Saksi pelapor Jumhur Hidayat, Aby Febryanto Dunggio, dikenal sering melapor hal-hal viral ke media sosial. Ia mengaku merasa resah dianggap kuli usai membaca kicauan Jumhur soal UU Cipta Kerja atau Omnibuslaw. 

Persidangan kasus dugaan penyebaran berita bohong memasuki tahap pemeriksaan saksi pelapor, Aby Febryanto Dunggio, pada Kamis 25 Februari lalu. Ia mengaku melaporkan Jumhur lantaran resah setelah membaca kicauan ketua Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) itu. Menurut dia cuitan Jumhur membuat keresahan kepada masyarakat dan berpotensi menimbulkan pro dan kontra.

Jumhur kala itu menyebutkan Omnibuslaw membuat semua orang Indonesia menjadi kuli di bangsa sendiri. Padahal, menurut Febrianto kenyataanya bukanlah kuli sehingga ia laporkan cuitan tersebut.

“Padahal saya bukan kuli,” ucap dia di muka persidangan. 

Nama Aby sendiri tak asing dalam urusan melapor kan cuitan atau status media sosial yang viral ke polisi. Mengutip Okezone, Aby melaporkan Giselle dan pria berinisial MYD terkait penyebaran video syur serta melaporkan Refly Harun di Video bersama Sugi Nur Rahardja alias Gus Nur. Ia juga kuasa hukum pemohon dalam kasus dugaan chat mesum Habib Rizieq Shihab. 

Febri sendiri saat ini merupakan Ketua Umum Aliansi Pejuang Muda Indonesia (APMI). Dalam kesaksiannya ia melakukan diskusi dengan rekan-rekannya sebelum melakukan pelaporan ke polisi. 

Jumhur pun menanggapi kesaksian ini, menurutnya saksi pelapor tidak memiliki kapabilitas untuk melaporkan dirinya atas kasus yang saat ini dijalankan. Ia tidak punya kapasitas untuk menilai bahwa cuitannya salah, karena membaca Omnibus Law pun tidak. 

“Saya menganggap kapasitas saksi ini seperti office boy. Dan keterangannya tidak bisa punya nilai informasi apapun,” ungkapnya di pengadilan

Persidangan ini sendiri dijalani oleh Jumhur secara virtual. Kuasa Hukumnya berkali-kali merasa keberatan dengan gelar sidang virtual ini karena merasa pembelaan saksi tidak maksimal.