Pemutusan pembayaran BPJS Kesehatan buruh PT Smelter sebelum PHK diputuskan merenggut nyawa seorang bocah. Anak itu terlambat ditangani karena tanggungan iuran BPJS disetop perusahaan secara sepihak. Keluarganya mencari pinjaman tapi bocah itu sudah berpulang. 

Rohman Rumiyadi sadar hidup mati anaknya, Alifia Zharfani Afiyah, pada Selasa malam 21 Februari 2019 lalu bergantung pada kegigihannya mencari uang menutup biaya BPJS Kesehatan. Anak itu berada di kamar perawatan rumah sakit setelah seharian menolak makan dan minum. Upayanya tak berhasil sehingga anaknya terlambat ditangani dan meninggal.

Livia, nama sapaan Alifia Zharfani Afiyah, mengidap cerebral palsy, kelainan otak yang disebabkan gangguan perkembangan otak ketika di janin. Ia harus mendapatkan perawatan dan terapi setiap bulannya. Tetapi rezeki Rohman sedang cekak di masa-masa kritis. 

Usia Livia memang diprediksi tak berumur panjang. Dokter mengatakan ia hanya akan hidup tidak lebih dari 25 tahun setelah divonis cerebral palsy. 

Saat itu sendiri Livia kondisi drop di hari itu sehingga ia buru-buru membawa gadis kesayangannya tersebut ke Puskesmas. Tetapi fasilitas kesehatan tingkat pertama itu tak memiliki fasilitas yang mumpuni untuk merawat Livia, dokter Puskesmas pun langsung mengarahkannya ke Rumah Sakit untuk perawatan lebih lanjut.

“Sebelum saya ke RS, saya pastikan dulu ke Alfamart berapa tagihan saya untuk mengaktifkan BPJS saya. Setelahnya saya kemudian mencari uang untuk membayar tagihan saya tersebut,” Ungkap Rohman mengingat malam kelam itu.

Rohman sendiri adalah mantan buruh PT. Smelter di Gresik, Jawa Timur. Ketika masih bekerja di perusahaan itu, dulu beban biaya kesehatan Livia sebagian ditanggung oleh asuransi perusahaan. 

Beruntung, Rohman dapat menggunakan asuransi kesehatan yang disediakan oleh perusahaan untuk membayar terapi anaknya. Meski, tidak dibayarkan sepenuhnya, Rohman masih dapat menyisihkan gajinya untuk membayar biaya sisa terapi anaknya.

Hari Senin sampai Jumat, ia memakai asuransi yang disediakan oleh perusahaan. Sedangkan Sabtu dan Minggu menggunakan biaya pribadi.

Nasibnya berubah ketika bergabung dengan rekannya mengikuti aksi mogok lantaran perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara buruh dengan perusahaan berujung deadlock. Dirinya mengaku bahwa, ia tidak menyangka bahwa permasalahan ini berujung panjang.

“Saya kira, permasalahan ini hanya berlangsung sekitar satu sampai dua bulan. Saya tidak menyangka menjadi panjang seperti ini,” ungkap Rohman.

Sang istri menanyakan tentang terapi Livia akan dilaksanakan jika Rohman ikut mogok. Namun kala itu sebelum ada keputusan PHK yang sah, perusahaan telah mencabut fasilitas kesehatan yang diterima oleh para karyawan yang mogok kerja. Sehingga, Rohman pun mulai mengambil berbagai macam pekerjaan untuk membayar terapi anaknya tersebut.

“Mulai dari ngojek, sampai tukang panggul bata saya lakukan demi memenuhi kebutuhan makan saya dan juga terapi anak saya,” ujar Rohman.

Jika ada rezeki untuk empat kali terapi, maka di minggu itu Livia akan melakukan terapi selama empat kali. Jika hanya ada rezeki untuk sekali terapi, maka terpaksa ia hanya membiayai sekali terapi anaknya. Biaya terapi yang dikeluarkan Rohman tidaklah sedikit. Uang sejumlah Rp 1,3 juta harus dikeluarkan setiap bulan demi kesehatan anak sulungnya itu.

Perusahaan pun tidak memberi tahu soal hak Rohman tentang bagaimana BPJS Kesehatan digunakan. Ia mengaku, perusahaan hanya memberikan kartu BPJS kepadanya dan tidak ada kelanjutan setelahnya.

“Perusahaan juga tidak memberitahu mengenai hak saya kalau setelah enam bulan di PHK, perusahaan masih menanggung pembiayaan BPJS saya.”

Akibat biaya mahal yang harus dikeluarkan oleh Rohman, lama-kelamaan dirinya pun semakin terlilit utang. Kondisi ini lantas memaksa Rohman mendaftarkan BPJS mandiri. Namun, BPJS Mandiri tidak memberikan fasilitas seperti asuransi perusahaan yang sebelumnya diberikan.

“Dua atau tiga hari (terapi) tergantung dari vonis dokter. Jika dokter menyarankan saya harus tiga hari ya saya bisa terapi tiga hari. Kalau dua hari, ya dua hari,” ucap Rohman.

Meski usaha Rohman dalam mencari biaya untuk terapi anaknya begitu keras. Namun, takdir harus berkata lain, Livia meninggal. Hingga kini Rohman belum membayar angsuran BPJS Kesehatan mandirinya karena cekak rezeki.