“Aku teriak-teriak. Aku bilang ‘kepalaku sakit dok’…”

Perjalanan kasus malpraktik yang menimpa Yuliantika memasuki babak baru. Kamis lalu (4/3), ia mengikuti sidang pemeriksaan keterangan pengadu, saksi, dan penyerahan alat bukti yang diadakan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia secara virtual. 

Ia pun mengaku tak ada persetujuan dari diri dan keluarganya untuk menjalani operasi itu. Selain itu dokter pun tak menjelaskan kenapa ia tidak melalui persalinan normal.

Yuli berstatus sebagai saksi korban pada sidang yang dipimpin tiga majelis kode etik tersebut. Kini ia mengalami kelumpuhan pada bagian bawah perut hingga kaki akibat malpraktik tersebut, terpaksa mengikuti sidang secara virtual dari rumahnya di Pamulang, Ciputat, Tangerang Selatan. 

Majelis Sidang Disiplin setidaknya mengajukan delapan pertanyaan seputar operasi sesar dan prosedur suntik bius yang dilakukan dr. Elizabeth Poluakan yang berujung pada kelumpuhannya tersebut.

Ketua Majelis Sidang Disiplin Wahyu Widodo bertanya kepada Yuli alasan rumah sakit melakukan operasi sesar kepada dirinya. 

“Saya kurang tahu kenapa saya di-sesar,” jawab Yuli. 

Ketua majelis sidang disiplin juga bertanya terkait prosedur pemberitahuan risiko operasi sesar kepada Yuli. Yuli pun menjawab tak diberikan penjelasan apapun terkait risiko operasi sesar tersebut. “Enggak, enggak dijelasin,” jawab Yuli.

Kepada majelis sidang disiplin, Yuli menjelaskan berapa suntikan anestesi yang dihujamkan Elizabeth ke tubuhnya. Kata Yuli, setelah suntikan berkali-kali tersebut Yuli hanya bisa berteriak kesakitan. Rasa sakit pun sampai menyerang bagian tubuh lain yang bukan menjadi tujuan bius.

“Aku teriak-teriak. Aku bilang ‘kepalaku sakit dok’,” kata Yuli.

Kurang dari 10 menit, majelis sidang disiplin pun menutup sidang. Sidang disiplin dokter ini merupakan rentetan kasus malapraktik yang menimpanya di RS Buah Hati Ciputat pada 2020 lalu. 

Februari 2020 silam, diketahui Yuli hendak melahirkan putri pertamanya di RS Buah Hati Ciputat. Namun, tanpa sepengetahuan sang suami dan dirinya, Elizabeth selaku dokter anestesi menerapkan prosedur operasi sesar. Yuli pun diberikan suntikan bius hingga berkali-kali yang menyebabkan dirinya lumpuh. 

Yuli yang sebelum operasi bekerja sebagai petugas di sebuah apotek di Ciputat tersebut, kini harus kehilangan sumber pendapatannya karena kelumpuhan yang dideritanya.