintah. Tubuhnya ditemukan tergantung di André Jarlan Park, Pedro Aguirre Cerda, pada 19 Oktober 2019. 

Kematiannya memicu perdebatan panjang, sebab sebagian besar pihak percaya bahwa aparat bertanggung jawab atas kejadian ini dan pihak lainnya memilih percaya bahwa Daniela meninggal karena bunuh diri. 

Kedua spekulasi tersebut muncul karena Daniela selama hidupnya begitu aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan protes terhadap pemerintah. Kematiannya dianggap sebagai sebuah pesan atau ancaman bagi para perempuan yang ikut turun ke jalan. 

Hingga saat ini penyelidikannya masih terus berlangsung dan sosok Daniela yang kerap mengenakan riasan badut dalam setiap aksi protes telah menjadi simbol bagi masyarakat Chile dalam aksi demokrasi.