Yulius Ndena dulu biasa ikut menyerahkan sesaji berupa daun sirih, pinang, dan hewan korban di tengah empat batang pohon rindang yang berdiri di padang rumput Desa Patawang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, NTT. Sesaji itu biasa diletakkan di akar pohon yang menonjol di muka tanah. Tapi sekarang padang rumput di sekitar menyisakan lubang embung, batu dan tanah berserak di tempat meletakkan sesaji.

Tempat itu disebut Katuada Njara Yuara Ahu, tempat sakral bagi penghayat Marapu. Warga adat Sumba Timur dengan marga Mbarapappa, Lamuru, dan beberapa marga lain bisa meletakkan sesaji. Rusaknya situs itu membuat Yulius, yang bermarga Lamuru, marah.

Lubang itu embung itu digali oleh PT Muria Sumba Manis (MSM) untuk perkebunan tebu. Timbunan tanah dan batu di tengah Katuada Njara Yuara Ahu adalah tanah kerukan embung itu.

“Masuknya PT MSM (Muria Sumba Manis) ini langsung bongkar batu yang leluhur punya, yang mana tidak boleh dipindah.”

Ritual Adat Marapu

PT MSM adalah perusahaan perkebunan tebu yang tengah menggarap lahan-lahan di Sumba Timur. Kedatangan perusahaan ini dipandang warga masyarakat hukum adat setempat  mengganggu keberadaan situs-situs suci di tanah itu. 

Merusak tempat itu sama halnya dengan merusak ibadah Marapu. Katuada Njara Yuara Ahu memiliki arti penting bagi keyakinan itu. Mereka menganggap tempat suci itu sebagai situs pelindung padang penggembalaan ternak, pekerjaan kebanyakan warga di Patawang. 

Pemujaan dilakukan dengan menggunakan tugu pemujaan atau katuada, benda-benda pusaka,  atau sesaji. Pada Katuada Njara Yuara Ahu terdapat sebuah tempat suci sebagai wadah sesaji yang disebut Kanotu, yang diisi Kawadak atau sesaji berupa irisan emas. 

Laporan investigasi Lokataru menyebutkan setelah terjadi pembangunan embung Kanotu tersebut hilang karena tertimbun puing-puing sisa pembangunan. 

Jalannya ritual adat pun terganggu akibat rusaknya situs. Kerusakan di situs padang mengganggu susunan keseluruhan upacara besar tahunan yang mana dilakukan di ritual tahunan berawal dari situs di pantai, padang, dan hutan.

“Itu biasa  liturgi-nya dari muara atau pantai baru naik ke padang, semacam jalan salib begitu, jadi satu  rangkaian.Kalau satu sudah dirusak berarti tidak jadi itu liturgi”

Umbu Rentang, (warga adat dari marga Lukuwalu)

Akibat rusaknya situs adat,  pada 2019 marga Mbarapapa sempat melaporkan MSM dengan dugaan penistaan tempat agama Marapu dengan perusakan.  Selain itu, marga Lukawulu melaporkan PT MSM dengan dugaan penistaan pemusnahan katoda. 

Rusaknya situs ini diratapi Yulius dan juga warga dari marga-marga lain. Kala lahan diambil,  sementara situs adat dirusak.

“Kami seperti kehilangan sejarah dari leluhur kami,” kata Yulius.