Tiga mahasiswa Universitas Lancang Kuning, Riau, dikeluarkan setelah melakukan protes terhadap rektorat. Pemberhentian ini memperpanjang daftar represi kampus terhadap mahasiswa yang kritis.

Tiga mahasiswa itu adalah Cep Galih Permana,  George Tirta Prasetyo,  serta Cornelius Laia. Mereka menggelar aksi demonstrasi atas kebijakan kampus terkait pembuangan skripsi dan penebangan pohon di Universitas Lancang Kuning, Riau pada akhir 2020 lalu. George saat itu menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM Dewan Mahasiswa.

Menurutnya rekan-rekannya merasa ada ketidakjelasan di balik pembuangan skripsi dan penjualan kayu hasil penebangan pohon tersebut.

“Nah kita enggak tahu dijual untuk apa,” kata George kepada Hakasasi.id.

George mengacu Pasal 28 Undang-undang Tentang Kearsipan Tahun 2009 yang menyebutkan soal pengelolaan arsip di perguruan tinggi yang bisa disingkirkan berusia 10 tahun atau lebih.  Namun,  skripsi yang dibuang dan dijual justru berusia kurang dari 10 tahun. “Nah masalahnya skripsi yang dibuang itu tahun 2018, 2016, 2019 “ kata George. 

Selama ini pihak rektorat mengklaim skripsi-skripsi yang disingkirkan bakal dimuat dalam di platform pengarsipan digital.  Hanya saja,  platform pengarsipan kampus itu hingga kini belum terealisasi. 

Selain pembuangan skripsi, mahasiswa juga menemukan kejanggalan penebangan pohon-pohon pada lahan kampus yang dimiliki Pemerintah Provinsi Riau. Pohon-pohon yang ditebang pun dijual pihak kampus. George dan rekan-rekannya pun tak menemui kejelasan atas uang hasil penjualan pohon-pohon yang ditebang. 

Audiensi dengan pihak rektorat pasca aksi demonstrasi pun tak memuaskan dan berujung pada protes mahasiswa. George pun sempat melaporkan masalah ini kepada Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah 10 untuk Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau. 

Namun akibat protes tersebut Galih, George, dan Cornelius menjalani sidang etik dan dianggap melanggar peraturan mahasiswa. Alhasil pada 18 Februari ketiganya diberhentikan sebagai mahasiswa. 

Kasus pemberhentian mahasiswa ini Universitas Lancang Kuning menunjukkan represi perguruan tinggi terhadap sikap kritis mahasiswa. Beberapa mahasiswa di daerah lain juga mengalami tekanan sama ketika melakukan protes terhadap kampus, beberapa mendapat surat peringatan, skorsing, hingga dipaksa mengundurkan diri.