Seorang warga Kecamatan Umalulu yang buta, Domu Hamani (68), hidup terkepung oleh kebun tebu milik PT. Muria Sumba Manis (MSM), perusahaan Grup Djarum. Kakinya harus menjejak lahan tebu tanpa petunjuk mata untuk mencari makan. 

Lelaki tua buta itu tinggal di atas Bukit Laikalinja, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur. Tiap hari ia harus melangkah menuruni bukit membelah kebun tebu untuk menuju kebunnya di kaki bukit. Kontur perbukitan memaksanya harus ekstra hati-hati menjejak tanah. 

Sejak medio 1950-an ia tinggal di bukit itu tapi empat tahun lalu PT. MSM menyulap sabana di bukit itu menjadi kebun tebu. Domu pun kehilangan tempat untuk menggembala ternaknya. Ia bertahan tak mau melepas rumahnya untuk menjadi bagian dari kebun tebu. 

Ia bertahan hidup bersama istri dan delapan orang anaknya di sebuah rumah kayu berukuran 6×7 meternya. Kebun yang menghidupinya hanya beberapa petak tanah di kaki bukit yang tersisa, tempat mencari hasil bumi  seperti kelapa, jagung,  atau pisang untuk kebutuhan sehari-hari. 

Kehadiran. PT MSM memang berdampak serius bagi warga Sumba Timur lantaran mengubah cara hidup warga. Tokoh pemuda setempat, Dominggus Mboni, menyebutkan perusahaan itu telah menggerus kehidupan tradisional di tempatnya.

“Tadinya punya ternak, tapi sekarang lokasinya sudah sempit”

Domu Hamani

Dulu Domu dan warga lain bebas beternak kini mereka terhimpit kebun tebu dan hanya mencari makan dari tanah-tanah tersisa. Mereka terpaksa meninggalkan cara beternak untuk bertahan hidup. 

“Dengan kehadiran PT MSM di sini beliau (Domu) ini merasa terganggu,  tidak bebas,  karena dikelilingi oleh aktivitas perusahaan. Kiri kanan dibuka,  di belakang juga sudah tebing ke bawah.  Sudah tidak bebas lagi berternak dan berkebun di sini,”

(Dominggus Mboni, menerjemahkan ucapan Domu Hamani)

Tak hanya mengubah cara warga mengelola hasil bumi, laporan investigasi Kantor Hukum dan HAM Lokataru juga menemukan pembangunan embung milik PT MSM di Desa Patawang, Kecamatan Umalulu juga merusak situs adat agama Marapu yang dianut sebagian warga Sumba Timur. 

Situs adat yang rusak adalah Katuada Njara Yuara Ahu yang memiliki arti penting bagi keyakinan itu. Mereka menganggap tempat suci itu sebagai situs pelindung padang penggembalaan ternak.

Belum lagi ditambah kriminalisasi yang dilakukan perusahaan kepada tiga warga kelompok masyarakat hukum adat Umalulu yang menjaga tanahnya yang diklaim perusahaan.