Adi Santoso kini menjadi supir ojek online

Buruh korban PHK PT. Smelting Gresik mencoba segala peruntungan untuk menyambung hidup. Ada yang apes karena tak kunjung dapat pekerjaan, ada yang bekerja ala kadarnya, dan ada yang bikin perusahaan sendiri. Rasa senasib mempersatukan mereka untuk saling bantu.

Adi Santoso merasai urusannya dengan perusahaan tempatnya bekerja PT Smelting tak menemui ujung. Berbulan-bulan usai melakukan mogok kerja bersama rekan-rekannya ia justru kena PHK dan berurusan dengan gugatan pengadilan. Jalan tak ada ujung ini membuatnya berpikir untuk jaga-jaga cari pemasukan lain selain jadi buruh. 

“Saya dan kawan-kawan mengira persoalan ini akan usai dengan jangka waktu yang sebentar. Awalnya belum terpikirkan untuk mencari pekerjaan lain, setelah itu uang tabungan saya lama-lama menipis. Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut mendaftar ojek online dengan mencicil mobil Toyota Calya,” jelas pria berusia 42 tahun ini. 

Ia dan beberapa rekannya pun kemudian menggantung hidup di belakang setir sebagai ojek online. Mereka masih saling komunikasi dan membuat sebuah komunitas driver gojek. Setiap hari komunitas ini saling berbagi tips dan bantuan agar dapat membantu sesama dalam mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Pengurus serikat juga memfasilitasi mereka yang bergabung menjadi ojek online ini dengan cara membuat sebuah grup whatsapp. Ada saja informasi yang ditukar, dari cara mendaftar hingga bertukar informasi titik mana saja yang memiliki banyak pesanan.

Meski demikian, aku Adi, penghasilan ojek online ini masih belum cukup. Paling hanya untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum bagi keluarga. Tetapi untuk kebutuhan lain seperti biaya sekolah ia masih harus mengambil dari tabungan pribadinya.

Sejumlah potongan untuk setoran, sepinya pelanggan akibat pandemi memaksa dirinya harus tetap cari akal untuk dapat penghasilan tambahan lain.

Pun demikian Adi mengaku masih beruntung karena tak ada masalah kesehatan sepanjang menjalani rutinitas baru ini. Ia mengaku beberapa kawannya ada yang harus menanggung biaya kesehatan keluarga.

“Ada teman saya yang bernama Rohman, saat lahir anaknya pertama kali di tahun 2017. Anaknya menderita kelainan di otak dari bawaan lahir. Rohman mencoba untuk memakai fasilitas asuransi kesehatan yang disediakan perusahaan. Tetapi, tidak bisa digunakan. Sehingga ia harus menggelontorkan uang hampir sekitar 3 juta perbulannya,” jelasnya.

Bukan hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga menjadi salah satu dari kesulitan yang menimpa istri dari salah satu eks-karyawan PT Smelting. Kini, istri temannya tersebut harus melaksanakan terapi secara berkala.

“Salah satu kawan saya juga, karena tekanan sosial, istrinya jadi menderita tekanan mental (stress). Sehingga ia kini harus terapi berkala dan karena biayanya yang mahal, harus mendaftarkan BPJS secara mandiri,” ucapnya.

Beberapa rekannya yang lain pun ada yang menempuh cara lain untuk mengais rezeki pasca PHK. Ada yang mencoba mendaftar pekerjaan di perusahaan lain, tetapi rata-rata perusahaan menolak karena mereka tercatat pernah ikut aksi mogok kerja.

Rata-rata perusahaan begitu sudah tahu Adi merupakan karyawan PT Smelting yang ikut aksi mogok, mereka langsung menolak lamarannya meski sudah mencapai tahap interview. Itu juga dirasakan oleh hampir semua ex-karyawan yang lain.

“Bahkan, ada salah satu teman saya yang dia menjadi security di kawasan industri Maspion. Sudah diterima dan berjalan kerja selama sekitar satu-dua bulan. Mungkin pada awalnya perusahaan tidak tahu kalau dia ini ikut aksi mogok. Lalu, pada suatu malam tiba-tiba teman saya itu langsung disuruh pulang dan diberhentikan.”

Unggul Kurniawan, rekan Adi, mencoba peruntungan lain dengan membuka perusahaan kontraktor. Upaya ini berjalan cukup baik dan dapat mengakomodir rekan-rekan yang masih menganggur.

Kantor Usaha Kontraktor Kurniawan Adi

“Pada awalnya, saya bekerja di luar pulau. Namun saat pulang, saya kemudian diingatkan oleh istri saya mengenai bagaimana nasib teman-teman eks-karyawan PT Smelting yang nganggur. Sehingga pada akhirnya dengan menggunakan modal sendiri saya mendirikanlah usaha kontraktor ini,” ucap dia.

Pasca di PHK-nya buruh PT Smelting, perubahan cara hidup yang signifikan tentu terjadi. Buruh-buruh PT Smelting pada awalnya harus bertransisi dalam menjalani kehidupannya kini karena sudah tidak memiliki penghasilan tetap.

“Pada awalnya para buruh ini tentu merasa kesulitan karena harus hidup tanpa adanya pemasukan yang stabil dari gaji mereka,” ucap Indra Sapto, Koordinator Perwakilan Anggota (KPA) PUK PT Smelting.

Tetapi setelah berjalannya waktu, sedikit demi sedikit para buruh mulai kembali menata kehidupan mereka. Baik dengan memanfaatkan keahlian yang mereka peroleh selama bekerja di PT. Smelting, maupun keahlian yang mereka pelajari di luar.